logo


Redefinisi Deradikalisasi dalam Melawan Terorisme

Deradikalisasi merupakan sebuah proses edukasi atau sosialisasi nilai-nilai yang membantu kelompok-kelompok atau individu yang semula bersikap ekstrimistis, lebih fundamentalistis menjadi lebih moderat

2 Juni 2017 15:17 WIB

Ilustrasi terorisme.
Ilustrasi terorisme. Shutterstock

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kasus serangan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017) malam setidaknya memberi sinyal penting: kelompok teroris masih menjamur di Indonesia, berbaur bersama masyarakat dan membentuk sel-sel baru. Untuk memberangusnya, tentunya tak bisa hanya menggunakan cara umum yang dilakukan polisi, seperti menyergap, menangkap dan menembak terduga teroris dan keluarganya jika melawan. Perlu cara lain yang dilakukan yang tidak berbentuk pasukan khusus pihak kepolisian.

Cara itu adalah jembatan pelibatan masyarakat (sipil) dalam menangkal, memberi pemahaman, dan mencegah berkembangnya terorisme. Cara itu kerap dikenal sebagai deradikalisasi. Agenda deradikalisasi merupakan salah satu agenda pemerintah dalam penanganan masalah terorisme. 

Deradikalisasi merupakan sebuah proses dialog kultural yang secara signifikan dilakukan demi membangun gagasan positif, kebangsaan dan kemanusiaan yang lebih banyak dimotori oleh komunitas masyarakat dalam relasinya dengan setiap kelompok yang rentan terlibat jaringan terorisme.


“Pelibatan Militer dalam Revisi UU Tindak Pidana Terorisme Tidak Urgent!”

Deradikalisasi merupakan sebuah proses edukasi atau sosialisasi nilai-nilai yang membantu kelompok-kelompok atau individu yang semula bersikap ekstrimistis, lebih fundamentalistis menjadi lebih moderat dan lebih terbuka terhadap kemajemukan nilai.

Pada skala masyarakat, deradikalisasi sebetulnya suatu pendidikan politis untuk toleransi. Konsekuensinya, deradikalisasi harus menghasilkan suatu kondisi masyarakat yang demokratis. Tetapi, dalam skala kelompok radikal, deradikalisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses terapi dari sistem nilai tertutup ke sistem nilai terbuka.

Sederhananya, deradikalisasi harus berujung pada perubahan massif ke arah yang lebih terbuka dari sebuah organisasi atau kelompok radikal. Misalnya, jika deradikalisasi dijalankan dalam sebuah kelompok, maka kelompok yang sebelumnya ekstrimis atau radikal, harus siap bubar demi keterbukaannya dan anggotanya terhadap pluralitas nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.

Tetapi, soalnya adalah, apakah radikalisme hanya berkaitan dengan urusan cara pandang kelompok tertentu secara ekstrimistis? Atau, pertanyaan lain, apakah ketika sebuah kelompok atau organisasi yang mengeksklusi diri dari berbagai bentuk diskusi sekuler berarti teroris atau ekstrimis?

Di sinilah deradikalisasi mendapat tempat pemaknaan yang amat penting untuk didialogkan. Deradikalisasi yang ideal ialah proses yang secara mendalam mampu menjawab berbagai faktor yang menjadi latar belakang lahirnya dorongan kelompok tertentu untuk terlibat dalam aksi terorisme.

Deradikalisasi harus dapat membuka persoalan sosial, ekonomi, politik yang meliliti kehidupan harian oknum teroris, tak hanya melulu membuka tabir keterlibatannya pada kelompok agama tertentu.

Realita Masyarakat

Fakta yang menggelitik dari setiap peristiwa terorisme di Indonesia ialah bahwa para pelaku teror rata-rata datang dari latar belakang kehidupan yang biasa-biasa saja, bukan kelas menengah ke atas yang berpendapatan tinggi. Mereka bukan orang kaya alias konglomerat. Mereka adalah kelas rakyat yang berpendapatan rendah. Sebagian mereka bekerja di bidang kerja yang tak tetap.

Dalam situasi kehidupannya itu, keputusasaan kerap mendekat. Organisasi fundamentalis (apapun itu platformnya; agama, budaya, ras, dsb) pun bisa jadi menjadi pilihan satu-satunya untuk mendapatkan ketenangan batin dan kedamaian hidup. Dari sanalah mereka berubah menjadi 'pemangsa' terhadap sesamanya. Cara berpikir moderat pun lenyap dari segala bentuk kehebatan nalarnya.

Jelas terlihat, kebergabungan itu tentu merupakan tahap kedua setelah berbagai situasi kehidupan yang terhimpit kian lama dijalani.

Fenomena terorisme ini pernah diingatkan oleh pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus. Menurut Paus asal Argentina itu, terorisme berkaitan erat dengan ketidakadilan sosial dan penghambaan terhadap uang. Ketikadilan sosial, pengangguran, kemiskinan membuat banyak orang tidak punya pilihan hidup. Buntutnya, karena terjepit oleh tekanan ekonomi dan keharusan bertahan hidup, banyak yang mengambil jalan lain: narkoba, alkohol dan menjadi anggota gerakan fundamentalis.

“Berapa banyak anak muda di Eropa yang kehilangan harapan dan cita-cita? Menjadi pengangguran, lalu mereka menggunakan obat terlarang, alkohol, dan juga bergabung dengan kelompok fundamentalis,” ucap Paus Fransiskus.

Dalam kaitan dengan pandangannya itu, Paus menolak mentah-mentah upaya pengaitan Islam atau agama apapun dengan terorisme. Menurut Paus Fransiskus, semua agama membawa misi duniawi yang sama: perdamaian.

Pesan Paus lainnya tentang terorisme adalah bahwa dirinya menolak mentah-mentah anggapan bahwa Islam identik dengan fundamentalisme dan kekerasan. Menurut Paus Fransiskus, semua agama memiliki kelompok fundamentalis, termasuk Katolik.

Terorisme lantas tak bisa diceraikan dari masalah ekonomi-politik, tentang lapangan pekerjaan, ketimpangan kaya dan miskin, dan ketidakadilan hukum. Belum lagi jika mencermati penyakit korupsi yang tak pernah pergi dari penyelenggaraan pemerintahan.

Oleh karena itu, deradikalisasi yang kini jadi jargon sosiologis penuntasan masalah terorisme di Indonesia perlu diperluas maknanya sebagai bentuk penyelesaian masalah pembangunan yang nyata, yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat. Selain itu, deradikalisasi juga perlu diejawantahkan ke dalam sebuah jalinan hubungan yang dekat antara penguasa dengan rakyatnya demi menemukan solusi yang tepat terhadap persoalan pembangunan.

Perang terhadap terorisme wajib didukung dan digiatkan. Namun tak bisa hanya dengan cara menembak mati para terduga teroris (pelaku) dan keluarganya, tetapi juga dengan meluputkan masyarakat sipil dari petaka kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja dan kehilangan kesempatan mengecap pendidikan.

 

Pesantren, Masjid, dan Terorisme

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas