logo


Penjelasan Lengkap PT IBU Soal Tuduhan Mengoplos Hingga Memonopoli Pasar Beras

Jo Tjong Seng juga mengungkapkan dampak permasalahan yang dihadapi perusahaannya saat ini.

25 Juli 2017 11:51 WIB

Juru Bicara PT Indo Beras Utama (IBU) Jo Tjong Seng.
Juru Bicara PT Indo Beras Utama (IBU) Jo Tjong Seng. Jitunews/Latiko Aldilla DIrga

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pasca operasi penggerebegan gudang beras milik PT Indo Beras Utama (PT IBU) yang berisi 1.161 ton beras merek Maknyuss dan Cap Ayam Jago di Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat, pada hari Kamis, tanggal 20 Juli 2017 malam oleh Tim Satgas Pangan Polri, berbagai tanggapan bermunculan antara lain soal tudingan pengoplosan beras subsidi yang dianggap menggunakan jenis beras IR64, memanipulasi kandungan gizi dan karbohidrat beras yang tertera pada kemasannya, hingga tudingan mematok harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Permendag, dan sebagainya.

PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (TPSF), selaku induk usaha PT Indo Beras Utama (IBU) sejak awal membantah seluruh tuduhan itu. Jo Tjong Seng, Juru Bicara PT IBU, mengklarifikasi semua tudingan yang mengarah kepada perusahaannya.

Pertama, soal tudingan bahwa PT IBU menggunakan beras bersubsidi, Tjong Seng mengatakan bahwa faktanya adalah PT IBU membeli gabah dari kelompok tani sehingga tidak dapat diketahui dari mana asal gabah tersebut.


Dituding Jual Ulang Beras Subsidi, Begini Penjelasan Tiga Pilar Sejahtera

"PT IBU tidak membeli beras subsidi atau beras raskin maupun rastra (beras sejahtera). Kami membeli gabah dari para petani, gabah umum yang dihasilkan oleh petani maupun pabrik lokal sekitar kami. Ini hal yang dilakukan pengusaha beras, tidak menggunakan beras rastra," beber Tjong Seng kepada Jitunews.com, Selasa (25/7).

Kemudian, soal tudingan bahwa PT IBU membeli beras medium (IR64) untuk dikemas dan dijual dengan harga premium, Tjong Seng mengatakan bahwa deskripsi medium atau premium tersebut adalah berdasarkan SNI, bukan berdasarkan parameter fisik terukur dan bukan pula pada jenis atau varietas beras.

"PT IBU membeli beras medium (IR64) untuk dikemas dan dijual dengan harga premium, bukan pada jenis atau varietas beras, dan bukan pada kandungan gizi beras. Untuk menentukan apakah beras tersebut termasuk beras medium atau premium didasarkan pada keutuhan beras, derajat sosoh, kadar air, dll," papar Tjong Seng.

Selain itu, soal tudingan bahwa PT IBU memanipulasi kandungan gizi dan karbohidrat beras pada kemasannya, Tjong Seng mengatakan PT IBU mencantumkan nilai gizi hasil dari (uji) lab yang terakreditasi. Dua angka informasi gizi yang tertera yaitu kandungan gizi produk dan angka kecukupan gizi (AKG) adalah dua hal yang berbeda meskipun saling berkaitan.

"Kadar karbohidrat yang tercantum sebanyak 25% adalah AKG, bukan kandungan karbohidrat yang sebenarnya. Kandungan karbohidrat yang tercantum 74 g per 100 g (74%) maupun hasil analisis tim Satgas 81.45% masih masuk dalam kisaran kandungan karbohidrat beras. Penjelasan yang sama berlaku untuk nilai gizi lainnya. Intinya, informasi nilai gizi itu bukan indikator mutu medium atau premium beras," tutur Tjong Seng.

Lebih lanjut, Tjong Seng juga menolak anggapan bahwa PT IBU menimbun pasokan beras. Dia menyatakan angka produksi dan jumlah beras yang dijual saat ini seimbang, sehingga beras yang ditimbun jumlahnya tidak terlalu besar.

