logo


Pikiran Picik Tentang Perempuan Menyusui

Foto putri bungsu Presiden Kyrgyztan mendadak viral diberitakan berbagai media massa internasional. Dalam fotonya, Aliya Shagieva- nama putri Presiden itu-menampilkan dirinya yang tengah menyusui bayinya...

1 Agustus 2017 12:18 WIB

Foto Aliyah Shagieva. Semua Foto di dalam artikel ini diupload oleh penulis
Foto Aliyah Shagieva. Semua Foto di dalam artikel ini diupload oleh penulis "Suara Kita". Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap dampak yang mungkin timbul dari pengunggahan foto-foto tersebut.
dibaca 95 x

Foto putri bungsu Presiden Kyrgyztan mendadak viral diberitakan berbagai media massa internasional. Dalam fotonya, Aliya Shagieva- nama putri Presiden itu-menampilkan dirinya yang tengah menyusui bayinya. Sebagaimana perempuan menyusui pada umumnya, sebagian payudaranya terlihat.

Komentar miring pun mulai berseliweran di media sosial miliknya. Banyak yang menilai foto tersebut adalah foto tak senonoh yang tak layak ditampilkan di muka publik. Aliyah dinilai menampilkan sebuah aktivitas pornografis melalui fotonya itu. Benarkah demikian?

Saya termasuk orang yang tak sependapat dengan pandangan kebanyakan orang itu. Saya setuju dengan apa yang menjadi keterangan foto Aliyah; “Saya akan memberinya makan, kapan pun dan di manapun dia butuh makan."


Selamat Hari Asep Sedunia! Asep Bersatu Membangun Indonesia!

Itulah gambaran sikap seorang perempuan yang berpikir lengkap tentang kesehatan bayinya. Asi, dalam ilmu kesehatan, air susu ibu (ASI) merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat.

ASI diproduksi karena pengaruh hormon prolaktin dan oksitosin setelah kelahiran bayi. Aliyah, sebagai wanita, bertanggung jawab secara moral untuk menjamin kesehatan (baca: kelangsungan hidup) bayinya. Dia tak mungkin ingin bayinya merengek karena kelaparan, dan tak diasupi nutrisi.

Selain itu, melalui keterangan pada foto itu, Aliyah hendak menjelaskan tentang konsekuensi fisiologis seorang wanita setelah melahirkan. Payudaranya harus dikeluarkan sesering mungkin untuk menetek bayinya yang belum bisa menelan makanan kasar, layaknya anak-anak yang telah bergigi.

Aksi menyusui itu jauh dari pelanggaran etis (moral), yang disebut-sebut kebanyakan orang. Sebab, Aliyah, sebagaimana perempuan yang sedang menyusui, tak sedang memamerkan payudaranya untuk kebutuhan gambar sensual berdaya tarik seksual sebagaimana yang kerap ditampilkan seorang selebriti film panas dalam berbagai platform periklanan.

Kesan gambar tersebut sebagai gambar pornografi justru muncul dari rekayasa pikiran pihak yang melihat Aliyah tengah menyusui. Artinya, yang picik, bukan Aliyah. Tapi pihak yang mengansumsikan gambar Aliyah sebagai gambar berbau pornografis.

Disadari atau tidak, kepicikan serupa adalah bentuk sederhana dari kekerasan terhadap perempuan; secara tidak langsung menempatkan aktivitas menyusui (yang tadi disebutkan sebagai konsekuensi fisiologis sebagai perempuan) sebagai aksi pornografi.

Bagaimana dengan masa lampau, dimana para wanita yang tak berbusana duduk di depan rumah, di pendopo, di pinggir jalan sambil menyusui anaknya? Tren menyusui di muka umum bukanlah hal baru. Bahkan, pada zaman dahulu, bukan hanya menyusui yang dilakukan di muka umum.

Dulu, saat masih lazim kebiasaan mandi di kali-karena masih tak tersedianya kamar mandi dan jaringan air bersih- para perempuan tak perlu repot-repot menutup payudaranya saat mandi di kali.

Tidak ada pakem moral yang mewajibkan tubuh -- reot ataupun ranum -- ditutup rapat-rapat. Tidak ada yang perlu bersusah payah menyembunyikan aurat. Pakaian tinggal dicopot, ditaruh di atas batu, dan dengan telanjang bulat langsung mencebur ke sungai.

Ketelanjangan ini menjadi pemandangan terbuka yang mudah dilihat, kecuali si pemalu yang sengaja memilih lokasi yang agak tersembunyi di balik deretan batu. Yang jongkok di "mbelik" ataupun pancuran juga tidak tersembunyi. Karena biasanya dibiarkan terbuka. Kalaupun bertutup gedek dari anyaman bambu, tidak cukup efektif untuk menyembunyikan bokong dan dada.

Apa yang pornografis dari situasi itu? Nothing! Justru, yang perlu ditiru adalah tentang upaya penghargaan terhadap para perempuan yang mandi tanpa busana itu. Mereka yang tengah mengantree untuk ikut mencebur harus menjauhi kali dan menunggu hingga perempuan-perempuan itu selesai membersihkan badanya. Bukan malah melarang mereka mandi di kali dengan tanpa sehelai busana!

Ditulis oleh: Marcell Gunas

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Kena Air Keras? Lakukan Ini Agar Tak Bertambah Parah!

Halaman: 
Admin : Syukron Fadillah
 
×
×