logo


Pilih Warna Alam, Batik Mampu Bersaing di Pasar Global

'Pesona Batik Warna Alam' dijadikan tema, karena sejarah dalam perjalanan perkembangan batik Indonesia, di mana pewarnaan batik awal mulanya dari keanekaragaman hayati

7 Juni 2017 14:48 WIB

Konfrensi pers Gelar Batik Nusantara 2017 di Jakarta, Rabu (7/6).
Konfrensi pers Gelar Batik Nusantara 2017 di Jakarta, Rabu (7/6). Jitunews/Ferro Maulana

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Batik telah menjadi ikon Indonesia karena batik merupakan budaya bangsa Indonesia yang sudah diakui UNESCO sejak tanggal 30 September 2009 lalu sebagai salah satu warisan budaya tak benda bangsa Indonesia.

Penggunaan batik berbahan serat dan pewarna alami merupakan bukti perpaduan serta pemanfaatan keanekaragaman hayati yang akan berdampak terhadap pelestarian keanekaragaman hayati serta pendapatan ekonomi masyarakat.

Panitia Pelaksana Gelar Batik Nusantara 2017, Etna Giatna Singgih, mengatakan, berbagai upaya untuk mempromosikan sekaligus mengembangkan batik serta kerajinan di dalam negeri, telah semakin meningkat dan beragam.


Veronica Tan Unggah Foto pada Hari Kartini, Ini Respons Warganet

Lanjut Etna, 'Pesona Batik Warna Alam' dijadikan tema, karena sejarah perkembangan batik Indonesia yang pewarnaannya awal mulanya dibuat dari keanekaragaman hayati seperti kulit kayu, daun, buah, bunga berbagai tanaman yang ada di lingkungan sekitar.

"Alasan pemilihan tema warna alam yang cukup penting adalah agar batik Indonesia dapat bersaing di pasar global (global market) dengan mempertahankan sustainable fashion," kata Etna kepada Jitunews.com, di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (7/6).

Di tempat yang sama, pelaku Warna Alam (Galeri Batik Jawa), Nita Kenzo, menerangkan, dahulu masyarakat yang membuat batik belum mengenal pewarna batik kimia (indigosol dan napthol). Untuk mendapatkan warna-warna yang mereka inginkan, mereka harus mencari akal dengan memanfaatkan berbagai hayati yang ada di sekitarnya.

Banyak lahan dan tumbuh-tumbuhan pada masa lalu dimanfaatkan sebagai warna alam. Sebut saja, kulit pohon Mahoni, Duwet, Tingi, Jambal, Tegeran, Daun Indigo, Daun Mangga, Secang, dan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, teknik pewarnaan alami telah tergeser oleh pewarnaan kimiawi. Melalui Gelar Batik Nusantara 2017, kata Kenzo, pihaknya bersama ingin menggali kearifan leluhur, dan berperan dalam pelestarian serta pengembangan batik Indonesia.

"Sebelum revolusi Industri, masyarakat kita sudah mengenal warna alam. Pengembangannya hingga tahun ini sudah delapan tahun. Bahkan, Badan Kerajinan Dunia mengimbau agar kerajinan di seluruh dunia menggunakan warna alam sejak 36 tahun yang lalu," urai Kenzo menutup pembicaraan.

Penghargaan Tertinggi 'GBN 2017' Diberikan kepada Ibu Tien Soeharto

Halaman: 
Penulis : Ferro Maulana, Aurora Denata