logo


"Pak Presiden Berhentilah Bersembunyi di Balik Wajah Lugu"

Ubedilah menilai, Jokowi merepresentasikan sikap tidak ditaktornya melalui wajahnya.

11 Agustus 2017 10:47 WIB

Presiden RI Joko Widodo.
Presiden RI Joko Widodo. Jitunews/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan "Masa muka kayak gini diktator?", mendapat tanggapan dari Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun.

Menurutnya, pernyataan Jokowi tersebut mau memberi pesan kepada publik bahwa rumor di media sosial (medsos) tentang 'Jokowi Diktator' itu tidak benar. Jokowi merepresentasikan sikap tidak ditaktornya melalui wajahnya.

Mantan Teroris Sebut Ahok Pernah Dibidik Kaum Jihadis


Tanggapi Jokowi Soal Diktator, Fahri Hamzah: Korbannya Ormas, Besok Bisa Media

"Itu menunjukan Jokowi sedang mengkonstruksi atau mencitrakan wajahnya bahwa wajah dirinya yang tidak seram itu bukan wajah diktator," ujar Ubedilah di Jakarta, Jumat (10/8).

Disebut Kacung Neolib oleh Arief Poyuono, Fadli Zon: Hiburanlah

Ubedilah menjelaskan bahwa dalam perspektif politik, pernyataan Jokowi tersebut masih bagian dari image permukaan yang kasat mata, Dimana Jokowi lupa bahwa wajah yang kasat mata dalam politik bisa digunakan untuk menipu atau memperdaya publik.

Soal Najwa Shihab Keluar dari Metro TV, Jonru: Alhamdulilah Mungkin Dia Tersadar

"Misalnya, bisa dilihat contoh faktual dan sangat historis hampir semua ilmuwan politik mengatakan bahwa Soeharto (mantan presiden RI) dan Husni Mubarok (mantan presiden Mesir) adalah pemimpin diktator. Kedua mantan presiden itu memiliki wajah berseri-seri, suka senyum, mirip seperti Jokowi yang juga suka senyum. Tetapi praktik kekuasaannya memimpin dengan cara represif otoriter diktator," tuturnya.

Ini Isi Pesan SBY untuk Jokowi Lewat Agus Yudhoyono

Ubedilah menambahkan, mengukur diktator tidaknya seseorang jika hanya dari wajah itu pernyataan mirip pelawak atau mirip cara peramal di pinggir jalan. Mengukur diktator tidaknya seorang presiden itu setidaknya bisa diukur melalui dua hal. Pertama, dari sikap politik presiden dan yang Kedua, secara sistemik bisa dilihat dari angka index demokrasi selama kepemimpinannya.

Boni Hargens: yang Tuduh Jokowi Diktator Justru Para Psikopat

Menurut Ubedilah, perilaku Jokowi yang mudah menyebut seseorang melakukan makar sampai menggunakan Perpu untuk membubarkan organisasi masyarakat, padahal konstitusi UUD 45 telah menjamin hak bersuara, berpendapat, berserikat dan hak berkumpul, bahkan ada dalam UUD 1945, apabila dicermati secara politik memang ada indikasi mengarah pada perilaku diktator, meski belum bisa dikatakan ia seorang diktator, karena sikap politik Jokowi masih nampak malu-malu untuk menjadi diktator.

Oknum TNI Pemukul Polisi Dikerangkeng, DPR Minta Penjelasan Puspen TNI

"Itu diindikasikan pada kalimat pembelaannya 'masa muka kayak gini diktator?'. Ini pernyataan malu-malu, menutupi langkah yang keliru dengan melucu," tambahnya.

Kata Aria Bima, yang Sebut Jokowi Diktator karena 10 Tahun Dipimpin Rezim Cengeng

Ubedilah menilai, perilaku politik Jokowi ini jika tidak diingatkan bisa berbahaya bagi kelangsungan demokrasi. Sebab pernyataannya memungkinkan ditafsirkan bahwa ia bersembunyi di balik wajah lugunya.

TERBONGKAR! Ini Pengakuan Caisar Soal Penipuan Eko Patrio

"Kaum cendekiawan dan kaum oposisi memiliki hak politik yang dijamin konstitusi untuk mengingatkan Jokowi. Agar dramaturgi politik yang bersembunyi dibalik wajah (panggung depan) politiknya segera diakhiri. Sebab, ia memimpin negara dengan penduduk 230 juta lebih, bukan memimpin sebuah kota. Ingat pak Presiden, rakyat sedang menderita akibat kebijakan ekonomi yang memberatkan, daya beli masyarakat menurun. Hindari pembelaan yang bisa ditafsirkan pengelabuan," pungkas Ubedilah.

Boni Hargens: yang Tuduh Jokowi Diktator Justru Para Psikopat

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Riana