logo


Eranya Sudah Online, UKM Offline Harus Segera Berubah

Sekarang ini eranya networking dan omni-channel. Semua channel digunakan. Selain di marketplace, UKM seharusnya punya onlinse store sendiri.

5 September 2017 11:51 WIB

Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Market Shift atau perpindahan perilaku konsumen belakangan terjadi di tanah air. Kaum milenials kini lambat laun meninggalkan cara transaksi offline ke online. Dari perubahan gaya transaksi tersebut, seketika muncul trending topic akibat turunnya nilai penjualan bisnis retail.

Ujung kisahnya pun bisa ditebak, yakni tutupnya beberapa gerai retail besar di Indonesia.

Beberapa pelaku bisnis offline terlihat cepat bergerak ke online dengan menjadi seller di berbagai marketplace seperti tokopedia, bukalapak, dan sebagainya. Beberapa yang lain terlihat berdiam diri dan lamban dalam menjalani perubahan ini.


Pengusaha UKM di Daerah Berharap Pemerintah Permudah Pengurusan Sertifikasi Halal

Sekarang ini eranya networking dan omni-channel. Semua channel digunakan. Selain di marketplace, UKM seharusnya punya onlinse store sendiri, bisa terima order dan pembayaran di websitenya sendiri.

Ironisnya, sebagian besar para pelaku UKM tidak memiliki dukungan teknologi digital yang memampukan mereka membuka online store yang mampu menerima ePayment di website mereka sendiri.

Terkait hal tersebut, ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, CEO Omega Soft (perusahaan penyedia software) Pendopo menyampaikan, "sebagai komitmen kami yang fokus mendukung dan pemberdayaan sektor UKM nasional, dalam event Franchise Expo di JCC tanggal 8 hingga 10 September mendatang kami akan memperkenalkan produk Smart Cashier dan Omega POS (Point Of Sale) yang merupakan software unggulan bagi UKM di Indonesia. Para pelaku bisnis UKM yang mempunyai offline shop bisa dengan mudah menjadi online shop, dengan biaya yang sangat terjangkau."

Pendopo juga menjelaskan, "software ini terintegrasi penuh dengan stok gudang dan pembayaran online. Para pelaku usaha UKM ini juga akan memperoleh manfaat yang bekesinambungan, karena kami mempunyai divisi research and development yang selalu berinovasi sesuai perkembangan zaman."

Selain itu, terkait software Omega POS, pria berkacamata ini juga memaparkan bahwa hingga kini Omega telah melayani kurang lebih sebanyak 5000 UKM di Indonesia dan bermitra dengan para coach dan mentor untuk sosialisasi software ini lewat program Omega Partnership, mengingat masih banyak pelaku UKM yang belum menggunakan software Omega POS.

"Lewat software terintegrasi penuh ini, kami ingin mengubah anggapan bahwa penggunaan sistem atau software itu mahal tidaklah benar, software yang kami hadirkan tak sekedar cepat dan mudah tapi juga sangat terjangkau," kata Pendopo mengakhiri.

Tips Memilih Ukuran Baju di Toko Online

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah