logo


Gawat, Jelang Natal Ada 2.939 Pangan Bermasalah

Sedangkan untuk pangan tanpa izin edar itu meliputi minuman ringan, snack, susu UHT, coklat, dan sirup

22 Desember 2014 15:26 WIB

Razia produk makanan
Razia produk makanan

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dari upaya intensifikasi pengawasan pangan menjelang Natal di sejumlah tempat seperti gudang importir dan retail, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menemukan sebanyak 2.939 item atau 72.814 kemasan pangan tidak memenuhi ketentuan.

Kepala BPOM, Roy Sparingga mengungkapkan, bahwa temuan tersebut masuk dalam produk pangan yang menjadi target pengawasan yakni Tanpa Izin Edar (TIE), produk pangan kedaluwarsa ataupun pangan dalam kondisi rusak. “Serta pangan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) label, termasuk label tanpa bahasa Indonesia," ungkap Roy kepada wartawan, Jakarta.

Roy menjelaskan, nilai ekonomis dari ribuan produk temuan tersebut mencapai lebih dari Rp 2,9 miliar. Berdasarkan data BPOM, terdapat 635 item pangan TIE (21,26 persen), 1.558 item pangan kadaluwarsa (68,18 persen), 551 item pangan rusak (7,2 persen), 192 item pangan TMK label (3,34 persen) dan 3 item pangan dengan label tanpa bahasa Indonesia (0,07 persen).


Soal Vaksin Corona, Menko PMK: Bola Sebetulnya Ada di Tangan BPOM

Menurut Roy, jenis pangan rusak yang paling banyak ditemukan antara lain susu kental manis, ikan dalam kaleng, minuman ringan, susu UHT, mi instan, dan snack. Temuan pangan kedaluwarsa terbanyak adalah minuman ringan, makanan ringan, biskuit, mie instant, kopi, susu UHT, dan susu bubuk.

Sedangkan untuk pangan tanpa izin edar itu meliputi minuman ringan, snack, susu UHT, coklat, dan sirup. Sementara itu, temuan terbanyak untuk pangan tak memenuhi kebutuhan label adalah snack, makanan ringan, madu, mentega dan coklat.

Kegiatan intensifikasi tersebut, tambah Roy, akan terus dilakukan dengan melibatkan lintas sektor dalam pemasukan pangan impor ke Indonesia untuk mencegah peredaran produk ilegal. "Sharing data importir yang sering melanggara secara khusus oleh Ditjen Bea dan Cuka dan lintas sektor untuk pengawasan di daerah pintu masuk," tutup Roy.

Vaksin Sinovac Beri Efek Samping Gangguan Kulit dan Diare, BPOM: Tapi Tidak Berbahaya

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin, Ali Hamid