logo


Kisah Soekarno dan Marhaen yang Mengilhaminya

Kaum Marhaen adalah mereka yang memiliki alat-alat kecil namun cukup jika sekadar untuk menghidupi dirinya sendiri.

5 Juni 2017 10:38 WIB

Presiden Pertama Indonesia Soekarno.
Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Dok. LIFE

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, merupakan pencetus ideologi yang bernama Marhaenisme. Kaum Marhaen merupakan terminologi yang digunakan Soekarno untuk menamai mereka yang bekerja untuk diri sendiri.

Istilah 'Marhaen' sendiri berasal dari nama seorang petani muda yang dijumpai Soekarno dalam salah satu perjalanannya melintasi kota Bandung. Kisah tersebut diceritakan dalam buku Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia), yang ditulis seorang jurnalis asal Amerika Serikat, Cindy Adams.

Kaum Marhaen bukan kapitalis borjuis, bukan pula proletar (kaum kedua setelah kapitalis). Sebagai seorang yang belajar Marxisme, tentu saja Soekarno paham betul perbedaan tatanan masyarakat yang terbagi menjadi kelas kapitalis dan proletar.


Hari Pancasila, Tentang Ende dan Soekarno

Akan tetapi, di Indonesia, ia kemudian menemukan fenomena, betapa pun miskinnya seseorang, ia tetap bisa menghidupi diri sendiri tanpa harus menjadi buruh bagi orang lain. Soekarno pun bertanya-tanya harus masuk ke kategori apakah masyarakat ini? Pemikiran tersebut mengendap di kepala Soekarno selama berbulan-bulan, hingga akhirnya ia menemukan jawabannya ketika tidak sengaja melihat seorang petani yang sedang bekerja di sawahnya sendiri. Dia lah si 'Marhaen' tersebut. 

Marhaen sendiri memang hanyalah seorang petani biasa yang kala dijumpai Soekarno tengah melakukan kegiatan sehari-hari layaknya petani pada umumnya. Panampilannya pun sangat sederhana. 

Hari itu, Soekarno sedang 'melarikan diri' dari penatnya kegiatan kuliah dengan mengayuh sepedanya, kemudian berhenti dan menyapa Marhaen.

Dari percakapan keduanya, Soekarno mengetahui bahwa sawah, cangkul, bajak, bahkan hasil panen, semuanya adalah milik Marhaen sendiri. Demikian pula dengan status Marhaen yang memang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Ia tidak bekerja untuk orang lain, meski terkadang hasil panen yang diperolehnya belum tentu cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya.

"Apakah ada yang dijual dari hasilmu?" tanya Soekarno.

"Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami," jawab Marhaen, mengindikasikan tidak ada sisa hasil yang dapat dijual.

"Kau mempekerjakan orang lain?" tanya Soekarno lagi.

"Tidak, juragan. Saya tidak bisa membayarnya."

"Apakah kau pernah memburuh?"

"Tidak, gan. Semua jerih payah untuk saya."

Soekarno kemudian menunjuk sebuah gubuk dan bertanya apakah gubuk tersebut juga milik Marhaen.

"Itu gubuk saya, gan. Memang gubuk kecil, tapi kepunyaan saya sendiri," jawab Marhaen.

"Kalau begitu, semua ini milikmu?"

"Benar, gan."

Semenjak itu, bak mendapat ilham, Soekarno menamai rakyatnya yang bernasib sama dengan Marhaen, dengan sebutan yang sama, yakni 'Marhaen'. Sudah lama para petani memang menjadi korban feodalisme (sistem sosial maupun politik yang dilakukan kaum bangsawan dan para tuan tanah untuk menguasai daerah tertentu).

Dikisahkan pula oleh Soekarno bahwa ketika dirinya sedang berjalan-jalan di kota Bandung bagian Selatan, ia melihat hamparan sawah hijau terbentang. Petani mengerjakan sawahnya sendiri tetapi luasnya tidak lebih dari sepertiga hektare.

Setelah perjumpaannya dengan Marhaen, Soekarno kemudian mulai memperkenalkan Marhaenisme melalui pidato-pidatonya. Kala itu, Soekarno yang aktif dalam sebuah kelompok belajar Algemene Studie Club, mulai menggunakan terminologi tersebut dalam forum diskusi kelompok pergerakan.

Kaum Marhaen adalah mereka yang memiliki alat-alat kecil namun cukup jika sekadar untuk menghidupi dirinya sendiri.

Jika harus dirangkum, kaum Marhaen adalah mereka yang memiliki alat produksi kecil yang digunakan sendiri; tidak memiliki majikan, tidak pula mempekerjakan orang lain; serta memiliki hasil yang kadang pas-pasan, yang hanya cukup untuk pemenuhan hidup sehari-hari.

Dalam perkembangannya, Soekarno kemudian mulai memasukkan kaum proletar sebagai bagian dari kaum Marhaen yang digagasnya. Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi: Jilid Pertama, ia menjelaskan bahwa kaum Marhaen bukan termasuk kaum proletar yang semata-mata kaum buruh saja, tetapi kaum proletar dan tani melarat serta kaum melarat Indonesia yang lain, misalnya kaum dagang kecil, kaum ngarit (pencari rumput), kaum tukang kaleng, kaum grobag (gerobak), kaum nelayan, dan lain-lain.

Andi Arief: Mungkin Soekarno Menangis di Dalam Kubur

Halaman: 
Penulis : Nugrahenny Putri Untari