logo


Fadli Zon: Tidak Tepat Gunakan Threshold yang Pernah Dipakai

Fadli Zon menilai Presiden Joko Widodo salah menilai mengenai presidential threshold 20 persen dalam UU Pemilu untuk Pilpres 2019 mendatang

1 Agustus 2017 17:30 WIB

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Jitunews/Latiko Aldilla DIrga

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menilai Presiden Joko Widodo salah menilai presidential threshold 20 persen dalam Undang-Undang Pemilu untuk Pilpres 2019 mendatang. 

"Itu yang justru saya katakan Pak Jokowi ini nggak nyambung logikanya. Kenapa tidak ramai 2 kali periode karena pemilunya tidak serentak makanya tidak ramai. Pemilu legislatif dulu baru pilpres. Pemilu legislatif dulu, baru ketahuan hasilnya, baru pilpres. Kalau sekarang ramai, pemilunya serentak terus pake threshold 20% bekas yang dulu. Ini logika sederhana, ini elementer. Menurut saya salah logika itu," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/7).

Fadli juga menyebut dengan presidential threshold 0 persen tidak akan membuat gaduh seperti saat ini.


Pertemuan Sby-Prabowo, Momentum Merefleksikan Arti Kepemimpinan

"Salah itu. Itu waktu Pak Jokowi dan Ahok didukung di Jakarta, juga minoritas dari sisi DPR-nya. Tidak ada masalah. Jadi menurut saya itu tidak akan berpengaruh kepada dukungan di parlemen karena kita bukan sistem oposisi murni," katanya.

Menurutnya tidak akan berpengaruh kepada dukungan di parlemen. Misalnya, 20 persen atau 80 persen tidak akan masuk. Contoh sederhananya, jika memang didukung 20 persen sementara 80 persen tidak mendukung maka artinya sama saja.

"Jadi saya kira argumentasinya itu tidak tepat termasuk soal penggunaan threshold yang sudah pernah dipakai. Harusnya tidak boleh lagi," tandas Fadli.

Sebut Jokowi dan PDIP Menipu Rakyat Mirip PKI, Waketum Gerindra Harus Tanggung Jawab

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata