logo


Program IPS Sampoerna Berikan Jaminan Penyerapan Tembakau Hasil Petani Binaan

Sampoerna, melalui perusahaan pemasok tembakau, melaksanakan Program IPS di sentra-sentra penanaman tembakau di NTB, Jatim, dan Jateng

7 September 2017 16:42 WIB

google

LOMBOK, JITUNEWS.COM – PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna), perusahaan tembakau terkemuka di Indonesia, memiliki program Integrated Production System (IPS) atau Sistem Produksi Terintegrasi, yang dapat menjadi solusi atas salah satu permasalahan tembakau di Indonesia, yakni belum maksimalnya serapan tembakau lokal.

Program IPS dilaksanakan dengan adanya kontrak kerja sama antara perusahaan pemasok tembakau dengan petani tembakau.

Dengan adanya program ini, Sampoerna, melalui perusahaan pemasok tembakau, menjamin penyerapan hasil tembakau para petani binaannya selama sesuai dengan standar yang telah disepakati. Melalui program ini, para petani binaan juga memeroleh pendampingan teknis seperti informasi dan bimbingan praktik pertanian tembakau yang baik, serta akses permodalan, baik sarana dan prasarananya.


Ada Agenda Terselubung di Balik Kampanye Anti-Tembakau?

Tak hanya itu, mereka juga diperkenalkan dengan penerapan Praktik Pekerja Pertanian yang bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan adil bagi para petani dan pekerjanya di semua lahan di mana Sampoerna membeli tembakau.

“Kami bersyukur program IPS ini dapat secara berkelanjutan dijalankan di sentra produksi tembakau di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Melalui program ini, kami berharap para petani dapat memproduksi tembakau yang berdaya saing dan efisien, serta memenuhi standar kualitas perusahaan, ketentuan regulasi, serta ekspektasi konsumen,” ujar Head of Fiscal Affairs and Communications Sampoerna, Elvira Lianita dalam keterangannya, Kamis (7/9).

Elvira menjelaskan, ada sekitar 2.700 petani binaan di Nusa Tenggara Barat dengan total lahan sekitar 5.000 hektar. Berkat program IPS, mereka mampu meningkatkan produktivitas hingga 25 persen, sehingga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani.

Para petani peserta IPS juga memperoleh dukungan teknologi, termasuk teknik pembakaran dengan sistem rocket barn yang mampu menghemat konsumsi bahan bakar hingga 16 persen, dan alat aplikasi penghambat tunas yang mampu menghemat waktu pengerjaan hingga lebih dari 60 persen.

Selain Lombok, IPS yang dilaksanakan sejak tahun 2009 juga diperkenalkan kepada para petani di Jember, Wonogiri, Malang, Rembang, Blitar, dan Lumajang. Secara total, ada sekitar 27.500 petani yang telah bergabung untuk menggarap lahan tembakau seluas 24.000 hektar persegi.

"Melalui program kemitraan (IPS) saat ini, Sampoerna perlahan telah meninggalkan sistem pembelian daun tembakau yang berlapis (konvensional – petani non-mitra) dan terus meningkatkan penerapan sistem pembelian dengan kontrak langsung melalui perusahaan pemasok tembakau. Saat ini pembelian daun tembakau dari petani kontrak tumbuh secara signifikan dari 12 persen di tahun 2011 menjadi sekitar 70 persen di tahun ini,” lanjut Elvira

Selain IPS, Sampoerna juga berkomitmen untuk mengatasi isu pekerja anak di lahan tembakau. Sampoerna, misalnya, menginisiasi “After School Program” atau program luar kelas. Ini merupakan program pendampingan yang ditujukan bagi anak-anak usia sekolah dasar untuk dapat mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang positif dan bermakna setelah pulang sekolah.

Tujuan akhir dari program ini adalah untuk mencegah para siswa turut bekerja di perkebunan tembakau bersama orangtuanya. Saat ini, program luar kelas telah menjangkau lebih dari 4.800 murid di 75 sekolah.

Ada pula kelompok belajar komunitas (Community Learning Group atau CLG) yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai isu pekerja anak dan kondisi kerja yang aman bagi petani. Hal ini dilakukan melalui pelatihan keterampilan dan berbagai aktivitas yang dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat lokal. Program ini menjangkau hampir 6.000 penerima manfaat hingga 2017.

Pemerintah Tegaskan RUU Pertembakauan Tidak Perlu Dibahas

Halaman: 
Penulis : Riana