logo


Ini Lho Teknik Jitu Budidaya Kakao

Cara yang paling banyak dipakai perbanyakan kakao adalah generatif karena dinilai sangat mudah

15 Desember 2014 10:39 WIB

Budidaya Kakao
Budidaya Kakao

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tanaman kakao yang dianjurkan diperbanyak dengan biji (generatif) adalah kakao hibrida tipe lindak yang telah terbukti berproduksi tinggi dan tahan hama penyakit. Sedangkan kakao yang diperbanyak secara vegetatif biasanya berlaku untuk tanaman kakao jenis mulia.

Untuk pengembangbiakan secara generatif dan vegetatif diperlukan pohon induk yang berbeda. Menurut pihak Puslitkoka, pohon induk yang akan digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

Mempunyai daya hasil 200% dari daya hasil rata-rata populasi tanaman
Menghasilkan biji dengan berat kering lebih dari 1 gr, kandungan lemak lebih dari 50% dan persentase kulit ari kurang dari 12%
Tahan atau toleran terhadap hama penyakit tanaman kakao

Cara yang paling banyak dipakai pelaku usaha untuk perbanyakan kakao adalah generatif karena dinilai sangat mudah, bisa menghasilkan bibit dalam waktu cepat dan jumlah banyak. Untuk menyiapkan benih, buah dipotong membujur, lalu yang diambil hanyalah benih yang berada di tengah buah, yakni sebanyak 20-25 biji. Pisahkan biji dari daging buah yang menempel dengan cara meremas dagingnya dalam serbuk gergaji, lalu cuci dengan air dan bilas biji dengan larutan fungisida. Kemudian keringkan di bawah terik sinar matahari.


UNS Solo Gelar Workshop Diseminasi Hasil Penelitian Pengembangan Agribisnis Kopi

Sebelum benih disemai, usahakan benih lebih dulu dicelup dalam larutan formalin 2,5% selama 10 menit. Barulah benih dibenamkan 1/3 bagian ke media semai berupa pasir dengan catatan posisi mata benih menghadap ke bawah. Pengendalian hama dan penyakit untuk bibit bisa dilakukan dengan menyemprotkan larutan insektisida dan fungisida setiap 8 hari. Tetapi saat penyemprotan, jangan digabungkan antara insektisida dan fungisida, karena hasilnya tidak akan maksimal. Ciri-ciri bibit yang siap ditanam di lahan, yakni telah berumur 4-5 bulan, tinggi 50-60 cm, jumlah daun 20-45 helai, diameter batang 8 mm dan kondisinya sehat.

Tanaman kakao bisa ditanam di mana saja, namun lebih optimal dibudidayakan di daerah yang agak dingin. Di Indonesia, kakao lebih banyak ditanam di Sumatera, Jawa Timur dan Sulawesi. Tanaman kakao juga tahan segala jenis cuaca, karena dari beberapa daerah tersebut merupakan daerah gersang. Berikut tahapan budidaya kakao :

Persiapan Lahan
Lahan dipersiapkan dengan membersihkan alang-alang dan gulma lainnya. Selanjutnya tanam tanaman pelindung seperti Lamtoro, Gleresidae dan Albazia. Tanaman ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao (perbandingan 1:3).

Penanaman

a. Pengajiran. Ajir dibuat dari bambu tinggi 80 - 100 cm, kemudian pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran. Selanjutnya untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama.

b. Lubang Tanam. Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada akhir musim hujan, kemudian berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per lubang.

c. Tanam Bibit. Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik (berumur 1 tahun). Penanaman kakao dengan sistem tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa.

Bibit dipindahkan ke lapangan setelah umur 4-5 bulan, sebaiknya pada akhir musim hujan. Jarak lubang/pohon dengan lubang lain sekitar 4 meter. Buat lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm, berikan pupuk kandang sebanyak 0,5-1 kg/lubang. Sebelum penanaman bibit dipastikan bahwa tanaman naungan sudah mempunyai tinggi tanaman sekitar 1-1,5 m.

Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon, selanjutnya buat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak (dibuat lubang memakai parit atau tangan sekitar 20 cm). Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali. Tak hanya itu, Ahmad juga melakukan pemangkasan cabang ketika tinggi pohon sudah lebih dari 4-5 meter. Tujuannya untuk meningkatkan produktifitas hasil buah.

Pengendalian Hama/Penyakit
Untuk penyakit tanaman kakao, Ahmad mengemukakan bahwa hampir tidak ada penyakit yang menyerang bibit kakao. Sedangkan hama yang biasanya menyerang bibit adalah belalang dan kutu putih. Untuk mengatasi hal tersebut, Ahmad biasanya menyemprotnya dengan pestisida merek Curacron yang biasanya dilakukan minimal sebulan sekali. Dosis yang dianjurkan adalah 1 ml obat dicampur 2 liter air. Penyemprotan ditujukan pada bagian batang dan daun bibit kakao karena bagian itulah yang biasanya diserang oleh hama.

Panen
• Pemetikan Buah. Buah kakao bisa dipanen setelah tanaman dipelihara selama 3 tahun. Buah yang sudah masak dipetik dengan menggunakan pisau atau gunting tanaman. Jumlah biji dalam buah antara 20-60 biji. Untuk mendapatkan 1 kg biji kakao kering (kadar air 8– 7 %) diperlukan sekitar 25-35 buah kakao. Produksi tanaman ditentukan oleh tingkat kesesuaian lahan. Tingkat kematangan buah dapat dilihat dari perubahan warna buah, yaitu jika alur buah sudah berwarna kuning, maka tingkat kematangannya C, sedangkan jika alur dan punggung buah berubah kuning, tingkatannya B. Jika seluruh permukaan buah sudah berwarna kuning atau kuning tua, maka tingkat kematangannya adalah A dan A+.

Pada umumnya buah kakao dipanen jika tingkat kematangannya sekurang-kurangnya B. Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pagi hari. Buah-buah tersebut kemudian dikumpulkan di suatu tempat sambil menunggu untuk dipecahkan. Kegiatan tersebut dikenal dengan pemeraman buah.

• Pemecahan Buah. Pemecahan buah yang sudah terkumpul kemudian dipecahkan dengan alat pemukul yang terbuat dari kayu. Buah tersebut dipukul pada bagian punggung dengan arah miring. Bila kulit telah terbagi dua, kulit bagian ujung dibuang dan tangan kanan menarik biji dari plasenta. Biji kemudian ditempatkan di atas lembaran plastik atau di dalam keranjang bambu. Pada prinsipnya biji basah ini sudah dapat dijual langsung ke pasar. Namun demikian harga biji basah atau fermentasi masih rendah.

• Fermentasi. Fermentasi biji kakao ditujukan untuk mematikan lembaga biji kakao agar tidak dapat tumbuh dan untuk menimbulkan aroma yang khas cokelat. Fermentasi dilakukan di dalam suatu wadah/kotak kayu dengan tebal tumpukan biji kakao tidak boleh lebih dari 42 cm. Fermentasi yang sempurna dilakukan dalam waktu 5 hari, namun pada hari kedua harus dilakukan pengadukan/pembalikan. Sesudah itu biji dibiarkan dalam tempat fermentasi sampai hari kelima. Selama proses fermentasi, sebagian air yang terkandung dalam biji akan hilang dan aroma seperti asam cuka akan keluar dari tempat fermentasi. Biji yang sudah terfermentasi kemudian diangin-anginkan sebentar atau direndam dan dicuci sebelum dikeringkan.

• Perendaman dan Pencucian. Perendaman mempunyai pengaruh terhadap proses pengeringan. Selama proses perendaman berlangsung, sebagian kulit biji kakao terlarut sehingga kulit bijinya lebih tipis dan rendemennya berkurang. Dengan demikian proses pengeringan menjadi lebih cepat. Sesudah perendaman, dilakukan pencucian. Tujuan pencucian untuk mengurangi sisa-sisa pulp (selaput halus yang berlendir menyelimuti biji kakao) yang masih menempel pada biji dan mengurangi rasa asam pada biji. Bila kulit biji masih ada sisa-sisa pulp, biji mudah menyerap air dari udara sehingga mudah terserang jamur dan juga memperlambat proses pengeringan.

• Pengeringan. Tujuan pengeringan adalah untuk menurunkan kadar air biji dari 60% sampai pada kondisi dimana kandungan air dalam biji tidak dapat menurunkan kualitas biji dan biji tidak dapat ditumbuhi cendawan. Pengeringan yang terbaik adalah dengan sinar matahari. Untuk mengeringkan biji sampai pada kadar airnya mencapai 7 – 8 % diperlukan waktu 2 – 3 hari, tergantung dari kondisi cuaca. Jika cuaca tidak memungkinkan, pengeringan dapat dilakukan dengan alat pengering buatan. Setelah itu biji kakao terfermentasi yang sudah kering siap dipasarkan.

Meski kakao bisa ditanam di mana saja, tetapi menurut pihak Puslitkoka ada lokasi yang sangat optimal untuk tanaman ini. Misalnya saja, daerah dengan curah hujan 1.500-2.500 mm per tahun, ketinggian 0-600 mdpl untuk kakao mulia dan 0-300 mdpl untuk kakao lindak, kemiringan lahan 0-8%, tekstur tanah lempung berpasir, pH 6-7, suhu 24-28°C dan kelembaban 80%. Sentra kakao berskala besar yang terdapat di Indonesia, antara lain Sumatera Barat (Kabupaten Agam dan Padang Pariaman), Lampung, Kalimantan (Pakkat dan Sigapalang) dan Sibarosok (Sulawesi Utara).

 

Inilah Alasan Kenapa Durian Punya Bau yang Menyengat

Halaman: 
Penulis : Riana, Ali Hamid