logo


Pengembangan Potensi Wisata Bahari dalam Meningkatkan Ekonomi Maritim menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

Vivi Juliana Hustin, 2017....

21 Agustus 2017 13:37 WIB

Instagram: Fariz Bagus Pradana (@farizbagusp) / Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Instagram: Fariz Bagus Pradana (@farizbagusp) / Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
dibaca 43864 x

Vivi Juliana Hustin, 2017

Menyandang predikat sebagai negara maritim membuat Indonesia telah menjadi sorotan dunia dengan kepemilikan wilayah laut yang sangat luas. Terlebih, tapak tilas historis bangsa Indonesia sejak berdirinya kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, dan sejumlah Kesultanan Islam di berbagai belahan nusantara menjadikan Indonesia sebagai tujuan para pelayar asing untuk dapat melakukan aktivitas perdagangan di Indonesia.

Sebagai negara maritim, perairan Indonesia terdiri atas laut teritorial, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman yang luasnya kurang lebih 2,7 juta kilometer persegi atau sekitar 70 persen dari luas wilayah NKRI, sedangkan luas daratan kurang lebih 1,9 juta kilometer persegi. Di samping itu, Zona Ekonomi Eksklusif lndonesia (ZEEI) seluas 3,1 kilometer persegi. Dengan kepemilikan wilayah laut yang terbilang luas, bukanlah perkara mudah bagi Indonesia untuk menjaganya, sebab Indonesia sendiri adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau besar dan pulau kecil serta diapit oleh dua samudera dan dua benua.


Open Access Laut Penyebab Pentingnya Melindungi Daerah Konservasi

Perairan laut menjadi suatu hal yang sangat penting disoroti oleh Indonesia, karena perairan laut menjadi jembatan bagi terhubungnya satu pulau di Indonesia dengan pulau lainnya. Kepemilikan laut yang luas tentu menjadi peluang bagi Indonesia untuk dapat memanfaatkannya guna mencapai kesejahteraan rakyat. Namun di sisi lain, kepemilikan akan laut yang luas pun akan menjadi tantangan yang perlu diantisipasi dan dikelola sehingga tidak berdampak kepada kerawanan yang timbul bagi kepemilikan laut itu sendiri.

Keseriusan Pemerintah dalam mengelola dan menjaga wilayah perairan laut di Indonesia tercermin dari misi Presiden Joko Widodo yang ingin mewujudkan Indonesia sebagai negara Poros Maritim Dunia. Dalam mewujudkannya, Presiden Joko Widodo memaparkan lima pilar utama yang akan menjadikan Indonesia mencapai cita-citanya sebagai poros maritim dunia.

Pertama, pembangunan kembali budaya maritim Indonesia; Kedua, komitmen menjaga dan mengelola sumber daya laut dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut melalui pengembangan industri perikanan dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama; Ketiga, komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan laut, logistik, dan industri perkapalan, serta pariwisata maritim; Keempat, diplomasi maritim yang mengajak semua mitra Indonesia untuk bekerja sama pada bidang kelautan; dan kelima, sebagai negara yang menjadi titik tumpu dua samudera, Indonesia berkewajiban membangun kekuatan pertahanan maritim.

Sektor maritim Indonesia sampai saat ini terbilang belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, itu pun masih terfokus pada bidang perikanan saja, karena tidak dapat dipungkiri bahwa ketika mayoritas masyarakat Indonesia berbicara maritim maka yang terlintas di benaknya adalah perikanan. Padahal potensi kekayaan maritim tidak sampai di situ saja, terdapat potensi ekonomi pariwisata bahari, jasa perhubungan, serta energi minyak dan gas bumi.

Meningkatnya ekonomi maritim menjadi salah satu goal yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia, peningkatan tersebut dapat tercermin dari potensi wisata bahari yang dimiliki. Keanekaragaman hayati laut yang tinggi, pesisir laut yang ideal dan strategis, serta iklim tropis yang hangat dengan keberadaan matahari yang bersinar sepanjang tahun menjadi branding mahal bagi para wisatawan (baik lokal maupun asing) untuk dapat mengunjungi wisata bahari di Indonesia. Namun pada kenyataannya, meski memiliki ribuan pulau dengan sumber daya alam bahari yang indah, bukan merupakan jaminan bagi sebuah negara untuk mendapat keuntungan banyak dari bisnis pariwisata maritim.

Ternyata, wisata bahari di Indonesia hanya dapat menyumbang devisa negara sebesar 10 persen dari total devisa sektor pariwisata atau setara dengan US$1 miliar. Jumlah tersebut kalah jauh dibandingkan negara tetangga, yaitu Malaysia yang menyumbangkan 40 persen devisa dengan nilai US$8 miliar. Padahal, kekayaan alam bawah laut Indonesia cukup mumpuni jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, atau pun negara Asia Tenggara lainnya.

Indonesia memiliki 33 destinasi utama penyelaman dengan lebih dari 400 operator, sementara Malaysia hanya punya 11 destinasi dan sekitar 130 operator. Selain itu, pencapaian hasil pembangunan (kinerja) pariwisata bahari Indonesia masih jauh dari optimal. Kinerja pariwisata bahari Indonesia jauh lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga dengan potensi yang lebih kecil, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Fakta tersebut menjadi sangat timpang antara potensi wisata bahari yang mampu memberi peluang untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah negara dengan kenyataan yang sebaliknya. Dan tentu memunculkan sebuah pertanyaan besar, "Mengapa sumbangan devisa Indonesia dari sektor pariwisata belum mampu menyaingi negara tetangga?" Dari kenyataan empiris tersebut, penulis dapat menganalisis berbagai permasalahan yang dihadapi dalam melakukan upaya pembenahan, pengembangan dan pengelolaan wisata bahari di Indonesia.

Yang pertama adalah aksesibilitas ke lokasi wisata bahari yang terbilang rendah dan sulit. Misalnya, buruknya akses untuk transportasi yang jalannya dipenuhi tanah, berbatu, sehingga rawan akan keselamatan. Jangankan berharap wisatawan asing akan mengunjungi lokasi wisata, wisatawan lokal pun tentu akan mempertimbangkan kembali hasratnya apabila akses menuju tempat wisata terbilang sulit. Sehingga dalam hal ini perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan aksesibilitas ke lokasi (destinasi) wisata bahari. Perbaikan tersebut tentunya tidak hanya melibatkan pemerintah, namun setiap stakeholders yang ada seperti sektor swasta (privat) dan masyarakat itu sendiri.

Selain itu, adalah jumlah dan variasi objek wisata (attractions) terbatas, serta kurang mengindahkan daya dukung dan kualitas lingkungan. Hal itu dapat terlihat dari menurunnya kualitas pantai, terumbu karang, dan mangrove. Sehingga perlu melakukan pengembangan produk dengan jenis-jenis wisata bahari baru yang inovatif dan atraktif, yang dapat meningkatkan daya saing dan sustainability. Selanjutnya adalah masalah belum optimalnya promosi dan marketing tentang pariwisata bahari, baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Oleh karena itu, perbaikan dan pengembangan promosi serta marketing pariwisata bahari Indonesia di dalam negeri maupun mancanegara menjadi sangat penting. Hal tersebut dapat dilakukan secara gencar melalui promosi global dengan menjadikan Indonesia sebagai ikon pariwisata dengan cara 'menjual' kekayaan bawah laut atau terumbu karang yang dimiliki.

Terakhir adalah kebijakan politik-ekonomi (seperti moneter, fiskal, keamanan melakukan usaha, dan konsistensi kebijakan pemerintah) yang belum begitu kondusif bagi tumbuh-kembangnya pariwisata bahari. Padahal, potensi wisata bahari yang baik dapat menjadi peluang bagi para investor untuk dapat menanamkan modalnya sehingga penciptaan iklim investasi dan politik-ekonomi yang kondusif tentu akan berpengaruh terhadap kinerja pembangunan pariwisata bahari itu sendiri.

Adalah sebuah kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam upaya mengelola dan menjaga wilayah perairan laut yang dimiliki. Potensi bisnis wisata bahari yang baik dengan pengembangan optimal dapat berimplikasi terhadap pertumbuhan devisa Indonesia dari sektor pariwisata. Negara Indonesia sudah semestinya menatap ekonomi maritim, sebab apabila ditelaah, perekonomian yang ada di darat sudah semakin pelik. Peningkatan ekonomi maritim tentu akan membawa Indonesia menjadi bangsa bahari yang sejahtera dan berwibawa serta menjadi salah satu pilar yang kemudian akan mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Referensi:

Admin. 2015. Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia. Website Resmi Presiden Republik Indonesia: http://presidenri.go.id/maritim/indonesia-sebagai-poros-maritim-dunia.html, diakses pada 9 April 2017

Poerwanto, Endy. 2016. Wisata Bahari, Besar Potensi Kecil Konstrubusi. Dikutip dari http://bisniswisata.co.id/wisata-bahari-besar-potensi-kecil-konstrubusi/, pada 9 April 2017

Utomo, Trisno. 2015. Kinerja Pariwisata Bahari Indonesia Belum Optimal. Dikutip dari http://www.kompasiana.com/lhapiye/kinerja-pariwisata-bahari-indonesia-belum-optimal_5641d9ead59273300674a2ea, pada 8 April 2017

Yudanto, Agung Haryo. 2010. Wilayah Perairan Indonesia. Dikutip dari http://www.kompasiana.com/agungharyoyudanto/wilayah-perairan-indonesia_550020b9813311c91dfa7166, pada 8 April 2017

Ditulis oleh: Vivi Juliana Hustin

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Armada Kurang Memadai, RI Tak Mampu Maksimalkan Potensi Laut

Halaman: 
Admin : Nugrahenny Putri Untari
 
×
×