logo


Fahri Ragukan Jokowi Bakal Dapat Tiket Pancalonan di 2019

Jokowi, hanya kader PDIP dan bukan ketua umum sebuah partai. Tak menutup kemungkinan, Jokowi ditinggalkan oleh banyak partai dalam Pilpres 2019.

22 Juli 2017 04:15 WIB

Presiden joko widodo
Presiden joko widodo istimewa

Fahri: Jokowi Bukan Ketum Partai, PT 20% Tak Jamin Kemenangan di 2019

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Hasrat pemerintah yang didukung oleh partai-partai politik koalisinya di parlemen dalam menggolkan RUU Pemilu ambang batas pemilihan presiden dan wakil presiden 20 persen menjadi kenyataan. UU Pemilu pun akhirnya disahkan. Lalu apakah dengan demikian Jokowi akan terpilih kembali?

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai bahwa 20 persen ambang batas tersebut tak lantas bisa mengantar Joko Widodo kembali ke istana. Terlebih, ungkap Fahri, lawan yang akan dihadapi pada PIlpres 2019 mendatang adalah Prabowo Subianto.

Secara pedas, Fahri malah menilai, bisa saja Jokowi justru tak dapat tiket untuk maju kembali bertarung di 2019.


Dukung Jokowi dalam Pilpres 2019, Romi: Kami PPP, Kami Jokowi

"Saya kira semua spekulatif. Kalau orang mengatakan bahwa ini cara Pak Jokowi menghambat orang lain, saya kira sudah banyak partai yang bisa mengajak orang lain. Kita juga enggak tahu nasib Pak Jokowi. Bisa jadi, dia juga enggak dapat tiket," ungkap Fahri Hamzah di Gedung DPR MPR, Jumat (21/7).

Lantas Fahri pun mencoba melihat potensi pencalonan presiden di 2019 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Bagi Fahri, jelas lebih terbuka lebar kans Prabowo untuk mencalonkan diri. Melihat posisinya sebagai ketua umum partai. Dukungan dan kepastian mengusung sudah pasti diberikan oleh kadernya serta koalisinya.

Sementara Jokowi, hanya kader PDIP dan bukan ketua umum sebuah partai. Tak menutup kemungkinan, Jokowi ditinggalkan oleh banyak partai dalam Pilpres 2019.

"Kalau dari kandidat yang ada, antara Pak Jokowi dan Prabowo, ya lebih kuat ke partainya Pak Prabowo lah. Dia ketua umum, ketua dewan pembina. Kalau dia ngumpul dengan beberapa partai lain, dia ya ketua umum. Sementara Pak Jokowi bukan ketua umum, dia bisa ditinggalkan oleh banyak partai," kata Fahri.

Bukan tak mungkin rakyat yang pada 2014 memili Jokowi bakal melompat menjadi pemilih bagi Prabowo di 2019 mendatang.

Sehingga bukanlah jaminan kemenangan Jokowi di 2014 bakal sama nasibnya di 2019, jika melawan Prabowo.

"Karena mood rakyat terhadap partai kan berubah-berubah," jelasnya.

Jadi, ia menegaskan, tak ada jaminan bahwa presidential threshold 20 persen justru menguntungkan Jokowi sebagai capres.

"Tapi ini juga enggak ada jaminan ini untungkan Pak Jokowi. Karena Pak Jokowi itu enggak grip (pegangan) partai kok. Beda sama pak Prabowo yang punya grip kan ke partai," sahutnya mengakhiri.

PAN Dinilai Berseberangan dengan Pemerintah, Jokowi Bilang Begini

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah