logo


Kerja Di Rumah Tidak Menakutkan, Lho !!

Tentu pola kerja seperti ini merobohkan pola kerja tradisional warisan dari revolusi industri di abad pertengahan

10 Agustus 2017 19:00 WIB

dibaca 676 x

Beberapa perusahaan IT dunia kini tidak mewajibkan semua karyawannya hadir di kantor untuk melakukan pekerjaan kantor. Perusahaan seperti Google, Microsoft, Facebook memberikan kebebasan kepada karyawan di bidang-bidang tertentu dalam mengerjakan tugas-tugas perusahaan.

Tentu pola kerja seperti  ini merobohkan pola kerja tradisional warisan dari revolusi industri di abad pertengahan.  Di masa lalu mungkin tidak akan terbayang sama sekali lebih mirip dengan “sihir”  Merlin, orang bisa mengirimkan pesan, gambar dari jarak  jauh tanpa meninggalkan  lokasinya. 

Revolusi digital mengubah paradigma konsep kerja, cara bekerja dan lokasi bekerja, apalagi setelah tehnologi internet dan perangkat-perangkat pendukung semakin mudah terjangkau harganya. Tak hanya itu kini tersedia banyak aplikasi – aplikasi online untuk memudahkan orang berbisnis dan berkolaborasi dalam melakukan pekerjaan.


Waktu yang Tepat jika Ingin Didengar Pasangan

Pola kerja berbasis teknologi kini sangat digandrungi oleh Generasi Millenial. Bila generasi sebelumnya masih memegang "pakem" pola kerja revolusi industri tidak demikian Generasi millenial identik yang identik  dengan generasi digital.  Paradigma bahwa  bekerja harus di kantor atau pabrik, profesi populer adalah pegawai bank, insinyur, dokter, PNS, polisi/militer telah runtuh.  Terganti dengan profesi – profesi baru yang lebih banyak berkaitan dengan teknologi digital, hal ini berlaku di semua bidang pekerjaan.

Profesi-profesi  lama pun  mungkin sudah tidak menarik lagi bagi lulusan PT saat ini, banyak profesi-profesi yang berkait industri teknologi dan informasi menjanjikan bayaran tinggi. Lokasi kerja pun tidak terbatas oleh batas nasional, tapi melebar tanpa batas negara. Bisa saja seseorang bekerja di Indonesia tapi untuk sebuah perusahaan di Skandinavia, atau sebaliknya.

Menarik sekali perubahan budaya kerja ini, terutama bagi yang memahami dan mau belajar tentang seluk-beluk industri IT secara umum. Apakah semua orang sudah tahu peluang kerja tersebut? Meski informasi di dunia maya sangat berlimpah, tidak banyak pengguna gadget memanfaatkan dengan baik informasi tersebut dan membaca tren kerja saat ini.

Contoh paling mudah adalah gelombang "onlinisasi" transportasi di kota-kota besar di Indonesia, meski akses kerja ini membuka peluang seluas-luasnya bagi pemilik kendaraan bermotor, masih ada saja pengangguran.

Apa Penyebabnya?
"Mental Block", seseorang sering terjebak dalam pemikirannya sendiri yang terkadang tidak sesuai kenyataan. Mencari pekerjaan sesungguhnya susah-susah gampang, bila pekerjaan diartikan dengan asal bekerja mungkin mudah. Kenyataannya kebanyakan orang mempunyai kriteria sendiri terhadap pekerjaan yang ingin dilakukan. Susahnya mereka tidak mengetahui pekerjaan seperti apa yang diinginkan.

Setiap orang atau lulusan  sekolah / universitas perlu menggali lebih dalam kemampuan dan minatnya terhadap suatu bidang pekerjaan, dari situ lebih mudah mengetahui jenis pekerjaan seperti apa yang diinginkan. Tidak asal kerja, kerja tapi tidak sesuai dengan hati akhirnya hanya menghasilkan output tidak maksimal.

Bagaimanapun  juga suatu  kegiatan bekerja pasti dikorelasi dengan produktivitas, yakni hasil yang dicapai dari waktu dan tenaga yang dihabiskan dalam  periode tertentu. Bila faktanya tidak menunjukan korelasi yang positif atau produktivitas kerja rendah dan output kerja tidak maksimal, sudah pasti pekerja dianggap tidak layak.

