logo


Lawan Terorisme, Warga Tolak Pemakaman Jenazah Pelaku Teror Mapolda Sumut di Areal Kampung

Warga tak ingin ada generalisasi opini publik terhadap kampung mereka seolah-olah kampung mereka merupakan sarang teroris.

29 Juni 2017 04:00 WIB

Anggota Brimob Polda Metro Jaya menjaga tempat kejadian perkara (TKP) penggerebekan dan penembakan terduga teroris di Setu, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/12).
Anggota Brimob Polda Metro Jaya menjaga tempat kejadian perkara (TKP) penggerebekan dan penembakan terduga teroris di Setu, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/12). Antara

MEDAN, JITUNEWS.COM - Penyerangan terhadap Mapolda Sumatera Utara oleh dua orang terduga teroris menyulut kegeraman warga. Penyerangan itu dinilai telah merecoki nilai-nilai keagaman dan kearifan lokal warga Medan pada umumnya.

Tak sedikit sesepuh Sumatera Utara yang mengutuk tindakan tak manusiawi itu. Apalagi, penyerangan itu dilakukan pada saat umat muslim setempat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438H, Minggu (25/6/2017).

Satu korban tewas dalam penyerangan itu. Seorang anggota polisi, Ipda (Anumerta) Martua Sigalingging meregang nyawa setelah ditikam para pelaku teror. Peristiwa penyerangan itu terjadi persis kala ia mendapatkan jadwal piket jaga.


Khatib yang Singgung Kasus Ahok dalam Kotbah Abaikan Seruan Menag

Kecaman terhadap aksi para teroris tidak hanya mewujud pada pernyataan pers atau rilis media. Lebih dari itu, warga menolak jenasah teroris pelaku penyerangan dimakamkan di kawasan rumah orang tuanya di Dusun V, Desa Sambirejo Timur, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Warga setempat menolak jenasahnya dimakamkan di areal kampung mereka. Alasannya, warga tak ingin ada generalisasi opini publik terhadap kampung mereka seolah-olah kampung mereka merupakan sarang teroris.

Hal itu terjadi khususnya pada Ardial Ramadhana (31), salah satu dari dua orang pelaku penyerangan yang ditembak polisi di areal Mapolda Sumut setelah dia menikam anggota polisi. Ardial merupakan warga Dusun V, Sambirejo, Deli Serdang, Sumatera Utara. Ardial melakukan penyerangan itu bersama seorang rekannya Syawaludin Pakpahan. Pakpahan kini tengah dirawat di RS setelah timah panas polisi bersarang di pahanya.

"Tadi kami sudah koordinasi dengan bapak-bapak polisi mengenai pemakaman tersangka. Karena jenazahnya kami tolak, pemakamannya tidak jadi di sini," ungkap Sulisno (50), Kepala Dusun V, Rabu (28/6/2017) kepada wartawan.

Tak hanya melarang pemakaman jenasah Ardial, Sulisno dan sejumlah warga juga melarang orangtua Ardial untuk tinggal di Dusun V lagi. Apalagi, masa kontrak rumah yang ditempati orangtua Ardial sudah habis.

"Enggak boleh lagi mereka tinggal di sini. Kebetulan kan kontrak rumah yang mereka tempati sudah habis. Di sini juga sudah enggak ada kontrakan," katanya.

Kejar Target Jumlah Wisatawan, Kemenpar Luncurkan Program Mudik Penuh Pesona Tahun 2017

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas