logo


Prestasi Indonesia Merosot, Hanura Minta Asian Games Lebih Baik dari Sea Games

Di luar urusan teknis, Dadang mengingatkan bahwa urusan bonus dan honor bagi atlet yang mengukir prestasi di Asian Games 2018 penting untuk dipersiapkan.

12 September 2017 14:19 WIB

Politisi Hanura Dadang Rusdiana.
Politisi Hanura Dadang Rusdiana. Jitunews/Latiko Aldilla DIrga

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menjelang pesta olah raga negara-negara Asia atau Asian Games 2018, evaluasi besar-besaran harus dilakukan demi menjulang prestasi emas bagi Kontingen Indonesia. Seperti diketahui, prestasi Kontingen Indonesia di ajang Sea Games 2017 di Malaysia kemarin menurun drastis.

Jelas iklim kompetitif Asian Games akan jauh lebih sulit untuk dimenangkan ketimbang di ajang Sea Games.

Perhatian atas prestasi olah raga Indonesia mendapat sorotan khusus dari Anggota Komisi X DPR RI asal Fraksi Hanura, Dadang Rusdiana. Ia mengingatkan agar seluruh stake holder terkait bisa menjadikan pelajaran hasil minor Sea Games agar tak terulang.


Lallana Yakin Chamberlain Sukses di Anfield

Termasuk soal paripurna penyelenggaraan agar insiden bendera terbalik yang terjadi di Sea Games Malaysia tak terulang di Asian Games 2018 di Indonesia.

"Kasus bendera Indonesia terbalik oleh Malaysia jangan sampai terjadi. Wisma atlet harus siap, akomodasi dan transportasi harus mendukung. Semua harus cermat dalam penyelenggaraan sebagai tuan rumah,” ujar Dadang kepada awak media yang menemuinya di gedung parlemen, Senayan.

Setidaknya, kata Dadang, ada dua hal kesuksesan yang harus diraih, yakni sukses sebagai penyelenggara dan juga sukses menggapai prestasi. Untuk itu, dalam hal ini Kemenpora, harus bekerja ekstra keras terhadap cabang-cabang olah raga yang menjadi langganan atau pun berpotensi mendapatkan emas.

"Jadi, Sea Games memberikan hikmah kepada kita bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Termasuk satlak prima, apalagi menjelang pesta olah raga se Asia," kata politisi Hanura itu.

Di luar urusan teknis, Dadang mengingatkan bahwa urusan bonus dan honor bagi atlet yang mengukir prestasi di Asian Games 2018 penting untuk dipersiapkan. Setidaknya, pembayaran honor atau bonus yang telat tidak kembali terjadi.

Dadang juga mengingatkan tentang pembinaan atlet, khususnya cabang olah raga unggulan, agar berlangsung secara berjenjang mulai dari tingkatan daerah hingga nasional.

Bahkan sejak usia dini, dan memperbanyak turnamen di daerah. Diharapkan 10 tahun ke depan Indonesia bisa menjadi juara umum lagi. Konsep pembinaan olah raga tidak bisa main cabut, masuk pelatnas diberi uang saku besar lalu ikut turnamen besar.

"Ada persoalan fundamental dan bukan hanya masalah uang. Ini adalah persoalan pembinaan yang memang tidak serius pada cabang olah raga unggulan dan pembinaan berjenjang," sahut Dadang melanjutkan.

Karena itu, evaluasi harus dilakukan termasuk satlak prima. Pengurus olah raga harus berintegritas dan konsep yang jelas, tidak hanya untuk Sea Games dan Asian Games, tapi untuk jangka panjang. Apalagi sudah miliki UU Olah Raga Nasional.

"Dimana pembinaan olah raga itu dilakukan secara berjenjang sampai ditemukan atlet unggulan masuk pelatnas. Saya setuju jika dikembangkan lagi SD hingga SMA Olah Raga semacam sekolah sepak bola Ragunan, sehingga bisa mencetak prestasi di tingkat regional bahkan untuk tingkat internasional," pungkasnya.

Sebagai catatan, prestasi Indonesia di ajang Sea Games mencatatkan rekor buruk. Kontingen Indonesia finis di urutan ke lima pengumpulan medali dengan 38 emas, 63 perak dan 90 perunggu, di bawah Malaysia dan Thailand yang berada di posisi pertama dan kedua.

Indonesia pun kalah produktif dengan perolehan medali yang dimiliki Vietnam (58 emas, 50 perak dan 60 perunggu) dan Singapura (58 emas, 57 perak dan 73 perunggu) yang notabene jumlah penduduknya jauh lebih sedikit.

Manajemen Juventus Dukung Penutupan Transfer Dipercepat

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah