logo


Menafsir Catur Politik Jokowi pada Kasus Rizieq

Apakah menurut kalian pemerintah Indonesia tidak sanggup mencabut paspor Rizieq seperti yang terjadi kepada Zakir Naik oleh pemerintah India?

18 Agustus 2017 17:41 WIB

dibaca 8815 x

Kasus Rizieq sepertinya sengaja digantung. Mari kita perhatikan baik-baik alurnya. Apakah menurut kalian pemerintah melalui kepolisian tidak sanggup memulangkan Rizieq dari pelariannya?

Apakah menurut kalian pemerintah Indonesia tidak sanggup mencabut paspor Rizieq seperti yang terjadi kepada Zakir Naik oleh pemerintah India?

Apakah menurut kalian terlalu susah polisi untuk menuntaskan kasus Rizieq sedangkan begitu banyak kasus-kasus teroris dengan mudahnya mereka kalahkan? Lalu mengapa terkesan kasus Rizieq jalan di tempat?


Cewek Ini Mengaku Terasa Geli Saat Digeledah Polisi

Pasti banyak di antara kalian termasuk penulis gemas dengan situasi ini.

Kadang kita geram dan mengeluarkan umpatan-umpatan kekesalan akibat kasus Rizieq yang terlihat tidak ada perkembangannya.

Apakah menurut anda semua kasus ini buntu dan jalan di tempat?

Jokowi bukan tipe orang yang suka membiarkan sebuah pekerjaan tertunda atau sampai mangkrak tetapi ingat baik-baik Jokowi adalah tipe orang yang cermat dan detail dalam mengerjakan sesuatu.

Jokowi bukan orang sembarangan. Langkah Jokowi selalu penuh perhitungan dan pertimbangan yang matang.

Lalu apa hubungannya dengan kasus Rizieq yang terkesan lambat?

Ketahuilah bahwa kasus Rizieq bukan jalan di tempat, tetapi Jokowi adalah seorang yang sangat pandai memainkan sebuah ritme.

Seperti sebuah mobil kapan harus injak pedal gas supaya laju dan kapan harus mengendorkan pedal gas supaya kecepatan turun, tetapi ingat baik-baik mobil tersebut tetap berjalan bukan berhenti.

Mobil tersebut tetap berjalan dengan kecepatan yang diatur pengemudi. Mobil tersebut tetap dijalankan dengan target sampai di tujuan dengan selamat. Soal mau ditempuh satu jam atau dua jam atau bahkan lebih itu hak sang pengendara.

Karena sang pengendara pasti sudah memperhitungkan semuanya ketika perjalanan ditempuhnya dengan mobil. Jokowi bukan orang yang gegabah dan sembrono. Dia orang yang sangat teliti.

Jadi, dengan kasus Rizieq yang seakan-akan digantung dan berjalan lambat seperti ini, sebenarnya Rizieq lah yang tersiksa.

Jokowi sedang melancarkan perang mental. Seperti orang bermain catur. Tekanan besar seperti air bah sebenarnya sedang dilepaskan Jokowi. Siapa yang lebih kuat mentalnya dalam bertahan.

Situasi Rizieq menjadi seperti buah simalakama. Pulang tidak bisa, status tersangka sudah dua kasus, bertahan lebih lama logistik semakin menipis dengan harus membiayai satu keluarga besar yang sudah 100 hari lebih berada di Arab, belum lagi izin tinggal yang tentu akan menjadi sorotan imigrasi setempat.

Tetapi lihat efeknya sekarang negara jauh lebih aman, karena penggerak utama yang menjadi motor dan provokatornya tidak berada di sini. Paling-paling akhirnya Rizieq menunggu ajal datang menjemput di tanah Arab. Coba bayangkan apa tidak tersiksa bathin Rizieq? Apa tidak stress Rizieq ?

Rizieq sekarang seperti orang yang bisa bergerak bebas tetapi ada tali yang mengikat pinggangnya, sehingga dia menjadi sangat terbatas.

Kelihatannya dia baik-baik saja tetapi Anda tahu kan bagaimana rasanya menjadi orang yang terbatas di mana ingin melakukan ini-itu rasanya sanggup tetapi tidak bisa dijalankan.

Itu sangat menguras emosi dan membuat tekanan balik ke dalam diri sendiri. Itulah perang mental yang dijalankan Jokowi dan itulah cara jitu pemerintah membuat Rizieq menjadi kropos dan tinggal tunggu waktu akan rubuh sendiri.

Langkah menteri, benteng, perwira dan lompatan-lompatan kuda yang mengepung raja lawan sampai terpojok dan skat-mati.

Coba perhatikan baik-baik selama Rizieq tidak ada, sudah 100 hari lebih tidak ada satu demo pun yang bisa berjalan?

Mau digerakin kayak apa juga atas nama umat dan agama, mana bisa seperti dulu lagi.

Para pendananya juga sekarang jadi diam tidak berkutik, karena kalau mereka bergerak akan ketahuan.

Mereka menjadi sia-sia mengeluarkan uang untuk membayar pasukan otak-otak onta buat demo, karena jadi tidak ada artinya. Jadi tumpul.

Lihat Harry Tanoe yang dulu ada di kelompok mereka tiba-tiba berbalik arah mendukung Jokowi.

Sabar, pemerintah tidak bodoh. Semua perlu strategi.

Jokowi tidak bodoh. Mengorbankan Ahok itu cara paling tepat walau kelihatannya menyakitkan karena justru sekarang terbalik, walau Ahok dipenjara tetapi situasi Ahok sendiri jauh lebih baik keadaannya dari pada Rizieq.

Ahok tidak lama lagi selesai dengan masa hukumannya tetapi Rizieq satu pun belum ada yang selesai proses hukumnya. Saat Ahok selesai dan dia kembali dengan kekuatan penuh sementara Rizieq kalau kembali sudah semakin tidak berdaya.

Sebanyak 17 kasus sudah siap menanti dia dengan dua kasus sudah menjadi status tersangka.

Termasuk kasus makar, digantung seperti ini justru membuat mereka ini seperti disuntik mati pelan-pelan. Lihat efeknya, mereka semua diam tidak ada lagi koar-koar.

Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, Ahmad Dhani dkk tidak terdengar lagi suara mereka dengan status tersangka yang mereka sandang seperti ini membuat langkah mereka ekstra hati-hati, karena sewaktu-waktu tinggal dijadikan terdakwa.

Keadaan sekarang jauh lebih baik. Jauh lebih stabil. Kita justru harus mendukung pemerintah, Polri, TNI, KPK semua yang Nasionalis Pancasila di dalam naungan NKRI yang Bhineka Tunggal Ika. Di luar itu jangan didukung.

Biarkan skenario besar ini berjalan sampai tuntas. Kita tonton saja bagaimana para pecundang itu hancur dengan sendirinya, karena kebodohan dan keserakahan mereka.

Mari kita yang cinta negeri in bersatu, bergandengan, pertahankan bhineka tunggal ika, UUD 45 serta Pancasila.

Ditulis oleh: Hanil Tambun (RKIH)

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Intip Serunya HUT RI ke-72 di Ruteng-Flores

Halaman: 
Admin : Syukron Fadillah