logo


Respon PT TPS Ihwal Penyegelan Gudang Berasnya Serta Saham yang Merosot Tajam

Tjong Seng menyatakan bahwa pihaknya akan tetap meyakinkan para investor bahwa tuduhan yang dilayangkan polisi kepada perusahaannya itu tidak benar.

23 Juli 2017 04:30 WIB

Mentan Bersama Kapolri dan Ketua KPPU Gerebek Gudang Beras di Bekasi
Mentan Bersama Kapolri dan Ketua KPPU Gerebek Gudang Beras di Bekasi ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pasca penyegelan gudang beras anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera (PT TPS), yakni PT Indo Beras Unggul (PT IBU) di bilangan Bekasi, Kamis (20/7) lalu, Direktur TPS, Jo Tjong Seng, menegaskan bahwa aktivitas perusahannya masih berjalan normal seperti biasa.

"Produksi tetap berjalan. Pihak berwenang hanya memasang garis polisi terhadap stok yang ada di gudang kami dengan tujuan mengamankan barang untuk pemeriksaan hukum selanjutnya," beber Tjong Seng kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (22/7).

Saat ditanya ihwal merosotnya nilai saham perusahaannya di lantai bursa hingga 24,92 persen atau berada di level 1.205, Tjong Seng menyatakan bahwa pihaknya akan tetap meyakinkan para investor bahwa tuduhan yang dilayangkan polisi kepada perusahaannya itu tidak benar.


Komisaris PT TPS: Pemerintah dan Polri Jangan Hanya Main Gerebek

"Kami terus update para investor dan lembaga keuangan lainnya bahwa kami tidak melakukan pelanggaran. Karena itu produksi tetap berjalan," bebernya.

Lebih jauh, Tjong Seng pun kembali menegaskan bahwa selama ini pihaknya selalu berpegang teguh pada kualitas produk yang dihasilkan. Termasuk pula mentaati ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.

"Tidak benar jika PT IBU disebut membeli beras yang berstatus subsidi. Kami membeli gabah dari petani serta beras kepada mitra penggilingan lokal. PT IBU juga memproduksi beras kemasan berlabel untuk konsumen menengah atas sesuai dengan deskripsi mutu SNI," tukas Tjong Seng.

Diwartakan sebelumnya, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menggerebek gudang beras milik PT Indo Beras Unggul di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (20/7) lalu. Penggerebekan dilakukan terkait dugaan manipulasi harga beras.

Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, yang saat itu ikut dalam penggerebekan, jenis beras yang diproduksi PT IBU rata-rata jenis IR 64 yang disubsidi oleh pemerintah, yang selanjutnya dipoles menjadi beras premium.

"Setelah kami melihat data-data tadi, dari sektor pertanian, jenis beras ini adalah beras IR 64 subsidi pemerintah, yang kemudian dipoles menjadi beras premium," tutur Amran.

"Semula harganya hanya Rp 6.000 – Rp 7.000 per kilogram, kemudian dijual Rp 20.400 per kilogram. Berarti ada selisih sekitar Rp 14.000 per kilogram. Katakanlah selisihnya Rp 10.000 per kilogram dari harga semula, jika itu dikali 1 juta, berarti Rp 10 triliun selisihnya. Kalau itu yang terjadi, ini akan menekan konsumen dan membuat konsumen menjerit, tapi petaninya tidak dapat apa-apa," sambung Amran.

Seakan membantah pernyataan Amran, mantan Menteri Pertanian yang juga Komisaris PT TPS, Anton Apriyantono, mengatakan bahwa apa yang dituduhkan kepada perusahaannya itu fitnah besar.

"Itu fitnah besar. Jelas tidak benar. Apa definisi mengoplos? Kami kan menjual merek dengan kualitas tertentu, bukan varietas tertentu," kata Anton saat dikonfirmasi, Sabtu (22/7).

Anton juga menyanggah IR 64 merupakan beras yang disubsidi. Dia mengatakan, yang disubsidi itu raskin atau beras miskin, yang saat ini disebut beras sejahtera atau rastra.

"Jadi di lapangan, IR 64 itu sudah tidak banyak lagi. Selain itu, tidak ada yang namanya beras IR 64 yang disubsidi, ini sebuah kebohongan publik yang luar biasa. Yang ada adalah beras raskin. Subsidi bukan pada berasnya, tapi pada pembeliannya, beras raskin tidak dijual bebas, hanya untuk konsumen miskin," sambung Anton.

Kemudian, Anton juga mengatakan bahwa di dunia perdagangan beras dikenal kategori medium dan premium, dan Standar Nasional Indonesia atau SNI kualitas beras juga ada.

"Yang diproduksi TPS sudah sesuai SNI untuk kualitas atas," tandas Anton

Dituding Jual Ulang Beras Subsidi, Begini Penjelasan Tiga Pilar Sejahtera

Halaman: 
Penulis : Riana