logo


Bangunan Peninggalan Bung Karno untuk Jakarta

Soekarno dibantu arsitek seperti Frederich Silaban, R.M. Soedarsono, dan para arsitek junior, telah memvisualisasikan sejumlah karya arsitektur dalam wujud bangunan yang masyarakat kenal saat ini.

18 Juni 2017 17:15 WIB

Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. dok. Jitunews/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Tidak terhitung sudah berapa banyak jasa Ir Soekarno bagi Indonesia. Selain beperan penting bagi kemerdekaan, Soekarno juga meninggalkan sejumlah bangunan bersejarah yang membuat namanya akan selalu dikenang rakyat Indonesia.

Lulus dari jurusan teknik sipil Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) pada tahun 1926, Soekarno telah sering memberikan kontriubusi ilmunya untuk dunia arsitektur. Bahkan, dalam masa pengasingannya di Bengkulu mulai tahun 1938, Soekarno sempat terlibat dalam sejumlah proses pembangunan rumah dan renovasi Masjid Jami’ yang berada di tengah kota.

Begitu pula di Jakarta, Soekarno dibantu arsitek seperti Frederich Silaban, R.M. Soedarsono, dan para arsitek junior, telah memvisualisasikan sejumlah karya arsitektur dalam wujud bangunan yang masyarakat kenal saat ini. Apa saja itu?


Kisah Soekarno dan Marhaen yang Mengilhaminya

Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal dibangun pada tahun 1951. Arsitek utama yang menangani masjid kebanggan Indonesia tersebut adalah Frederich Silaban, melalui sayembara maket masjid yang dimenangkannya. Frederich kemudian ditugasi membuat desain Masjid Istiqlal secara keseluruhan. Kala itu, Soekarno merupakan Ketua Dewan Juri sayembara maket masjid tersebut. Masjid Istiqlal memiliki kubah berdiameter 45 meter dan ditopang 12 tiang besar. Mengusung konsep arsitektur modern, dinding dan lantai Masjid Istiqlal berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Arsitektur Masjid Istiqlal menggambarkan kehidupan bangsa Indonesia berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika.

Monumen Nasional (Monas)

Monas merupakan salah satu ikon kota Jakarta yang paling dikenal masyarakat. Dengan tinggi 132 meter, Monas dibangun untuk memperingati perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Presiden Soekarno memerintahkan pembangunan Monas pada tanggal 17 Agustus 1961. Monas kemudian dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Arsitek yang menangani pembangunan Monas adalah Frederich Silaban yang kemudian dilanjutkan oleh R.M. Soedarsono. Diskusi Soekarno dan Frederich Silaban terkait desain Monas sempat berjalan alot hingga akhirnya Soekarno meminta R.M. Soedarsono untuk melanjutkan proses pembangunan tersebut.

Patung Dirgantara/Pancoran

Patung Dirgantara, atau yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran, dirancang oleh Edhi Sunarso. Sementara itu, Ir Sutami didaulat sebagai arsitek pelaksana. Desain Patung Dirgantara sendiri dibuat berdasarkan keinginan Soekarno untuk menunjukkan keperkasaan rakyat Indonesia di sektor Kedirgantaraan. Patung Dirgantara selesai dibangun pada tahun 1966. Berat Patung Dirgantara sendiri ditaksir sekitar 11 ton.

Hotel Indonesia

Hotel ini merupakan hotel berbintang utama yang dibangun di Jakarta. Dirancang oleh arsitek Amerika Serikat, Abel Sorensen dan istrinya, Wendy, Hotel Indonesia diresmikan Presiden Soekarno pada tanggal 5 Agustus 1962. Peresmian hotel ini juga dilaksanakan guna menyambut Asian Games ke-4 pada tahun 1962.

Wisma Nusantara 

Ide pembangunan Wisma Nusantara berasal dari keinginan Soekarno untuk membangun gedung pencakar langit di kota Jakarta. Wisma Nusantara difungsikan sebagai gedung perkantoran setinggi 117 meter dan 30 lantai, yang terletak di Bundaran HI, Jakarta. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1964 dan selesai pada tahun 1967.

Gedung Sarinah

Gedung Sarinag dibangun pada tahun 1963 dan diresmikan pada tahun 1967. Pembangunan Gedung Sarinah diprakarsai oleh Soekarno yang pada saat itu menginginkan adanya pusat perbelanjaan modern yang dapat memenuhi kebutuhan rakyat akan barang-barang dengan harga terjangkau tapi berkualitas bagus. Nama Sarinah sendiri diambil dari nama pengasuh Soekarno ketika dirinya masih kecil.

Patung Bung Karno Berbobot 5 Ton Diresmikan di Blitar

Halaman: 
Penulis : Nugrahenny Putri Untari