logo


KKP Lepas Puluhan Ribu Ekor Spat Kerang Mutiara di Perairan Lombok

Ribuan spat kerang mutiara ini merupakan hasil pembenihan buatan yang dilakukan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok.

24 Juli 2017 10:48 WIB

Acara pelepasan 15 ribu ekor spat kerang mutiara jenis Pinctada maxima di lepas ke perairan sekitar Gili Kondo, Desa Padak Guar, Sambalia, Lombok Timur.
Acara pelepasan 15 ribu ekor spat kerang mutiara jenis Pinctada maxima di lepas ke perairan sekitar Gili Kondo, Desa Padak Guar, Sambalia, Lombok Timur. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS COM - Setidaknya lebih dari 15.000 ekor spat kerang mutiara jenis Pinctada Maxima telah dilepas ke perairan sekitar Gili Kondo, Desa Padak Guar, Sambalia, Lombok Timur. Ribuan spat kerang mutiara ini merupakan hasil pembenihan buatan yang dilakukan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok.

Sebagaimana diketahui, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki dua Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang secara khusus diberi tanggung jawab untuk pemuliaan induk dan pengembangan kerang mutiara di Indonesia. Kedua UPT tersebut yaitu BPBL Lombok dan Balai Pemuliaan Induk Udang dan Kekerangan (BPIUK) Karangasem, Bali.

Kegiatan pelepasan puluhan ribu ekor spat kerang mutiara tersebut melibatkan kelompok masyarakat lokal yang tergabung dalam Komite Pengelolaan Perikanan Laut (KPPL) kawasan Sambelia. KPPL adalah suatu komite yang merupakan kumpulan dari anggota masyarakat pantai yang terdiri atas tokoh agama, tokoh adat, nelayan, pembudidaya ikan dan pihak terkait lainnya yang dibentuk secara swadaya sebagai bagian dari peran partisipatif masyarakat dalam menjaga kelestarian SDA kelautan dan perikanan.


Penggunaan Alat Tangkap Tidak Ramah Lingkungan Diperpanjang Hingga Akhir 2017

Peran serta kelompok masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam memberikan edukasi dalam upaya pengawasan kelestarian sumber daya kerang mutiara, apalagi di pulau Lombok sangat kental dengan aturan lokal yang bisa diberdayakan sebagai instrumen konservasi SDA kelautan dan perikanan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan restocking merupakan upaya yang sangat krusial dan mendesak dilakukan saat ini untuk menjaga keseimbangan stok kerang mutiara di alam. Apalagi saat ini mulai terjadi penurunan ketersediaan induk kerang mutiara di alam akibat penangkapan yang over exploitative. Menurutnya, banyak perusahaan pembenih mutiara yang mulai kesulitan mendapatkan sumber induk di alam, dan tentunya ini sangat mengkhawatirkan bagi keberlanjutan bisnis mutiara di Indonesia.

Padahal, perairan Indonesia, khususnya Pulau Lombok dikenal dunia sebagai habitat asli kerang mutiara jenis Pinctada Maxima yang terkenal di mancanegara dengan sebutan The Queen of Pearl atau Ratunya Mutiara.

"Kenyataan saat ini, induk kerang mutiara mulai sulit didapatkan. Kita tahu selama bertahun-tahun pengembangan pembenihan kerang mutiara ini lebih banyak mengandalkan induk dari alam. Ini berbahaya untuk kelangsungan spesies. Oleh karena itu, kami mulai dorong UPT untuk melakukan pembenihan kerang mutiara yang peruntukannya lebih besar untuk kepentingan restocking," kata Slamet di Jakarta, Senin (24/7).

Lebih lanjut, Slamet mengatakan bahwa KKP juga akan mendorong unit-unit pembenihan kerang mutiara milik swasta untuk melakukan hal serupa di seluruh perairan potensial di Indonesia. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab kompensasi jasa lingkungan yang harus dipenuhi.

"Budidaya ini adalah satu-satunya penyangga sumber daya kelautan dan perikanan, ke depan tidak bisa terus menerus mengandalkan eksploitasi sumber pangan dari alam," imbuhnya.

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, meminta agar kegiatan restocking menjadi program prioritas untuk menjamin keberlanjutan sumber daya perikanan Indonesia. Menurutnya, saat ini terjadi fenomena kelangkaan induk beberapa spesies ikan ekonomis sehingga perlu upaya mengantisipasi hal ini.

"Saya minta pak Dirjen Perikanan Budidaya untuk mendorong program restocking sebagai salah satu prioritas untuk mengantisipasi penurunan stok di alam. Di sisi lain, kita harus hentikan upaya eksploitasi sumber daya ikan bagi komoditas yang terancam," tukas Susi.

KKP Realisasikan Lele Bioflok Masuk Pesantren

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Nugrahenny Putri Untari