logo


KKP Bangun Naupli Center Udang Vaname Kapasitas 450 Juta Ekor per Tahun

Indonesia saat ini memiliki peluang lebih besar dalam memasok pangsa pasar udang dunia

2 Juni 2017 10:31 WIB

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto. JITUNEWS/Johdan A.A.P

JEPARA, JITUNEWS.COM - Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan bahwa Indonesia saat ini memiliki peluang lebih besar dalam memasok pangsa pasar udang dunia, mengingat potensi pengembangan yang besar. Dalam merebut peluang tersebut, ketersediaan benur berkualitas menjadi keniscayaan yang harus terpenuhi dan tentunya mampu menjangkau sentra-sentra produksi udang nasional.

Slamet menegaskan pentingnya membangun mata rantai proses produksi secara terintegrasi. Untuk itu, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya tengah menata sistem logistik perbenihan melalui pembangunan naupli center yang ke depannya diharapkan akan menjangkau sentra-sentra produksi udang. Mekanismenya menurut Slamet, UPT seperti BBPBAP Jepara yang akan memproduksi Nauplius udang berkualitas, dan Hachery Skala Rumah Tangga (HSRT)/panti benih masyarakat tinggal membeli nauplius tersebut untuk dibesarkan sampai ukuran siap tebar di tambak.

Naupli center ini nantinya akan terkoneksi dengan panti benih/HSRT milik masyarakat di sentra-sentra produksi budidaya udang. Naupli center ini akan menjamin kualitas benur yang dihasilkan. Di sisi lain, keberadaan naupli center ini juga akan memicu segmen usaha HSRT semakin bergairah. Yang paling penting adalah para pembudidaya udang tidak harus repot-repot mendatangkan benur dari luar daerah," demikian kata Slamet dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Jumat (2/6).


BBPBAP Jepara Kembangkan Kandidat Baru Udang Putih Asli Indonesia, Sekjen KKP: Ini Terobosan Baru

Slamet berharap pembangunan naupli center BBPBAP Jepara ini akan mampu mensuplai kebutuhan benur berkualitas, sekaligus sebagai embrio pembangunan naupli center lainnya di daerah lain. Dengan demikian, ketersediaan benur bermutu akan terpenuhi di seluruh Indonesia. Naupli center ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun sistem logistik benih yang lebih tertata dan terintegrasi. Selama ini, menurut Slamet, mata rantai benih kurang tertata dengan baik dan masih bersifat parsial. Dampaknya adalah ketersediaan benur seringkali tersendat dan kualitas benur juga sulit dikontrol. Apalagi, menurutnya, sentra produksi budidaya udang seringkali berjauhan dengan sentra produksi benih. Di sisi lain, HSRT juga kesulitan mencari induk bermutu, sehingga produksi benih tidak berkelanjutan.

“Dengan penataan sistem ini, maka mulai dari ketersediaan jumlah dan kualitas benur akan terjamin. Di samping itu, pola ini sangat pas untuk menerapkan prinsip ketelurusan sebagaimana kaidah Cara Perbenihan Ikan yang baik (CPIB)," ujar Slamet.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo, menyampaikan bahwa naupli center yang dibangun ini memiliki kapasitas produksi nauplius udang vaname mencapai 400-500 juta ekor per tahun, atau rata-rata 225 juta ekor per siklus (1 tahun sebanyak 2 siklus). Hingga saat ini total nauplius yang telah diproduksi sebanyak 210 juta ekor, masing-masing untuk memenuhi kebutuhan HSRT di Kabupaten Jepara sebanyak 20 juta ekor, 160 juta ekor untuk memenuhi kebutuhan hatchery milik swasta di Tuban, Rembang, dan Tegal; dan 30 juta ekor untuk kegiatan balai.

Di sela-sela kunjungannya, Slamet juga menyempatkan memberikan batuan dari KKP secara simbolis berupa nauplius udang vaname sebanyak 100 juta ekor kepada kelompok HSRT di Kabupaten Jepara. Untuk menggenjot produksi udang nasional, Pemerintah memproyeksikan tahun 2017 produksi benur udang mencapai sekitar 70,06 milyar ekor, masing-masing untuk udang vaname sebanyak 50,35 milyar ekor, udang windu 15,35 milyar ekor, dan udang lainnya mencapai 7,35 milyar ekor.

Untuk mengembalikan kejayaan udang windu, Ditjen Perikanan Budidaya juga konsisten mempertahankan pengembangan udang windu di Indonesia. BBPBAP Jepara ditunjuk sebagai broodstock center yang bertanggung jawab dalam mempertahankan eksistensi udang windu dalam bisnis budidaya udang nasional.

“Pasca kegagalan udang windu akibat wabah white spot  beberapa dekade yang lalu, pamor udang jenis ini kian meredup. Oleh karenanya, kita bangun broodstock center udang windu untuk memproduksi induk berkualitas dan bebas virus untuk mengembalikan kejayaannya. Kami akan terus focus pada pengembangan udang ini. Beberapa daerah terutama di Kalimantan dan Aceh bahkan secara khusus kita siapkan untuk pengembangan udang windu ini”, ungkap Slamet.

Melalui perekayasaan, BBPBAP telah melakukan pemuliaan induk udang windu yang hingga saat ini telah menghasilkan induk udang windu generasi ke-9 (G-9) dan generasi ke-1 (G-1) dengan jumlah 400 ekor dan 3.000 ekor. Menurut Sugeng, dengan ketersediaan induk tersebut, pihaknya mampu memproduksi benur hingga mencapai 4,8 juta ekor dari induk G-9 dan 36 juta ekor dari induk G-1.

“Permintaan benur udang windu menunjukkan kenaikan cukup signifikan. Produksi kami akan mensuplai kebutuhan benur di seluruh Indonesia terutama wilayah Jawa dan Kalimantan”, kata Sugeng.

Sementara itu, BBPBAP Jepara juga telah melakukan kegiatan restocking udang windu sebanyak 200.000 ekor di Perairan Wedung, Kec. Kedung, Jepara. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa saat ini masyarakat cenderung sulit untuk mendapatkan udang windu di alam, apalagi untuk kebutuhan Induk.

“Upaya restocking ini menjadi bagian dari tanggung jawab KKP untuk tetap menjaga kelestarian stock udang windu di alam, mengingat udang windu merupakan udang asli Indonesia. Kita harus pertahankan plasma nuftah kita. Di samping itu, upaya tersebut juga merupakan bentuk peran serta KKP dalam mengimplementasikan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) tahun 2015-2020 yang telah ditetapkan Bappenas ”, pungkas Slamet.

KKP Bangun Naupli Center Udang Vaname Kapasitas 450 Juta Ekor Per Tahun

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Vicky Anggriawan