"Perlu diketahui, PT IBU dituduh menimbun beras di gudang Bekasi (sebanyak 1.161 ton dipasang police line), faktanya, 1.161 ton tersebut adalah stok penjualan 1 minggu ke depan. Memiliki stok adalah hal yang umum di dalam industri, peraturan mengizinkan industri memiliki stok untuk kebutuhan produksi dalam jangka waktu tertentu. Jumlah stok yang diizinkan tiga bulan, kapasitas saat ini 4.000 ton per bulan sedangkan stok kami yang dibeli (keluar) 1.000 ton beras. Jadi stok itu mencukupi kebutuhan seminggu ke depan. IBU tidak melakukan penimbunan," tandasnya.

Mengenai pembelian gabah dari petani dengan harga yang tinggi dinilai Tjong Seng merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, gabah yang dibeli PT IBU harus memiliki spesifikasi khusus yang dibutuhkan perseroan.

"Silakan bisa dicek ke BPS, kami tidak ada unsur monopoli karena di bawah 5 persen. Konsumsi beras nasional per bulan 2-3 juta ton. Pangsa pasar PT IBU di bawah 1%. Terkait harga? Memang harga dengan penggilingan yang lain, gabah yang kami beli punya spesifikasi yang lain," ucapnya.

"PT IBU membayar gabah bersih dan bernas dari kelompok tani yang diterima di gudang PT IBU. Harga yang dibayar oleh PT IBU sudah termasuk insentif bagi petani yang memenuhi parameter mutu PT IBU. Kapasitas pengering PT IBU tidak lebih dari 8% potensi panen dari daerah Bekasi, Subang, dan Banten," sambung Tjong Seng.

Mengenai tudingan bahwa PT IBU menjual beras Rp 13.000 untuk merek Maknyuss, dan Rp 20.000-an untuk Cap Ayam Jago, dan harga ini lebih tinggi daripada HET yang ditetapkan Permendag, Tjong Seng menuturkan bahwa harga tersebut sudah dihitung berdasarkan rantai pasok dan kualitas beras yang dijual. PT IBU hanya menentukan harga ke mitra perusahaan, dalam hal ini kalangan pasar modern dan ritel bukan langsung ke konsumen.

"Harga konsumen (HET) ditentukan oleh berbagai faktor dari mata rantai tata niaga beras. PT IBU hanya melakukan bisnis berdasar prinsip B2B, dan hanya dapat menentukan harga sampai keluar dari Pabrik. Industri perlu waktu untuk berdialog mengenai struktur biaya produksi dan tata niaga yang memastikan industri bisa berjalan, dan memenuhi semangat penetapan HET Permendag," jelasnya.

Terakhir, Tjong Seng juga mengungkapkan ihwal dampak permasalahan yang dihadapi perusahaannya saat ini. 

"Terhadap kegiatan operasional, secara teknis tidak terpengaruh dari terjadinya inspeksi pada hari Kamis, tanggal 20 Juli 2017 karena tidak terjadi penyegelan di fasilitas produksi kita. Yang terjadi adalah pemasangan police line pada 1.161 ton stok akhir beras yang bermerk Maknyuss dan Ayam Jago," ujar Tjong Seng.

Kemudian dampak terhadap keuangan, lanjut Tjong Seng, gambaran kontribusi bisnis beras terhadap keseluruhan pendapatan AISA tahun 2016 sebesar 60% dan bottom line sekitar 50%, sedang untuk merk Maknyuss dan Ayam Jago memberikan kontribusi sekitar 30% terhadap total pendapatan beras.

"Sementara itu, terhadap kelangsungan usaha, termasuk potensi dicabutnya izin perusahaan oleh instansi yang berwenang, tidak berdampak terhadap adanya potensi pencabutan perizinan usaha yang yang dimiliki oleh Perseroan (TPSF) dan tidak berdampak terhadap kelangsungan usaha Perseroan, tetapi bisa berdampak pada kelangsungan usaha Anak Perusahaan," pungkas Tjong Seng.

 

Respon PT TPS Ihwal Penyegelan Gudang Berasnya Serta Saham yang Merosot Tajam

Halaman: 
Penulis : Riana