logo


UNJ Gelar Seminar Bertajuk Membangun Generasi Berintegritas dan Anti Korupsi

Tujuan acara tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran, terlebih kepada mahasiswa, akan pentingnya karakter anti korupsi yang sudah seharusnya tertanam pada diri setiap individu.

20 Juli 2017 14:04 WIB

UNJ Gelar Seminar Bertajuk Membangun Generasi Berintegritas dan Anti Korupsi
UNJ Gelar Seminar Bertajuk Membangun Generasi Berintegritas dan Anti Korupsi ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Beberapa waktu lalu, Fakultas Teknik, Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) angkatan tahun 2015 mengadakan seminar pendidikan karakter dengan tema "Membangun Generasi Berintegritas dan Anti Korupsi".

Acara yang diadakan di Gedung Dewi Sartika IDB 1, Aula Maftuchah Yusuf, Kampus UNJ, Jakarta Timur itu menghadirkan pembicara seperti Ir. Harris Iskandar Ph.D, selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud); Erlangga Adikusumah, selaku Fungsional Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK RI; Wahyu Farah Dina S.P, M,Sc, selaku Direktur Internal Indonesian Heritage Foundation; dan Dr Cucu Sugiarti, M.Pd, yang merupakan pemerhati pendidikan karakter yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Singaperbangsa Karawangan (UNISKA).

Ketua Pelaksana seminar, Resa Husnul Fadhilah, mengatakan, tujuan acara tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran, terlebih kepada mahasiswa, akan pentingnya karakter anti korupsi yang sudah seharusnya tertanam pada diri setiap individu.


Demo Rektor, Ketua BEM UNJ Kena Drop Out

"Jika kita sebagai masyarakat terlibat dan punya kesadaran dalam memberantas korupsi, serta mampu membangun karakter antikorupsi, maka tentu akan membuat Indonesia menjadi lebih baik," tutur Reza di Jakarta, belum lama ini.

Dalam seminar yang dihadiri lebih dari 150 mahasiswa tersebut, Harris Iskandar menyampaikan bahwa pendidikan karakter penting untuk membangun generasi berintegritas dan anti korupsi. Kata dia, hal tersebut penting diterapkan karena berkaitan dengan berlangsungnya revolusi digital, perubahan peradaban masyarakat dan semakin tegasnya abad kreatif.

Selain itu, kata Haris, pendidikan karakter penting sebagai pondasi untuk membangun bangsa dan diharapkan mampu mewujudkan tujuan program Indonesia Emas 2045.

"Pendidikan karakter juga dianggap penting karena merupakan upaya untuk memperkuat karakter siswa di sekolah melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Pemerintah dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) sendiri juga memiliki program pendidikan karakter yang disebut Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter," papar Haris.

Pada kesempatan yang sama, Erlangga Adikusumah,selaku Fungsional Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK RI, menyampaikan bahwa awal mula korupsi biasanya diawali dari hal-hal kecil yang terkesan sepele dan terlihat umum dilakukan masyarakat. Padahal, kata Erlangga, hal sekecil apapun mengenai korupsi tanpa disadari akan memiliki dampak yang besar bagi masyarakat.

Lebih jauh, Erlangga mengingatkan, setiap individu berhak untuk melaporkan kasus korupsi sekecil apapun kepada pihak yang berwenang maupun KPK sebagai institusi yang memang jelas bergerak di bidang pemberantasan korupsi.

Korupsi, menurut Erlangga, saat ini tidak hanya dilakukan oleh kaum berdasi saja, namun juga masyarakat kecil. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan korupsi.

"Oleh karena itu, untuk mencegah bibit-bibit korupsi ini timbul, maka peran keluarga dan masyarakat sangatlah penting. Anak harus diajarkan melalui kebiasaan. Sebagai contoh, penerapan pencegahan korupsi pada keluarga dapat diterapkan melalui buku cerita dan permainan edukatif yang mengkampanyekan anti korupsi," tutur Erlangga.

Senada dengan Erlangga, Dr Cucu Sugiarti, M.Pd. yang merupakan pemerhati pendidikan karakter yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Singaperbangsa Karawangan (UNISKA), mengatakan, untuk mencegah perilaku korupsi terlebih bagi mahasiswa, sedikitnya ada 9 nilai karakter yang harus diterapkan dalam diri mahasiswa.

"Ke-9 nilai karakter tersebut adalah jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, mandiri, adil, berani dan peduli. Masing-masing karakter tersebut apabila seluruhnya mampu diterapkan maka akan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Terlebih mahasiswa yang memiliki tanggung jawab sebagai agent of change sehingga diharapkan mampu menerapkan dengan baik yang diawali dari kebiasaan sehari-hari," pungkas Dr Cucu.

 

Surat Terbuka untuk Rektor UNJ

Halaman: 
Penulis : Riana