logo


Fokus Pemberdayaan, KKP Realisasikan Lele Bioflok Masuk Pesantren

Dengan budidaya sistem bioflok, produktivitas bisa ditingkatkan sampai tiga kali lipat dibanding sistem konvensional.

15 Juni 2017 15:38 WIB

Budidaya lele sistem bioflok.
Budidaya lele sistem bioflok. dok. Humas KKP

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera merealisasikan program dukungan usaha budidaya lele sistem bioflok untuk 73 pondok pesantren yang tersebar di 15 provinsi. Program ini ditargetkan akan menyasar pemberdayaan terhadap setidaknya 78.500 orang santri atau siswa.

Hingga saat ini, proses identifikasi, verifikasi dan penetapan calon penerima program telah selesai dilaksanakan, dan ditargetkan akhir bulan Juni telah terealisasi secara serentak.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengungkapkan hal tersebut saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Bantuan Pemerintah Budidaya Lele Sistem Bioflok di Kantor KKP, Kamis (15/6).


Cegah Kematian Mendadak Ikan Lele dengan Tanaman Ini

Hadir dalam acara tersebut di antaranya berbagai perwakilan elemen organisasi keagamaan yaitu Perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah).

Menurut Slamet, setidaknya ada dua alasan penting kenapa pihaknya lebih banyak mengalokasikan program ini pada pondok pesantren.

Pertama, menurutnya pesantren sebagai lembaga non-formal merupakan lingkungan yang efektif untuk pembelajaran pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat dan menjadi ladang dalam mencetak wirausahawan baru.

Kedua, pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk meningkatkan kualitas SDM di lingkungan pesantren melalui penyediaan dan peningkatan gizi berbasis ikan.

"Kita ingin kualitas SDM para santri ini meningkat dengan membiasakan mengkonsumsi ikan. Saat ini, tingkat konsumsi ikan di lingkungan pesantren hanya sekitar 9 kg per kapita/tahun, melalui program ini paling tidak ada peningkatan menjadi 15 kg per kapita per tahun," ucap Slamet dalam keterangannya kepada Jitunews.com, Kamis (17/6).

Dengan budidaya lele sistem bioflok, produktivitas bisa ditingkatkan sampai tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional. Slamet menggambarkan, dengan asumsi per paket bantuan sebanyak 12 kolam bulat (diameter 3 m), maka produksi yang dihasilkan setidaknya sebanyak 12,15 ton per tahun dengan nilai pendapatan mencapai 182 juta.

Dengan kata lain, pembudidaya akan mendapatkan nilai tambah keuntungan rata-rata sebesar Rp 3.900 per kg. Selain itu, dari kualitas produk, diakui konsumen bahwa daging lele hasil budidaya dengan sistem ini memiliki citarasa yang lebih enak dan warna daging lebih putih.

"Saya rasa, sebagai tahap awal nilai ini cukup besar dan sangat potensial untuk menggerakan ekonomi pesantren. Dengan demikian, pesantren akan lebih mandiri dan lebih maju dari sisi kualitas," ungkapnya.

Produksi Ikan Lele Indonesia Tembus Pasar Dunia

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah
 
×
×