logo


Anton Apriyantono: Dugaan PT IBU Lakukan Manipulasi Beras Subsidi Itu Fitnah Besar

Anton juga merasa janggal dengan pernyataan Kapolri yang menyebut bahwa terdapat kerugian negara akibat aksi PT IBU tersebut.

24 Juli 2017 13:12 WIB

Anton Apriyantono.
Anton Apriyantono. Dok. Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dosen luar biasa IPB, Anton Apriyantono, menilai tudingan bahwa PT Indo Beras Unggul (IBU) telah melakukan dugaan manipulasi beras subsidi dalam jumlah besar adalah sebuah fitnah yang keji.

"Itu fitnah besar," ujarnya di Jakarta, Minggu (23/7) malam.

Komisaris Utama PT Tiga Pilar Sejahtera yang notabene induk usaha PT IBU ini menjelaskan bahwasanya varietas IR 64 merupakan varietas lama dan sudah digantikan dengan varietas yang lebih baru yaitu Ciherang dan kemudian telah diganti lagi dengan Inpari sehingga varietas IR 64 sudah tidak banyak lagi persediaannya di lapangan.


Said Didu: Terlepas dari Kasusnya, Banyak Kejanggalan dari Penggerebekan Pabrik Beras di Bekasi

"Tidak ada yang namanya beras IR 64 yang disubsidi. Ini sebuah kebohongan publik yang luar biasa. Yang ada adalah beras raskin, subsidi bukan pada berasnya tapi pada pembeliannya, beras raskin tidak dijual bebas, hanya untuk konsumen masyarakat miskin," tuturnya.

Anton juga menganggap janggal pernyataan Kapolri yang menyebut bahwa terdapat kerugian negara akibat aksi PT IBU tersebut.

"Kalau dibilang negara dirugikan, dirugikan di mananya? Apalagi sampai bilang ratusan triliun, lha wong omzet beras TPS saja hanya 4 T per tahun, lagi-lagi Kapolri melakukan kebohongan publik. Apa gak takut azab akhirat ya?" ungkapnya.

Selain itu, tuduhan menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) dinilai Anton juga tidak bijak. Hal ini dikarenakan SK Mendag mengenai HET beras baru ditandatangani dan berlaku mulai tanggal 18 Juli 2017.

"Sementara pada tanggal 20 Juli 2017 sudah diterapkan ke PT IBU tidak kepada yang lain dan tidak diberikan waktu untuk melakukan penyesuaian," jelasnya.

Menurutnya, HET Rp 9.000 itu terlalu rendah karena harga rata-rata beras saja sudah di atas Rp 10.000.

"Perlu dievaluasi lagi, selain itu tetap harus dibedakan antara beras medium dan beras premium karena kualitasnya berbeda," terangnya.

Dalam hal ini, Anton juga menyayangkan adanya pemberitaan yang menyebut bahwa PT IBU telah melakukan penyimpanan beras sebanyak 3 ton. Menurutnya, hal tersebut salah besar. Pasalnya, kapasitas yang terpasang di seluruh pabrik hanya memiliki 800.000 ton.

"Pemberitaan menyimpan 3 juta ton beras atau membeli 3 juta ton beras, itu jelas ngawur," pungkasnya.

Heboh Kasus PT IBU, Besok Komisi IV DPR Panggil Mentan

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Nugrahenny Putri Untari