logo


KKP Kelola Pulau Lusi Sebagai Destinasi Wisata Baru di Sidoarjo

Pulau reklamasi hasil timbunan lumpur pengerukan muara Sungai Porong ini memiliki luas total 94 Ha.

5 Juli 2017 12:01 WIB

Pulau Sarinah di Sidoardjo
Pulau Sarinah di Sidoardjo Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sudah sepuluh tahun silam bencana semburan lumpur panas terjadi di Porong, Sidoarjo yang mengakibatkan sekitar 19 desa tenggelam. Selama hampir lima tahun lumpur yang meluap dibuang ke Sungai Porong, lalu aliran sungai menghanyutkan lumpur yang kemudian membentuk pulau baru di pesisir timur Sidoarjo. Warga sekitar menamakan pulau yang baru terbentuk dengan sebutan Pulau Sarinah atau Pulau Lusi (Lumpur Sidoarjo).

Pulau yang terbentuk dari hasil sedimentasi lumpur biasanya tidak terdapat tumbuhan di atasnya, sehingga hasil kerukan tersebut ditimbun/direklamasi di area pembuangan yang dikelilingi oleh konstruksi Jetty sehingga membentuk hamparan tanah yang berbentuk pulau yang saat ini dikenal dengan Pulau Lumpur Sidoarjo (Lusi). Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti Poerwadi, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/7).

Pulau reklamasi hasil timbunan lumpur pengerukan muara Sungai Porong ini memiliki luas total 94 ha. Di dalam lahan reklamasi tersebut juga dibangun tambak Wanamina seluas 4,90 ha yang tujuan awalnya adalah untuk memantau perilaku biota ikan, apakah ada pengaruh lumpur terhadap kehidupan ikan di muara. Berdasarkan hasil pengamatan selama tiga tahun, ikan tetap dapat hidup dengan baik bahkan telah berhasil memproduksi ikan bandeng. Sedangkan sisa lahan seluas 89,10 ha belum dimanfaatkan secara optimal.


Gelar Acara HICI, Kemenpar Akui Akan Mampu Mendorong Peningkatan Jumlah Wisatawan

Brahmantya menambahkan, kegiatan wisata di Pulau Lusi belum terkelola dengan baik karena terbentuknya pulau adalah sebagai lahan pembuangan lumpur Porong bukan didesain sebagai destinasi wisata.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka optimalisasi potensi Pulau Lumpur, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat akan mengelola Pulau Lusi sebagai Kawasan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) yakni pengembangan wisata yang berwawasan lingkungan dengan tema pemanfaatan, penelitian dan pembelajaran serta pelestarian mangrove.

Proses serah terima aset dari BPLS kepada KKP telah dirintis sejak tahun 2015. Namun, proses tersebut memakan waktu cukup lama karena beberapa kendala administrasi terkait penilaian asset pulau serta pengurusan kepemilikan atas tanah Pulau Lusi sehingga baru terealisasi secara resmi pada bulan Januari 2017. Selama kurun waktu proses serah terima asset tersebut, KKP pada tahun 2015 telah melakukan beberapa sentuhan pembangunan di atasnya dalam rangka pengembangan PRPM antara lain: pedestrian track, tracking mangrove, gazebo, menara pandang, kantor pengelola, rumah genset, WC dan instalasi pengolahan air. Namun, pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan lanjutan terhenti dan vakum pada tahun 2016 karena menunggu kejelasan status proses alih fungsi lahan Pulau Lusi dari BPLS kepada KKP secara resmi.

Pada tahun 2017, KKP akan melakukan sertifikasi lahan bekerja sama dengan BPN, agar status pemilikan dan penguasaan lahan sebagai aset KKP bisa jelas. Ditjen PRL KKP juga sedang mempersiapkan kelembagaan pengelolaan dan kelompok masyarakat, bekerja sama dengan Pemda Sidoardjo dan Dinas KP Provinsi Jawa Timur untuk membentuk kelompok pengelola pemeliharaan berbagai flora dan manajemen aset yang sudah ada. Pengembangan ekowisata di Pulau Lusi harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat, tambahnya.

Keberhasilan pemanfaatan Tambak Wanamina akan menjadi salah satu potensi atraksi wisata yang akan dikembangkan KKP dalam konsep PRPM Pulau Lusi ke depan. Minawisata dapat dikembangkan dengan memanfaatkan kondisi pasang surut untuk kegiatan pemancingan. Pola silvofisheries dapat menjadi pilihan sebagai salah satu daya tarik ekowisata. Pulau Lusi saat ini belum memiliki sarana sanitasi dan kebersihan yang memadai serta kios penjual makanan/minuman belum tersedia. Untuk itu, sebagai upaya pengembangan ke depan agar dapat menjadi destinasi ekowisata, akan dibangun sarana dan prasarana sanitasi/kebersihan, kios makanan/minuman, dan air bersih.

Kawah Sileri Gunung Dieng Meletus, 4 Orang Wisatawan Luka-luka

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Vicky Anggriawan
 
×
×