logo


Anggota Pansus Hak Angket: Miryam atau Penyidik KPK yang Berbohong?

Pansus meminta KPK untuk membuka rekaman proses penyidikan Miryam, tetapi KPK menolak permintaan tersebut

10 Juni 2017 10:18 WIB

Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani
Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani Rmol

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Salah satu alasan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK oleh DPR adalah terkait Miryam S Haryani yang disebut merasa ditekan oleh anggota Komisi III DPR. Pansus meminta KPK untuk membuka rekaman proses penyidikan Miryam, tetapi KPK menolak permintaan tersebut. Karena rekaman tersebut bersifat rahasia dan hanya akan dibeberkan dalam proses pengadilan.

Salah satu anggota Pansus Angket, Arsul Sani menyebut bahwa DPR hanya membutuhkan rekaman statement Miryam yang menyatakan ditekan oleh anggota Komisi III.

"Seolah-olah yang ingin dibuka oleh DPR adalah seluruh rekaman proses BAP Miryam oleh penyidik KPK yang mungkin panjangnya berjam-jam. Padahal yang ingin didengar oleh Komisi III waktu itu hanyalah bagian dari statement Miyam yang menyatakan ditekan oleh enam orang anggota Komisi III. Jadi hanya paling 2-3 menit," kata anggota Pansus Hak Angket KPK, Arsul Sani, Jumat (9/6).


DPR Anggap KPK Sengaja Serang DPR, Ini Jawaban KPK

DPR paham jika bagian dari BAP tersebut bersifat rahasia dan apabila tetap ditolak, maka DPR akan menggunakan alternatif untuk mengetahui siapa yang berbohong, apakah Miryam atau penyidik KPK.

"DPR paham bahwa bagian-bagian BAP lainnya merupakan rahasia penyidikan sampai nanti ada proses persidangan. Selain itu, Komisi III sebenarnya membuka alternatif untuk tidak mendengarkan bagian rekaman itu, tetapi minta baik Miryam maupun penyidik KPK dihadirkan dalam raker dengan KPK dengan Komisi III sehingga ketahuan siapa yang berbohong, apakah Miryam atau penyidik KPK," jelas Arsul. 

Perkembangan Kasus Teror Novel Baswedan, Febri: Biar Komnas HAM yang Umumkan

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata