logo


Kenaikan Cukai Rokok, DPR: Pemerintah Harus Perhatikan Sektor Rill Pendapatan Petani Tembakau

Donny mengatakan, jangan sampai kenaikan cukai rokok membuat nasib industri rokok di Indonesia mengalami nasib yang sama seperti reta

18 Juni 2017 08:43 WIB

Anggota Komisi XI DPR RI Donny Imam Priambodo.
Anggota Komisi XI DPR RI Donny Imam Priambodo. fraksinasdem.org

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah menaikan tarif cukai rokok sebesar 10,54 persen pada tahun 2017. Dimana kenaikan tarif cukai rokok ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan kenaikan cukai rokok pada tahun 2016 yang hanya sebesar 11,19 persen.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI, Donny Imam Priambodo, mengatakan, meski cukai rokok tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun 2016, namun pemerintah harus tetap memperhatikan sektor rill pendapatan petani tembakau.

"Kita paham juga pemerintah mau tingkatkan penerimaan tapi harus lihat kondisi rill juga, jangan dia naikan cukai tapi kurangi pegawai, jangan sampai industri tutup, kalo tutup pajak enggak ngalir lagi loh," ujar Donny di Jakarta, Sabtu (17/6) malam.


APTI: Ada Penumpang Gelap di Kampanye Anti RUU Pertembakauan

Politisi Nasdem ini menjelaskan, jangan sampai kenaikan cukai rokok membuat nasib industri rokok di Indonesia mengalami nasib yang sama seperti retail Harley Davidson yang sempat absen selama 10 bulan akibat pajak melambung tinggi.

Apalagi, kata Donny, saat ini dunia internasional tengah gencar-gencarnya mengkampanyekan masalah kesehatan, dan dikhawatirkan akan berimbas pada pengurangan komsumsi komoditas perkebunan ini.

"Ini harus menjadi perhatian juga oleh pemerintah," jelasnya.

Dalam hal ini, Donny berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan-kebijakan yang tepat agar industri-industri tembakau di Indonesia dapat terlindungi.

"PNBP juga harus dimaksimalkan, karena belum banyak digali, negara lain bahkan PNBP-nya sudah lebihi pajak formal, jangan sampai aturannya tumpang tindih kemudian menabrak undang-undang lain," pungkasnya.

Seperti diketahui, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) kecewa dengan keputusan Kementerian Keuangan yang menaikkan tarif cukai hasil tembakau tahun depan rata-rata 10,54 persen, pasalnya kenaikan ini berbeda dengan yang mereka usulkan kepada pemerintah. Dimana angka yang diusulkan hanya setara inflasi atau maksimalnya lima sampai enam persen saja.

Kebijakan tarif cukai tersebut, dipastikan bakal meningkatkan merugikan para petani tembakau dan pengusaha rokok di tahun 2017. Selain volume penjualan akan berkurang, serapan tembakau yang dipanen petani oleh industri juga akan turun.

Pemerintah Wajib Lindungi Petani Tembakau dan Industri Kretek

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Riana