logo


Usung Teknologi Bioflok dan Akuaponik, KKP Ajak Santri Beternak Lele

Selain fokus mengembangkan sistem lele bioflok di pondok pesantren, KKP juga akan mengembangkan program ini di daerah-daerah perbatasan hingga lembaga permasyarakatan.

15 Juni 2017 16:29 WIB

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto. dok. Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Terkait dengan pengembangan lele bioflok, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melirik pondok pesantren sebagai sasaran pengembangan teknologi melalui program “Bioflok Masuk Pesantren”.

Program usaha budidaya lele sistem bioflok ini diberikan kepada 73 pondok pesantren yang tersebar di 15 Provinsi. Nantinya, program ini ditargetkan akan menyasar pemberdayaan terhadap setidaknya 78.500 orang santri atau siswa.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, mengatakan, teknologi sistem bioflok dipilih karena teknologi ini ramah lingkungan, berkelanjutan, aman dan mudah diterapkan masyarakat.


KKP Galakan Teknologi Budidaya Lele Bioflok, Ini Kata Pengusaha

"Bioflok ini adalah suatu teknologi yang sangat populer saat ini, karena mampu mengenjot produktivitas lele secara signifikan, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas dan hemat sumber air," ungkap Slamet saat ditemui Jitunews.com di gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta Pusat, Kamis (17/6).

Lebih lanjut, Slamet membeberkan ihwal keunggulan sistem teknologi bioflok ini.

"Teknologi bioflok ini banyak kelebihannya. Mulai dari efisiensi pakan, produktivitasnya lebih tinggi hingga tiga kali lipat, penggunaan air juga efisien, dan masih banyak lagi. Di samping itu, yang berbeda kali ini, kita integrasikan teknologi ini dengan sistem akuaponik. Kita bisa memelihara lele sambil menanam sayuran dan buah-buahan, ini yang berbeda," beber Slamet saat ditemui di gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta Pusat, Kamis (17/6).

Sebagai perbandingan, lanjut Slamet, budidaya sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor per meter kubik memerlukan 120-130 hari untuk panen. Sedangkan, untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1.000 ekor per meter kubik hanya membutuhkan 100-110 hari.

Diakui Slamet, program budidaya lele sistem bioflok yang digagasnya ini, saat ini sudah memasuki proses identifikasi, verifikasi dan penetapan calon penerima program. Menurutnya, ditargetkan hingga akhir bulan Juni nanti semuanya telah terealisasi secara serentak.

"Ya, program ini udah jalan, udah ada yang melakukan konstruksi, kita dampingi," ujar Slamet.

Slamet menambahkan, selain fokus mengembangkan sistem lele bioflok di pondok pesantren, pihaknya juga akan mengembangkan program ini di daerah-daerah perbatasan hingga lembaga pemasyarakatan.

"Seperti kita tahu, baik itu pondok pesantren maupun daerah perbatasan, kesadaran mereka untuk makan ikan itu masih sangat rendah. Kita harapkan, selain bertujuan untuk pemenuhan gizi, program ini juga sebagai bentuk ketahanan nasional. Kita ingin kualitas SDM di pondok pesantren, daerah perbatasan, dan lembaga pemasyarakatan meningkat dengan membiasakan mengkonsumsi ikan," imbuh Slamet.

"Tak hanya itu, kita harapkan juga dengan program ini produksi ikan khususnya lele bertambah. Karena sebetulnya pondok pesantren dan daerah perbatasan ini kan contoh real bagi masyarakat. Kalau mereka berhasil membudidayakan lele, maka masyarakat lain juga akan mencontoh. Jadi itu misi lain kita," sambung Slamet.

Dilanjutkan Slamet, untuk melaksanakan program tersebut, KKP menggelontorkan sekitar Rp 14,4 miliar alokasi dana. Rinciannya sendiri per paket sekitar Rp 200 juta. Slamet menargetkan, sasaran nilai panen dari program tersebut dapat mencapai Rp 21,78 miliar, dengan target panen sekitar 1.452 ton.

Sementara itu, secara nasional pada tahun ini, target budidaya ikan lele diproyeksikan bisa mencapai 1,39 juta ton, yang realisasinya hingga triwulan 1 sudah mencapai 225.000 ton.

"Kita menargetkan konsumsi lele di kalangan pondok pesantren bisa naik dari 9 kg/kapita/tahun menjadi 15 kg/kapita/tahun. Dan saya rasa, program ini sangat potensial untuk menggerakkan ekonomi.  Dengan demikian, baik pesantren, daerah perbatasan, maupun lembaga pemasyarakatan akan lebih mandiri dan lebih maju dari sisi kualitas," tukas Slamet.

Sebagai informasi, tahun ini, KKP mengalokasikan bantuan sebanyak 103 paket, dengan rincian 71 paket dari pusat dan 32 paket dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang akan diberikan kepada 73 pondok pesantren, 12 kelompok pembudidaya dan 2 lembaga pendidikan yang tersebar di 16 provinsi termasuk di antaranya wilayah perbatasan yaitu Provinsi NTT (Kab. Belu), Provinsi Papua (Kab. Sarmi dan Wamena), dan Provinsi Kalimantan Utara (Kab. Nunukan). Bantuan tersebut, masing-masing terdiri atas 12 kolam dengan diameter 3 meter, benih lele, pakan dan obat ikan, probiotik, dan sarana operasional.

 

Fokus Pemberdayaan, KKP Realisasikan Lele Bioflok Masuk Pesantren

Halaman: 
Penulis : Riana