logo


Bahaya Kesehatan yang Mengintai Penumpang dan Kru Pesawat

Para peneliti menemukan adanya hubungan sebab-akibat yang jelas antara masalah kesehatan dengan fitur desain pesawat yang buruk.

29 Juni 2017 12:30 WIB

Ilustrasi pesawat.
Ilustrasi pesawat. google

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anda mungkin mengetahui bahwa setidaknya satu dari sepuluh orang memiliki ketakutan (phobia) naik pesawat terbang. Entah karena kekhawatiran terhadap aksi terorisme atau ketakutan terhadap potensi kecelakaan yang mengakibatkan pesawat jatuh.

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 200 awak (baik penumpang maupun kru) pesawat, yang dipimpin oleh University of Stirling, sebuah pola terlihat jelas dari gejala akut serta kronis yang muncul. Dimulai dari pusing dan sakit kepala sampai dengan masalah penglihatan serta kesulitan bernapas. 

Para peneliti menemukan adanya hubungan sebab-akibat yang jelas antara masalah kesehatan dengan fitur desain pesawat yang buruk, yang memungkinkan pasokan udara terkontaminasi oleh cairan seperti bahan bakar terhadap mesin selama penerbangan.


Fakta-Fakta Seputar Dunia Penerbangan yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Masalah selanjutnya timbul dari cara sirkulasi udara dari mesin pesawat sebelum tercampur dengan udara kabin yang ada dan kemudian disirkulasikan ulang. Udara yang dialirkan dari mesin seringkali mengandung racun yang disebabkan oleh gesekan antara bagian-bagian mesin yang bergerak dengan minyak pelumas yang dipakai.  

Akan tetapi, satu-satunya pesawat saat ini yang tidak menggunakan metode penyediaan kabin udara yaitu Boeing 787 Dreamliner, yang justru memilih kompresor listrik dalam mengambil udara dari atmosfer.

Sementara itu, bahan kimia berbahaya di udara seperti organofosfat mampu menimbulkan serta menyebarkan 'malapetaka' pada lapisan sel saraf manusia. 

Organofosfat sendiri dapat menyebabkan peningkatan mortalitas dan komplikasi seperti lemah jantung, kejang dan neuropati. Paparan bahan kimia tersebut juga diyakini bisa meningkatkan kemungkinan seseorang  terserang kardiovaskular.

Risiko bagi Penumpang dan Kru Pesawat

Menjadi sakit setelah melakoni perjalanan penerbangan pada umumnya disebut Sindroma Aerotoxic. Dampak yang ditimbulkan di antaranya kelelahan kronis dan masalah dengan kognisi, pernapasan serta penglihatan yang muncul setelah terbang. Beberapa orang mengalami hal ini hanya sementara, sedangkan yang lain mengalami kerusakan neurologis yang berkelanjutan. 

Selain penumpang, hal ini juga sangat berisiko bagi kru pesawat, yang terpapar udara kabin di mana lebih sering ketimbang masyarakat umum. Tim ilmuwan menyebutnya sebagai masalah kesehatan umum dari resiko pekerjaan, dan mereka (ilmuwan) juga percaya bahwa penumpang, terutama wanita hamil, perlu menyadari risiko bahaya ini.

Lalu, para periset menyarankan agar gangguan terhadap risiko kerja di dalam pesawat terbang mendapat pengakuan resmi dari lembaga penerbangan internasional dan agar diadakan sebuah protokol penyelidikan medis terkait hal tersebut.

Selain itu, juga perlunya tinjauan ulang dalam melihat kasus kebocoran minyak yang ditemukan di mana tiga perempatnya menyebabkan gejala kesehatan yang sangat buruk pada penumpang maupun kru kabin pesawat. 

Namun demikian, otoritas penerbangan justru menyangkal bahwa masalah kesehatan ini ada, dengan mengklaim kurangnya bukti. Akan tetapi, pilot dan pramugari yang tak terhitung jumlahnya, telah menderita kesehatan buruk dari udara kabin tersebut. 

Tahun 2016 lalu, misalnya, ada kasus 13 pramugari yang membutuhkan perawatan darurat di Atlanta, Amerika Serikat. Dokter pun menemukan masalah kesehatan yang disebabkan oleh udara beracun. 

Bahkan, seorang wanita bernama Vanessa Woods, mengalami masalah neurologis permanen akibat paparan hidrokarbon. Dokter pun mengaitkan perempuan tersebut dengan profesinya sebagai pramugari. Pada 2012 silam, co-pilot British Airways meninggal setelah mengeluh mual dan sakit kepala yang dipercaya disebabkan dari dampak asap kokpit.

Kerja Sama dengan BNN, Citilink Pastikan Karyawan Aman dari Jerat Narkoba

Halaman: 
Penulis : Ferro Maulana, Nugrahenny Putri Untari