logo


KADIN Harap Ritel Modern Tidak 'Membunuh' Pasar dan Warung Tradisional

Edi Ganefo berharap agar ritel modern tidak 'membunuh' pasar atau warung tradisional maupun sebaliknya. Dan, juga ritel modern jangan 'membunuh' diri mereka sendiri.

11 Juli 2017 03:00 WIB

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Edi Ganefo
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Edi Ganefo Tribun Pontianak/Anesh Viduka

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah sedang menggodok aturan baru untuk mengatur bisnis ritel modern. Tujuannya untuk melindungi keberadaan pasar tradisional dari 'hantaman' ritel modern.

Revisi terhadap Peraturan Presiden (Perpres) terkait dengan Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern terus diupayakan penyelesaiannya.

Salah satu poin penting yang akan tercantum di dalam revisi Perpres tersebut, yakni membatasi ekspansi ritel modern terkait pembatasan rasio atau persentase kepemilikan gerai minimarket. Tujuannya, yaitu membatasi monopoli kepemilikan dari satu grup korporasi (atau beberapa investor saja) dalam sebuah jaringan minimarket, di mana diminta dikaji secara bijak.


Kadin Dorong Taiwan Investasi di Indonesia

Ketua baru Kamar Dagang dan Industri (KADIN) periode 2015­2020, Edi Ganefo, berharap agar ritel modern tidak 'membunuh' pasar atau warung tradisional maupun sebaliknya. Dan, juga ritel modern jangan 'membunuh' diri mereka sendiri.

"Ritel modern juga jangan membunuh diri mereka sendiri seperti yang sudah terjadi sekarang ini, di mana ada yang tutup. Kita berharap saling mendukung. Jadi yang kuat membantu yang lemah. Kita berharap ritel modern justru dapat membantu juga pasar-pasar atau warung tradisional," urai Edi kepada Jitunews.com, saat ditemui di Ruang Delegasi lantai 8 Gedung Nusantara III Kompleks MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Senin (10/7) sore.

Lanjut Edi, pihaknya juga memberikan dukungan serta kekuatan kepada warung atau pasar tradisional dalam bentuk 'warung wiranusa' yang berbasis aplikasi di seluruh Indonesia. Tujuannya, agar warung tradisional mampu bersaing dengan ritel modern.

"Jadi di seluruh Indonesia akan ada 'warung wiranusa' yang berbasis aplikasi. Jadi bisa mereka mendapatkan barang atau material yang mereka jual itu langsung dari pabrik atau distributor besar. Tidak melalui rentetan yang panjang. Jadi kita memangkas jalur distribusi. Sehingga harga dapat bersaing," papar Edi menambahkan.

Sekedar informasi, sebelumnya Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Tjahya Widayanti, mengatakan, bagi waralaba ritel modern ke depannya akan dibatasi threshold kepemilikannya. Setiap ritel modern wajib mewaralabakan 40 persen dari penambahan gerai yang ada.

Namun demikian, untuk aturan ini tidak berlaku untuk cafe dan restoran. Menurut Tjahya, untuk peritel makanan cepat saji threshold-nya akan berbeda.

Di tempat berbeda, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan, pembatasan rasio persentase kepemilikan korporasi untuk mencegah perkembangan kepemilikan dengan berlebihan.

Karena pemerintah ingin perekonomian masyarakat ikut berkembang. Itu berarti, grup korporasi tetap bisa saja menambah gerai minimarketnya, asal rasionya tidak lebih dari yang ditetapkan oleh pemerintah.

Pasar Tradisional 'Terancam', Jokowi Usulkan Sekolah Jurusan 'Online Store'

Halaman: 
Penulis : Ferro Maulana, Riana