Pada akhirnya pertimbangan memilih pekerjaan adalah bukan pekerjaan yang disenangi atau diminati tapi pekerjaan apa yang memberikan hasil terbesar. Pilihan ini yang dilakukan kebanyakan  pekerja  saat ini, bila dilakukan penelitian , apakah pekerjaan yang dijalani saat ini sudah sesuai dengan harapan mereka ? Jawabannya pun akan beragama, dan alasannya juga berbeda-beda. Tapi setiap orang  merasa wajib bekerja untuk menghasilkan uang , sebab hanya itu cara – cara satunya untuk  bertahan (survival).

Kantor atau Rumah?
Tren belakang ini orang memandang hidup lebih berimbang, selain dapat bekerja dengan pendapatan cukup tapi juga mempunyai  quality time  dengan keluarga terdekat atau sahabat. Untuk mereka yang bekerja di perusahaan, waktu senggang hanya pada hari libur reguler atau libur nasional. Pada momen itu  baru bisa menikmati waktu dan hasil kerja dengan keluarga

Padahal kehidupan berkualitas perlu intensitas relasi antar anggota keluarga yang dituangkan dalam waktu kebersamaan. Apakah mungkin berhasil dengan baik kita menciptakan kualitas hidup lebih bila kita banyak menghabiskan waktu di luar rumah lebih dari 12 jam per hari? Rasanya tidak mungkin.

Beruntung mereka  yang memilih bekerja mandiri lebih mempunyai banyak waktu dengan keluarga atau sahabat. Bekerja secara mandiri memang tidak mudah, semua persoalan harus diselesaikan sendiri, tidak seperti bekerja di perusahaan  orang lain. Pada perusahaan orang lain waktu, kinerja kita sudah digariskan oleh managemen, sedangkan  pekerja lepas / mandiri, kita adalah manager dan direktur bagi diri kita sendiri.

Tentunya kedua pilihan tersebut membawa konsekuesi – konsekuensi logis, ada plus – minus, semua kembali kepada pilihan kita. Apakah  kita mengejar kualitas hidup atau  hanya pemenuhan kebutuhan hidup rutin ?

Kerja dari Rumah Tidak Menakutkan
Bekerja dari rumah baik sebagai karyawan atau sebagai pekerja lepas / mandiri tidaklah  menakutkan. Mungkin akan membingungkan untuk mereka yang sudah terdoktrin bekerja di kantor. Untuk mereka dengan pemikiran bebas, bekerja dari rumah adalah pilihan realistis.

Pertanyaan besarnya  para pekerja kantor adalah soal kepastian pendapatan rutin. Tidak dipungkiri bila bekerja di sebuah perusahaan kantor kita mempunyai gaji tetap, sedangkan untuk pekerjaan lepas/wiraswastaan tidak memilikinya.

Apakah mungkin kita memiliki  penghasilan rutin seperti bila bekerja di kantor? Tentu sangat mungkin sekali di era digital saat ini, tinggal kita memilih mau bidang apa yang ingin kita masuki. Tipe / jenis  pekerjaan di era digital secara bisa dipisahkan berdasar 2  (dua) kategori.

Pertama, tipe pekerjaan berbasis keahlian , kita dibayar dengan timbal balik kita melakukan suatu  aktivitas yang menyangkut keahlian yang kita miliki. Misalnya keahlian di bidang disain, teknisi, programmer, dll.

Kedua, tipe pekerjaan berbasis bisnis, suatu kegiatan untuk menghasilkan uang / untung  lewat transaksi yang kita jalankan. 

Bila kita memiliki keahlian tertentu tersedia banyak proyek-proyek freelance di situs-situs lelang pekerjaan. Pendapatan dari hasil kerja ini terbatas, kecuali kita mengambil banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan. Pertanyaannya mungkinkah kita melakukannya?

Pilihan kedua adalah berbisnis seperti pekerjaan sebagai marketer online atau berbisnis secara online, di era digital saat tersedia market place untuk memasarkan produk-produk kita. Paling mudah menjadi reseller  atau agen dari produk perusahaan lain di rumah secara online.

Dua pilihan tersebut sangat memungkinkan kita memiliki kualitas hidup, hemat biaya, tenaga dan waktu. Persoalan adalah komitmen kita pribadi dan kekuatan mental kita menghadapi setiap masalah-masalah yang muncul saat kerja dari rumah. Toh di mana pun kita bekerja pasti ada masalah, semua bergantung pada pilihan kita, tidak ada yang perlu kita takutkan.

Minat kerja di rumah ? Hub 0819 0800 0360 untuk mendaftar sebagai agen Allianz Insurance ?

Ditulis oleh: sigit bc

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Dengan Smartphone Jadi Agen Asuransi Mudah, Tak Perlu Jago Presentasi

Halaman: 
Admin : Aurora Denata
 
×
×