logo


Di Bisnis Pangan, 'Middle Man' Dapat Keuntungan Lebih

Untuk sembilan komoditas pangan strategis para pelaku bisa meraup Rp 463 triliun setahun.

25 Juli 2017 12:30 WIB

Anggota Dewan Pembina Partai Golkar, Fadel Muhammad
Anggota Dewan Pembina Partai Golkar, Fadel Muhammad JITUNEWS/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Umum Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI), Fadel Muhammad, mengatakan bahwa secara umum dalam bisnis pangan, 'Middle Man' meraup untung di atas normal profit. Untuk sembilan komoditas pangan strategis para pelaku bisa meraup Rp 463 triliun setahun.

“Ini angka fantastis. Sembilan komoditas pangan itu beras, jagung, bawang merah, cabai, gula, daging sapi, daging ayam, telur, dan minyak sawit. Posisi petani sebagai price-taker memperoleh harga rendah dan profit marjin petani sekitar Rp 105 triliun, sedangkan para pedagang atau 'Middle Man' memperoleh marjin Rp 463 triliun. 'Middle Man' telah berperilaku parasit terhadap petani. Di sisi lain 'Middle Man' ini juga menghisap konsumen. Konsumen menanggung harga mahal senilai Rp 1.320 triliun,” kata Fadel, dalam keterangan tertulisnya kepada Jitunews.com, Selasa (25/7).

Fadel menjelaskan, dalam tata niaga pangan ini juga terjadi anomali pasar yang telah berlangsung lama karena pada puncak piramida bisnis pangan struktur pasarnya cenderung oligopolistik, meskipun di tingkat petani struktur pasarnya sudah demokratis. Pengusaha pangan besar memanfaatkan kelemahan sistem logistik dan distribusi yang belum efisien dan rantai pasok terlalu panjang.


Satgas Pengendali Harga Pangan Akan Memberikan Efek Jera ke Pelaku Kartel

“Struktur pasar dan perilaku pasar belum adil dan seimbang, sehingga terlihat nyata tingginya disparitas harga antara di produsen dan konsumen," jelasnya.

Fadel pun menjelaskan, secara rinci tata niaga beras. Menurutnya, untuk memproduksi padi 79,3 juta ton gabah kering giling atau 46,1 juta ton beras setahun diperlukan biaya sekitar Rp 278 triliun dan petani memperoleh margin Rp 65,7 triliun. Sedangkan pada sisi hilir, konsumen membeli beras kelas medium rerata saat ini Rp 10.582/kg  setara Rp 488 triliun, dan bila konsumen membeli beras premium maka angkanya jauh lebih tinggi lagi.

“Sementara pedagang perantara atau 'Middle Man' setelah dikurangi biaya prosesing, pengemasan, gudang, angkutan dan lainnya memperoleh profit marjin Rp 133 triliun,” terangnya.

Fadel menekankan, distribusi profit margin antar pelaku ini jelas tidak berkeadilan. Pasalnya, keuntungan produsen Rp 65,7 triliun ini jika dibagi kepada 56,6 juta anggota petani dari 14,1 juta rumah tangga petani padi, maka setiap petani hanya memperoleh margin Rp 1 hingga 2 juta/tahun. Sementara, setiap 'Middle Man' menikmati ratusan juta setahun jauh di atas profit normal, sedangkan konsumen dirugikan menanggung harga tinggi.

“Ini tidak adil dan berimbang karena profit petani sangat tipis dari jerih payah di sawah disengat matahari selama 120 hari dari tanam hingga panen padi, belum lagi risiko gagal panen, sementara 'Middle Man' sebagai avalis meraup untung besar dalam waktu singkat dan minim risiko,” tegasnya.

Oleh karena itu, Fadel menegaskan, agar petani jangan dijadikan sebagai objek dan dikorbankan. Akan tetapi, petani harus diciptakan keseimbangan manfaat wajar antar pelaku, sehingga petani memperoleh harga dan margin yang layak, 'Middle Man' mendapat normal profit dan konsumen menikmati harga lebih murah.

“Ya, hitung-hitungan solusinya adalah dengan cara menggeser margin yang dinikmati 'Middle Man' semula Rp 133,4 triliun menjadi Rp 21,6 triliun, sebagian margin digeser ke petani padi dan sebagian ke konsumen,” tuturnya.

Lanjut Fadel, harga beras di petani diangkat menjadi Rp 7.800/kg, sehingga margin petani semula Rp 65,7 triliun naik menjadi Rp  82,6 triliun. Selanjutnya harga di konsumen semula Rp 10.582/kg dikendalikan dengan kebijakan harga acuan atas Rp 9.000/kg sehingga mereka surplus Rp 90 triliun. Pada kondisi ini 'Middle Man' masih tetap memperoleh profit normal dan terwujud distribusi margin yang adil.

“Ya sebenarnya harga beras medium saat ini Rp 10.500an/kg termasuk harga tinggi sebab dibentuk dari struktur pasar dan perilaku pasar pangan saat ini yang belum adil dan seimbang.  Mengacu Peraturan Menteri Perdagangan 47/2017 dengan harga acuan atas sebesar Rp 9.000/kg, ya Harga Eceran Tertinggi (HET) ini sudah layak dan wajar antar pelaku,” jelasnya.

Selanjutnya, Fadel mengungkapkan, hal ini harus ada solusinya. Pertama, melarang penimbunan beras dan mengeluarkan stok beras di gudang-gudang minimal 50 persen. Kedua menekan disparitas harga beras di produsen dan di konsumen. Ketiga, memperlancar arus distribusi pangan. Saat ini Satgas Pangan dan KPPU sedang bekerja dan mari kita dukung untuk mewujudkan sistem tata niaga pangan yang sehat.

“Untuk mengatasi disparitas pangan, perlu kebijakan alternatif yang bersandar pada konstitusi khususnya pasal 33 UUD 45. Negara harus melakukan intervensi terbatas guna menghilangkan sumber distorsi bisnis pangan, terutama perilaku parasit pengusaha besar. Kebijakan tata kelola sektor pertanian harus ditata ulang agar petani beroleh keadilan dan mampu berpendapatan,” pungkas Fadel.

Mentan Sebut Gebrakan Melawan Kartel Kunci Suksesnya Upaya Menstabilkan Harga Pangan

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Riana