logo


Belajar dari Mudik 2016

Pemerintah bisa menjadikan penanganan mudik tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya sebagai pelajaran dalam penanganan mudik tahun ini.

16 Juni 2017 17:43 WIB

Kendaraan mengantre di pintu keluar Tol Brebes Timur, Jawa Tengah, Kamis (30/6/2016).
Kendaraan mengantre di pintu keluar Tol Brebes Timur, Jawa Tengah, Kamis (30/6/2016). Antara

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemudik diperkirakan akan memadati sejumlah ruas jalan penghubung antar provinsi menjelang Hari Lebaran tahun ini. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini tembus 19 juta orang atau meningkat 4,85% dibanding tahun lalu sebanyak 18,16 juta jiwa. Puncak mudik diperkirakan jatuh pada H-2 lebaran atau tepatnya tanggal 23- 24 Juni 2017.

Dengan estimasi peningkatan jumlah pemudik itu, tentu diperlukan upaya serius dari berbagai pihak berwenang demi memastikan kelancaran, keamanan, dan keselamatan pemudik selama momentum lebaran tahun ini.

Pemerintah bisa menjadikan penanganan mudik tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya sebagai pelajaran dalam penanganan mudik tahun ini. Minimal, dari komparasi strategi penanganan mudik per tahun, dapat ditemukan solusi jitu bagi penanganan mudik tahun ini.


Ada Penembak Jitu Siaga di Pantura Situbondo

Dengan demikian, tingkat ancaman terhadap keamanan, kelancaran dan keselamatan pemudik dapat dicegah sejak awal, sebelum para pemudik memadati sejumlah ruas jalur lintas wilayah.

Pada tahun lalu, kemacetan parah terjadi di ruas Tol Pejagan-Brebes Timur. Antrean kendaraan mengular sepanjang kurang lebih 30 Km hingga ke Pintu Tol Pejagan. Di jalur Pantura lainnya, Cirebon-Brebes, lalu lintas nyaris lumpuh. Ratusan ribu kendaraan terjebak macet tak bergerak di ruas jalur Kanci Cirebon, Jawa Barat, hingga memasuki Brebes Kota, Jawa Tengah.

Pemerintah tak memprediksi meledaknya jumlah kendaraan di Tol Brebes Timur, juga di jalur pantura lainnya. Kepadatan di Tol Brebes Timur terjadi karena faktor infrastruktur. Pintu keluar tol terlalu sempit sehingga kendaraan harus mengantre panjang untuk keluar tol ke arah Brebes, Tegal, menuju Semarang.

Di ruas jalur pantura, persoalan kemacetan juga disebabkan oleh letak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tepat di pinggir jalan nasional. Akibatnya, tumpahan kendaraan yang mengisi bahan bakar memicu kemacetan panjang.

Sebab lainnya-masih di jalur nasional Pantura-adalah titik pertemuan kendaraan yang keluar dari Tol Brebes Timur dengan kendaraan di jalur nasional. Antrean panjang kendaraan tampak mengular hingga ke Brebes Kota.

Selain kemacetan, persoalan lain yang terungkap dalam penanganan mudik tahun lalu adalah terkait kurangnya koordinasi lintas sektor terkait yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan mudik lebaran tahun 2016.

Misalnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Korlantas Polri dan PT. Jasa Marga (Persero) serta Kementerian Kesehatan.

Buktinya, tak ada solusi alternatif untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah kendaraan saat arus mudik. Ketiadaan antisipasi terhadap hal itu juga menutup rapat-rapat ruang penemuan skenario terburuk. Bukti lainnya adalah kurangnya jumlah pos kesehatan yang disediakan selama mudik, baik di ruas jalur tol, maupun di jalur luar tol.

Oleh karena itu, akses informasi publik, khususnya calon pemudik, perlu terus dibuka. Contohnya, pemudik perlu diingatkan sejak awal tentang pemetaan jalur yang masih sepi dilewati pemudik agar tidak terjebak kemacetan atau menumpuk pada satu jalur saja. Pada tahun 2016, misalnya, pemudik padat dan terjebak kemacetan parah di jalur Pantura. Sementara, jalur selatan relatif sepi.

Cegah Kemacetan, Selamatkan Pemudik!

Berbagai persoalan yang terjadi selama mudik tahun lalu telah menimbulkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah dalam penanganan mudik lebaran. Betapa tidak, 17 orang pemudik meninggal dunia selama arus mudik Lebaran 2016. Kebanyakan korban meninggal adalah pemudik di jalur transportasi darat, akibat mengalami kemacetan parah.

Berdasarkan survei yang dilakukan Indonesian Network for Public Service Watch (Inpitch) dan Berdikari Institute, tingkat kepuasan masyarakat terhadap sinergitas dan kejelasan informasi terkait arus mudik 2016 lalu sangat rendah. Sebaliknya, masyarakat memandang keberadaan, keramahan, kedisiplinan, dan kemampuan aparat sudah cukup baik dalam melaksanakan tugasnya.

Ada enam indikator yang digunakan kedua lembaga itu untuk menilai tingkat kepuasan masyarakat. Keenam indikator itu yakni soal keberadaan, keramahan kedisiplinan, kemampuan, sinergitas dan kejelasan informasi.

Hasil survei tersebut menunjukkan, nilai rata-rata indeks kepuasaan masyarakat atas kinerja aparatur kepolisian selama arus mudik dan balik sudah baik dengan nilai 3,82 dari skala 0-5.

Survei itu menjelaskan bahwa kepuasan masyarakat tertinggi berada di indikator keberadaan, keramahan, kedisiplinan dan kemampuan. Namun, nilai kepuasaan masyarakat terendah berada di indikator sinergitas dan kejelasan informasi.

Geliat Pembangunan

Khusus untuk jalur darat, sejauh ini, komitmen pemerintah menghadapi kepadatan pemudik di momentum Lebaran tahun 2017 telah tampak. Hal itu, setidaknya terlihat dari geliat pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur yang menghubungkan antara satu kota dan kota lainnya.

Salah satunya adalah pembangunan jalan tol Jakarta-Semarang yang telah rampung pada Februari lalu. Pemudik dipastikan dapat menggunakan jalur itu pada mudik lebaran nanti. Jalur tol Jakarta-Semarang merupakan salah satu ruas jalan tol di Pantura.

Dengan dibukanya akses terhadap jalur ini, maka diperkirakan kemacetan yang pernah terjadi di pintu keluar Brebes Timur pada tahun lalu tidak akan terulang. Sebab, kendaraan pemudik ke arah Semarang, tak lagi harus keluar melalui pintu keluar Tol Brebes Timur layaknya tahun sebelumnya.

Dari segi taktis, Kemenhub juga telah menyiapkan jurus kunci terkait pengelolaan mudik 2017 nanti. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menandaskan, terdapat empat poin yang dijabarkan Budi yakni: koordinasi yang intensif dengan para stakeholder, uji kelaikan (ramp check), pelayanan posko terpadu, dan fasilitas mudik gratis.

Presiden Jokowi, dalam beberapa kesempatan, telah menegaskan agar mudik tahun 2017 tak lagi terhalang masalah apapun. Tentu, apa yang menjadi seruan Presiden itu takkan berguna selama tak ada kerja nyata yang benar-benar serius dari para stakeholder lainnya; Polri, Kemenhub, KemenPUPR, Jasa Marga, dan Pemudik itu sendiri.

Belajar dari mudik tahun 2016 itu, dan dari tahun-tahun sebelumnya, maka pada tahun ini pengelolaan mudik Lebaran tahun 2017 sebaiknya didudukkan pada semangat dan kerja nyata yang sama. Persiapan dan kesiapan yang matang dari sejumlah elemen terkait selama proses mudik Lebaran 2017.

Koordinasi lintas sektor harus secara aktif dilakukan agar dapat secara cepat dan tepat menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menghalau bahaya keselamatan pemudik. Kerja nyata dan serius perlu ditunjukkan sejak dini agar Lebaran kali ini tak lagi dibaluti duka bagi pemudik.

Antisipasi Kemacetan Saat Mudik Lebaran, Truk Dilarang Masuk Pelabuhan Merak Mulai H-4

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas