logo


Tanggapan Komnas HAM Terkait Kasus Persekusi yang Marak Terjadi

Munculnya aksi persekusi pada dasarnya berasal dari kurang bijaknya seseorang menggunakan sosial media.

6 Juni 2017 14:47 WIB

Wakil Ketua Komnas HAM, Muhammad Nurkhoiron
Wakil Ketua Komnas HAM, Muhammad Nurkhoiron dok. Kompas.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pihak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) merasa prihatin terhadap maraknya tindakan persekusi di Indonesia beberapa waktu ini.

Wakil Ketua Komnas HAM, Muhammad Nurkhoiron, menilai bahwa munculnya aksi persekusi pada dasarnya berasal dari kurang bijaknya seseorang menggunakan sosial media, hingga akhirnya kata-kata yang dilontarkannya menyakiti satu atau sejumlah pihak tertentu.

"Masyarakat ini harus diimbau karena media sosial sekarang digunakan untuk menyampaikan kebencian dan merendahkan orang lain. Alhasil, dapat menciptakan potensi persekusi," kata Nurkhoiron, di Gedung Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/6).


Perihal Kasus Persekusi, Djarot: Polisi Harus Berada di Depan

Kepolisian, lanjut Nurkhoiron, harus memberikan pengertian kepada masyarakat terhadap hal-hal yang telah terjadi agar tidak lagi muncul korban-korban selanjutnya. Selain itu, pihak yang berwajib harus memberikan perlindungan yang memadai.

Sebagai pengingat, persekusi merupakan sebuah tindakan pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Aksi tersebut terjadi lantaran korban dinilai telah melecehkan dan mencemooh ulama maupun tokoh agama melalui status media sosialnya.

Sebuah jaringan relawan pendukung kebebasan berekspresi di Asia Tenggara, Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), menyebut aksi tersebut sebagai The Ahok Effect, lantaran kebiasaan intimidasi tersebut mulai marak terjadi usai sosok Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membuat gempar bangsa Indonesia.

Komnas HAM Percaya Komitmen Pimpinan KPI Tuntaskan Kasus Perundungan dan Pelecehan Pegawai

Halaman: 
Penulis : Nugrahenny Putri Untari