logo


'Catatan Najwa untuk Papa', Sindiran Najwa Shihab untuk Kasus Novanto

Yang paling bahaya dari korupsi, rakyat tidak percaya pemimpinnya sendiri.<br />Negara digerogoti dari dalam, dihancurkan dengan diam-diam...

3 Oktober 2017 10:55 WIB

dibaca 3369 x

Yang paling bahaya dari korupsi, rakyat tidak percaya pemimpinnya sendiri.
Negara digerogoti dari dalam, dihancurkan dengan diam-diam.

Demokrasi sebatas jalan untuk berkuasa, mengeruk harta demi kroni dan keluarga.
Dari atas panggung bicara manis-manis, dari bawah meja menghisap sampai habis.

Koruptor tak pernah kehabisan cara, jurus-jurus baru terus mengemuka.
Saat KPK sulit untuk dibeli, pilihannya adalah dikebiri.


Cara Unik Usir Nyamuk

Ketika pengadilan tipikor sulit diakali, praperadilan lalu jadi solusi.
Belut memang sukar ditangkapi, apalagi belut yang sanggup mmborong oli.

Papa itu memang luar biasa, dibikinnya semua geleng-geleng kepala.
Walau kita sebenarnya tidak benar-benar terkejut, kepercayaan publik sudah lama menciut.

Teriaklah jika hanya itu yang bisa dilakukan, sembari terus merapatkan barisan.
Semoga kita diberkahi napas yang panjang, hingga kemenangan benar-benar menjelang.

Demikian untaian kata Najwa Shihab dalam video yang sehari lalu diunggahnya di channel Youtube resmi miliknya. Video itu pun diberi nama 'Catatan najwa untuk Papa'.

Bangsa Indonesia di usia ke 72 tahun rupanya belum sepenuhnya terbebas dari penjajahan bernama kolusi dan nepotisme yang keduanya itu berakhir pada tindakan korupi. Ujung dari korupsi pun jelas, yakni memperkaya diri atau kelompok dari harta miliki negara baik berupa AOBN atau pun sumber daya alam lainnya.

Maka pada 2002 silam, tepatnya berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilahirkan sesuai dengan perjuangan reformasi.

KPK sendiri adalah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan mana pun dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.

Karena sifatnya independen, maka KPK pun diatur tindak tanduknya berdasarkan lima prinsip, yakni kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proporsionalitas.

Meski belum bisa dibilang berhasil sepenuhnya memberantas praktek korupsi, setidaknya kehadiran KPK berhasil telah membuat ngeri para pejabat dan politisi busuk yang hendak menyusahkan bangsa ini dengan membagi-bagikan atau pun mengambil kas negara tetapi bukan untuk kepentingan rakyat dan pembangunan.

Belakangan ini muncul upaya-upaya dalam melemahkan KPK. Hal tersebut wajar saja terjadi agar mereka yang selama ini 'makmur' menikmati uang negara bisa terus beraksi meski telah 'kekenyangan'.

KPK tiap kalinya selalu hendak digembosi, khususnya saat sedang mendalami kasus besar yang melibatkan tokoh papan atas dan lembaga tinggi negara. Kali ini kasus yang ditangani KPK generasi pimpinan Agus Rahardjo adalah pengadaan KTP elektronik atau e-KTP yang nyatanya membuat negara rugi hingga Rp 2 triliun.

KPK pun dihajar oleh para wakil rakyat yang kehadiran mereka di Senayan berbekal dari amanah rakyat yang mengidamkan agar Indonesia bebas dari penyakit kronis bernama korupsi.

Pansus pun digelar dan nyatanya setelah 60 hari batas waktu kerja belum juga selesai. Hingga akhirnya, masa kerja Panitia Khusus Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi diperpanjang setelah Rapat Paripurna, Selasa (26/9) lalu, menerima laporan kerja pansus.

Seperti yang disampaikan Wakil Ketua DPR RI asal Fraksi PKS, Fahri Hamzah, saat ini Pansus Angket belum menyelesaikan pekerjaannya sehingga membutuhkan waktu lebih panjang. Karena itu, internal pansus berhak memutuskan untuk terus bekerja melanjutkan pekerjaannya.

Sebelumnya pada, 17 Juli 2017, KPK telah menetapkan secara resmi ketua DPR RI sekaligus ketua umum Partai Golkar, Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Tapi bangsa ini seperti kembali ke era penjajahan setelah Hakim Cepi Iskandar dalam putusannya menyatakan bahwa penetapan tersangka terhadap Novanto adalah tidak sah.

Hakim Cepi dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menilai, terjadi ketidaksesuaian proses atau prosedur yang diambil KPK dalam menetapkan status tersangka untuk Novanto.

"Menyatakan penetapan tersangka Setya Novanto yang dibuat berdasarkan surat nomor 310/23/07/2017 tanggal 18 Juli dinyatakan tidak sah," kata Cepi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (29/9).

Penetapan yang dilakukan oleh termohon untuk menetapkan pemohon sebagai tersangka tidak didasarkan pada prosedur dan tata cara ketentuan perundang-undangan nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," kata Cepi melanjutkan.

Imbas dari putusan itu, mantan anchor berita dan juga pembawa acara Najwa Shihab mengunggah sebuah video kritik yang menggambarkan hal tersebut.

Meski tak lagi bekerja sebagai jurnalis di sebuah televisi berita tak lantas membuat daya kritis Najwa mengendur.

Dalam video yang diunggahnya ke channel Youtube resmi miliknya, Najwa menyayangkan proses penegakan hukum kasus korupsi di tanah air masih tetap lemah. Para koruptor melakukan segala cara dan upaya demi bisa selamat dari jerat hukum, bahkan juga menempuh jalan hukum, seperti yang dilakukan Novanto.

Koruptor dewasa ini dinilai Najwa jauh lebih licin ketimbang belut yang terkenal licin. Bedanya licinnya belut akibat proses alamiah, tetapi koruptor, Najwa mengibaratkan, mereka licin karena sanggup memborong oli.

Di bagian yang lain dari video itu, Najwa menyebutkan upaya yang dilakukan 'sang papa' sangat luar bisa dan harus diacungi apresiasi, tapi negatif. Setelah kerap lolos dari kasus ke kasus, rupanya kesaktian koruptor yang satu ini membuat banyak kepala menggeleng-geleng.

Belum ada yang pernah selamat atau terbebas dari Pengadilan Tindak Pidanan korupsi (Tipikor), maka dari itu ciptakanlah praperadilan agar tak diseret masuk dan duduk sebagai pesakitan.

Di ujung videonya, Najwa meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap melawan korupsi walau hanya sebatas kemampuan untuk berteriak. Semoga kita diberkahi napas yang panjang, hingga kemenangan melawan korupsi benar-benar menjelang.

Berikut video lengkap Najwa Shihab yang diberi judul 'Catatan Najwa untuk Papa'

 

Ditulis oleh: Menulis Sampai Baik

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Novanto Punya Ilmu 'Tekbal' Hukum

Halaman: 
Admin : Syukron Fadillah