logo


Serangkaian Penyimpangan KPK yang Diceritakan Mantan Anak Buah Nazaruddin kepada Pansus Hak Angket KPK

"Yulianis ini kan orang yang pernah berurusan dengan KPK ya, Yulianis ini juga pernah terang-terangan menulis di akun twitter beliau beberapa penyimpangan-penyimpangan," ujar Masinton

25 Juli 2017 01:25 WIB

Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group, Yulianis yang merupakan mantan anak buah Nazaruddin bertemu dengan Pansus hak angket untuk KPK di DPR. Yulianis dimintai keterangan terkait penyimpangan yang dilakukan oleh KPK.

"Yulianis ini kan orang yang pernah berurusan dengan KPK ya, Yulianis ini juga pernah terang-terangan menulis di akun twitter beliau beberapa penyimpangan-penyimpangan. Maka kita akan dalami itu," ujar Wakil Ketua Pansus Angket, Masinton Pasaribu di gedung DPR, Senin (24/7).

Yulianis sempat menangis saat menceritakan nasib teman-temannya yang menjadi korban Nazaruddin. Banyak temannya yang terseret KPK karena aset Nazaruddin menggunakan nama teman-temannya.


Hakim Jatuhkan Vonis untuk Atut, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa

"Nama-nama teman saya yang dipakai namanya di perusahaan Nazaruddin. Akhirnya terseret, bahkan ada beberapa yang terkena serangan psikis dari keluarga Nazaruddin," kata Yulianis di depan Pansus KPK.

Yulianis menyebut hingga saat ini masih ada proyek yang berjalan dan dikendalikan Nazaruddin dari penjara. Teman-temannya kerap dipanggil ke penjara untuk melakukan meeting terkait proyek ke depannya.

"Pak Nazaruddin sering panggil rekan-rekannya ke penjara untuk meeting proyek ke depannya. Saya sudah sampaikan ke KPK, namun KPK bilang apa yang terjadi di penjara sudah bukan tanggung jawab KPK," katanya.

Bahkan, Yulianis mengatakan mantan pimpinan KPK, Adnan Pandu Praja menerima uang Rp 1 miliar dari mantan Bendum Demokrat M Nazaruddin.

"Kalau saya sendiri tidak pernah disuruh oleh Nazaruddin menyuap pihak-pihak terkait. Karena pekerjaan saya murni di belakang meja, tapi teman saya, seperti Bu minarsi (mantan Direktur Marketing PT Anugerah Nusantara) pernah memberikan uang ke komisioner KPK, Bapak Adnan Pandu Praja," ungkapnya.

"Uangnya Pak Nazar, itu setahu saya baru ngasih Rp 1 miliar. Saya sudah laporkan juga hal ini ke KPK," lanjutnya.

Yulianis menyebut Nazaruddin memiliki kedekatan khusus dengan pimpinan KPK saat itu dan bisa menjaganya dalam kasus di KPK.

"Orang KPK itu punya hubungan dengan Nazaruddin dan bisa menjaga Nazaruddin dalam kasus di KPK, yaitu Ade Raharja, Johan Budi, Chandra Hamzah komisioner KPK. Itu awal kasus, tapi ini saya yang bicara yang saya alami sendiri. Bukan hanya komisioner, tetapi juga penyidik KPK, Yurod Saleh," katanya.

Yulianis menceritakan banyak hal tentang KPK dengan maksud agar KPK untuk berhenti mengistimewakan Nazaruddin.

"Tujuan saya bicara di sini bukan untuk menjelekkan KPK, bukan untuk melemhakan atau menjatuhkan KPK, tapi supaya KPK berhenti mengistimewakan Nazaruddin," katanya.

Keistimewaan yang KPK lakukan kepada mantan pimpinannya itu adalah masih adanya aset dari Nazaruddin yang tidak disita oleh KPK.

"Banyak aset Pak Nazar yang belum disita KPK. Alasannya, itu bukan atas nama Nazaruddin. Selain itu, Pak Nazar bisa dengan bebas mengintimidasi mantan karyawannya yang akan bersaksi di persidangan dengan memanggilnya ke penjara," ceritanya.

Yulianis bercerita, Nazaruddin kerap mengumpulkan karyawannya untuk diintimidasi, bahkan ada yang menerima kekerasan fisik. Hal tersebut dilakukan ketika di Lapas Cipinang, Mako Brimob, dan Rutan KPK.

"Waktu Pak Nazar di Lapas Cipinang itu ada ruangan khusus untuk mengumpulkan karyawannya. Lalu di Mako Brimob itu di samping ruang tahanan ada tempat untuk kumpul. Kalau di Rutan KPK memang agak ketat, tapi dia berpura-pura ke rumah sakit dan bertemu karyawannya di situ," jelasnya.

"Jadi, kalau kita mau bikin BAP atau bersaksi itu, Pak Nzar sudah mendikte kata-katanya. Kalau ada yang salah, pasti disuruh ganti. Pak Marisi pernah dipukul pakai BAP untuk mengganti kata-katanya. Jadi semua BAP yang diberikan itu bohong, KPK sudah tahu itu," katanya.

Yulianis juga menceritakan tentang penjemputan paksa terhadapnya waktu itu. Ia didatangi oleh puluhan orang dari KPK. 

"Saya didatangi kayak mau tangkap teroris. Itu lebay, ada sekitar 40 orang dengan senjata laras panjang. Di depan rumah itu ada 4 atau 5 orang. Waktu itu saya berpindah-pindah, terus saya ada di BSD waktu itu. Waktu itu yang datang Arie Ardiansyah," ungkapnya.

"Ini belum saya ceritakan kepada siapa pun. Sebenarnya penangkapan itu saya bisa menolak karena tempaatnya beda dengan surat penyidik. Tapi saya mau bekerja sama dengan deal saya tidak mau dipublikasikan, saya sampai di KPK itu jam 12 siang, didiamkan sampai maghrib. Setelahnya Pak Yurod Saleh mendatangi saya, itu temannya Pak Nazar. Gara-gara orang ini, saya tidak mau ke KPK," ujarnya.

Ramai #100HariNovelDiserang, Warganet: Kami Sangsi Kasus dapat Dibongkar

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata