logo


KKP Realisasikan Lele Bioflok Masuk Pesantren

Melalui budidaya sistem bioflok produktivitas bisa ditingkatkan sampai tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional.

20 Juli 2017 16:42 WIB

Budidaya lele sistem bioflok.
Budidaya lele sistem bioflok. dok. Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) siap segera realisasikan program dukungan usaha budidaya lele sistem bioflok untuk 73 pondok pesantren yang tersebar di 15 Provinsi, menyasar pemberdayaan pada setidaknya 78.500 santri.

Proses identifikasi, verifikasi dan penetapan calon penerima program telah selesai dilaksanakan. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengungkapkan hal tersebut ketika memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Bantuan Pemerintah Budidaya Lele Sistem Bioflok di Kantor KKP, belum lama ini.

Hadir dalam acara tersebut di antaranya perwakilan elemen organisasi Islam, yaitu Perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah).


KKP Galakan Teknologi Budidaya Lele Bioflok, Ini Kata Pengusaha

Slamet menjelaskan, setidaknya ada dua alasan penting kenapa KKP lebih banyak mengalokasikan program ini pada pondok pesantren.

Pertama, pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk pembelajaran pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat dan menjadi ladang dalam mencetak wirausahawan baru.

Kedua, pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk meningkatkan kualitas SDM di lingkungan pesantren melalui penyediaan dan peningkatan gizi berbasis ikan.

”Kita ingin kualitas SDM para santri meningkat dengan membiasakan mengkonsumsi ikan. Saat ini tingkat konsumsi ikan di lingkungan pesantren hanya sekitar 9 kg per kapita/tahun, melalui program ini paling tidak ada peningkatan menjadi 15 kg per kapita per tahun,” jelas Slamet.

Progress target

Melalui budidaya sistem bioflok produktivitas bisa ditingkatkan sampai tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional.

Slamet menggambarkan dengan asumsi per paket bantuan sebanyak 12 kolam bulat (berdiameter 3 m), maka dapat hasil produksi setidaknya sebanyak 12,15 ton per tahun dengan nilai pendapatan mencapai Rp 182 juta. Dengan kata lain pembudidaya akan mendapatkan nilai tambah keuntungan rata-rata sebesar Rp 3.900 per kg.

Selain itu, dari kualitas produk, diakui konsumen bahwa daging lele hasil budidaya dengan sistem ini memiliki citarasa yang lebih enak dan warna daging lebih putih.

”Saya rasa sebagai tahap awal nilai ini cukup besar, dan sangat potensial untuk menggerakan ekonomi pesantren, dengan demikian pesantren akan lebih mandiri dan lebih maju dari sisi kualitas,” ungkapnya.

Sementara itu, Nahnudin, perwakilan dari Ponpes Mihbahul Huda, Tegal, Jawa Tengah, menyampaikan apresiasi atas realisasi program ”Lele Bioflok Masuk Pesantren.” Dirinya menyambut baik upaya pemerintah yang mulai konsen melirik pesantren sebagai objek pemberdayaan.

”Dengan adanya pengenalan usaha lele bioflok ini, nanti selain untuk kepentingan usaha juga sebagai ladang pembelajaran untuk mencetak wirausahawan di kalangan para santri yang selama ini hanya mendapatkan pembelajaran mengaji saja. Selama ini kami hanya konsen belajar ngaji. Mulai saat ini kemampuan santri akan lebih,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Samsul Arifin dari Ponpes Al Amiriah. Samsul berharap, program ini akan mendorong kemandirian pesantren melalui pengenalan usaha agribisnis budidaya lele, terlebih jumlah santri yang cukup banyak yang mencapai 300 orang santri inap dan 1.200 santri sekolah.

”Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan dukungan dan perhatian bagi perkembangan pesantren yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Melalui koperasi

Nantinya, dukungan ini akan dialokasikan melalui wadah koperasi yang ada di setiap pesantren. Koperasi inilah yang nantinya berperan dalam mengelola kegiatan usaha sekaligus sebagai penyangga akses pasarnya.

Oleh karenanya, Slamet berpesan agar koperasi ini dapat berperan secara aktif guna menjadi mitra usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan para santri.

”Sisa dari hasil penjualan terhadap produksi ikan lele, agar digunakan untuk mengembangkan usaha budidaya ikan. Penting melakukan re-investasi untuk kesinambungan usaha,” tambah Slamet.

Pengawasan melekat

Dalam menjamin keberhasilan program ini, pihak KKP juga akan menggandeng berbagai pihak untuk konsen melakukan pengawalan dan pendampingan baik teknis maupun manajemen usahanya. Pihak-pihak tersebut antara lain Unit Pelaksana Teknis (UPT), konsultan bisnis, perguruan tinggi, para pakar dan penyuluh.

Di samping pondok pesantren, program ini juga dialokasikan untuk mendukung usaha masyarakat di kawasan perbatasan antara lain Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Belu, Kabupaten Sarmi dan Wamena.

Kawasan perbatasan menjadi bagian fokus KKP dalam upaya menopang kebutuhan pangan dan gizi masyarakat, apalagi masyarakat di sana cenderung sulit mendapatkan akses pangan yang bergizi seperti ikan.

Usung Teknologi Bioflok dan Akuaponik, KKP Ajak Santri Beternak Lele

Halaman: 
Penulis : Riana,Yusran Edo Fauzi