logo


Novanto Punya Ilmu 'Tekbal' Hukum

Kasus korupsi PON, kasus suap MK, kasus 'papa minta saham' Novanto kerap selamat dan untuk kasus dugaan korupsi e-KTP, sepertinya ia pun kembali akan selamat.

2 Oktober 2017 12:14 WIB

Setya Novanto.
Setya Novanto. JITUNEWS/Johdan A.A.P
dibaca 3823 x

Mantan anchor berita dan juga pembawa acara, Najwa Shihab baru-baru ini meng-upload video tentang betapa licik, licin dan sulitnya meringkus koruptor kelas kakap di negeri ini.

Meski tak menyebut nama, tapi rasa-rasnya script yang dibacakan Najwa jelas diperuntukan bagi Setya Novanto yang pada, Jumat, 29 September lalu dinyatakan tidak sah status tersangkanya dalam praperadilan terkait kasus dugaan korupsi dalam pengadaan e-KTP.

Salah satu cuplikan dari video tersebut, anak dari kiai kondang Muhammad Quraish Shihab itu menyatakan, "Papa itu memang luar biasa, dibikinnya semua geleng-geleng kepala."


Inspirasi Langka, "Pancasila" Strategi Kepemimpinan

Seperti diketahui, jauh sebelum kasus e-KTP yang menyeret nama ketua DPR RI dan ketua umum Golkar itu, Setya Novanto juga terlibat skandal negosiasi perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia di tanah Papua. Kasus tersebut pun dikenal dengan istilah Papa Minta Saham.

Dari sebuah hasil rekaman suara yang diperdengarkan, terdengar jelas bahwa Setya Novanto (Setnov) memalak 20 persen saham perseroan dan meminta jatah 49 persen saham proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka, Papua pada PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK).

Kasus tersebut pun berakhir begitu-begitu saja tanpa ada pihak yang dijatuhi sanksi atau hukuman. Namun sedianya, kasus tersebut sukses menjungkalkan Novanto sebagai ketua DPR RI sebelum akhirnya kembali menduduki singgasana tersebut pada, Rabu, 30 November 2016 hingga sekarang.

Hingga akhirnya, Senin, 17 Juli 2017, Novanto kembali terlibat kasus hukum yang membuat negara merugi hingga Rp 2 triliun. Dan pada tanggal itulah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Novanto sebagai tersangka kasus pengadaan KTP elektonik atau e-KTP.

Seperti yang disampaikan Tirto.id di halaman elektroniknya, Novanto adalah politisi paling sakti yang sanggup membuat penegak hukum jalannya miring. Sejumlah kasus yang acap kali menyebut ada keterlibatan dirinya, sejumlah itu pula Novanto kerap lolos dari jeratan hukum.

Bahkan mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin sempat berkoar dan meragukan KPK dapat meringkus aksi gelap Novanto dalam urusan memperkaya diri dan golongan.

"Novanto ini saya yakin tidak akan berani (KPK). Ini orang sinterklas. Kebal hukum," begitu ucap Nazaruddin.

"Orang ini namanya tidak ada di mana-mana. Tapi kalau soal bagi-bagi duit di APBN dia (Novanto) yang selalu mengatur di mana-mana. Dan 2000 persen orang ini dilindungi oleh orang-orang yang sangat kuat," ucap Nazaruddin di kesempatan berbeda.

Sedangkan Najwa mengungkapkan dengan istilah lain dari 'kerap selamatnya' Novanto dari jeratan hukum. Dalam video yang diunggah Najwa di channel Youtube resmi miliknya mengatakan,"Belut memang sukar ditangkapi, apalagi belut yang sanggup mmborong oli."

Publik pun sempat gembira saat KPK menunjukan keberaniannya menetapkan Novanto sebagai tersangka dalam kasus pengadaan e-KTP.

"KPK menetapkan saudara SN anggota DPR periode 2009-2014 sebagai tersangka," ujar Ketua KPK Agus Rahardjo di Gedung KPK Jakarta, Senin (17/7).

Sepandai-pandainya tupai meloncat, ia pasti akan jatuh juga. Begitulah perumpamaan dari penetapan tersangka oleh KPK terhadap Novanto. mengingat telah banyak kasus yang melibatkan dirinya namun ia terlalu lihai dan berhasil 'selamat'.

"Orang ini namanya tidak ada di mana-mana. Tapi kalau soal bagi-bagi duit di APBN dia (Novanto) yang selalu mengatur di mana-mana. Dan 2000 persen orang ini dilindungi oleh orang-orang yang sangat kuat," kata Nazaruddin di lain kesempatan.

Bahkan budayawan kondang sekaligus cendikiawan muslim, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ikut menyusukuri jika akhirnya ada yang dipenjarakan dalam kasus e-KTP. Pasalnya, e-KTP telah menjadi kebutuhan primer rakyat Indonesia dan pengadaannya menjadi terganggung karena ulah Novanto dan kolega.

Dalam sebuah kesempatan pertemuan rutin Kenduri Cinta di Plaza Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Emha Ainun Nadjib sebulan lalu sudah menebak bahwa ada politisi licin yang jadi tersangka kasus e-KTP. Hal tersebut disampaikan Cak Nun pada 16 Juni 2017.

Tepat sebulan kemudian, 17 Juli 2017, KPK secara resmi menetapkan Novanto sebagai tersangka di kasus e-KTP.

"Semoga Allah mengabulkan doa kita, kalau sekarang baru satu yang tersangka berarti masih akan ada tersangka lain," harap Cak Nun saat itu.

Cak Nun pun berharap saat itu, dengan ditetapkannya Novanto sebagi tersangka, maka Partai Golkar akan sembuh dari kanker yang selama ini menggerogoti. Cak Nun pun meyakini bahwa partai pohon beringin itu telah melewati fase penyembuhan dan besar kemungkinan baal kembali diterima masyarakat dalam Pileg dan Pilpres mendatang.

"Kanker diambil dokter, biar Golkar jadi sehat. Jangan sampai ada kanker lagi," kata Cak Nun.

Novanto pun mulai grogi dan kehabisan kesaktian dalam menyelamatkan diri dari kasus e-KTP. Maka muncullah skenario 'pura-pura' sakit yang diwakili dengan tersebarnya foto Novanto sedang terbaring lemah di RS Premier Jakarta lengkap dengan alat-alat medis menempel di badannya.

Langkah Novanto itu mungkin menjadi gambaran najwa yang menyatakan dalma videonya, "Koruptor tak pernah kehabisan cara, jurus-jurus baru terus mengemuka."

Sindirian video Najwa kian jelas ditujukan untuk Novanto kala ia menyatakan, "Ketika pengadilan tipikor sulit diakali, praperadilan lalu jadi solusi. Belut memang sukar ditangkapi, apalagi belut yang sanggup mmborong oli."

Ketua DPR Setya Novanto mengajukan praperadilan atas status tersangka dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP. Praperadilan diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Didaftarkan 4 September," kata pejabat Humas PN Jaksel, Made Sutrisna saat dikonfirmasi, Selasa (5/9).

Di sisi lain, rongrongan agar Novanto meletakan jabatan ketua umum terus bergelinding di internal Golkar.

Alih-alih jalan 'sang papa' menuju tempat tahanan atas keserakahannya selama ini kian dekat, publik malah digegerkan atas putusan Hakim Cepi Iskandar yang memutuskan bahwa penetapan Novanto sebagai tersangka oleh KPK adalah tidak sah.

"Menyatakan penetapan tersangka Setya Novanto yang dibuat berdasarkan surat nomor 310/23/07/2017 tanggal 18 Juli dinyatakan tidak sah," kata Cepi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (29/9).

Nyatanya, Novanto masih tetap sakti dan ada kemungkinan dirinya kembali bebas dari tuntutan hukum atas tindakan memperkaya diri dan golongan dengan jalan haram.

Cepi menilai sprindik Novanto sebagai tersangka yang dikeluarkan KPK tidak sah. Ia menilai, KPK tidak menunjukkan proses penyelidikan terhadap Novanto. Selain itu, bukti yang diajukan bukan berasal dari tahap penyelidikan dan penyidikan sendiri untuk perkara Novanto, tetapi dalam perkara lain. Hakim menilai, hal itu tidak sesuai dengan prosedur penetapan tersangka dalam perundang-undangan maupun SOP KPK.

"Penetapan yang dilakukan oleh termohon untuk menetapkan pemohon sebagai tersangka tidak didasarkan pada prosedur dan tata cara ketentuan perundang-undangan nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," kata Cepi.

Akibat penetapan yang tidak sah, majelis hakim memutuskan bahwa surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) terhadap Novanto dianggap tidak berlaku. Pengadilan memerintahkan KPK agar penyidikan terhadap Novanto dihentikan.

Dari drama tersebut, Najwa Shihab merilis sebuah video kritis yang menceritakan tentang betapa merugikannya tindakan pidana korupsi serta kelakuan para koruptor yang kian hari makin menyerupai belut yang licin saat hendak ingin ditangkap. Tapi begitu, Najwa masih optimis bahwa suatu hari nanti, jika masih bisa bernapas, koruptor dan segala jenis trik korupsi bisa dibasmi.

Yang paling bahaya dari korupsi, rakyat tidak percaya pemimpinnya sendiri.
Negara digerogoti dari dalam, dihancurkan dengan diam-diam.

Demokrasi sebatas jalan untuk berkuasa, mengeruk harta demi kroni dan keluarga.
Dari atas panggung bicara manis-manis, dari bawah meja menghisap sampai habis.

Koruptor tak pernah kehabisan cara, jurus-jurus baru terus mengemuka.
Saat KPK sulit untuk dibeli, pilihannya adalah dikebiri.

Ketika pengadilan tipikor sulit diakali, praperadilan lalu jadi solusi.
Belut memang sukar ditangkapi, apalagi belut yang sanggup mmborong oli.

Papa itu memang luar biasa, dibikinnya semua geleng-geleng kepala.
Walau kita sebenarnya tidak benar-benar terkejut, kepercayaan publik sudah lama menciut.

Teriaklah jika hanya itu yang bisa dilakukan, sembari terus merapatkan barisan.
Semoga kita diberkahi napas yang panjang, hingga kemenangan benar-benar menjelang.

Ditulis oleh: Menulis Sampai Baik

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Kali ini, Siapakah Dalang Pembocor Surat Freeport?

Halaman: 
Admin : Syukron Fadillah