logo


Hari Pancasila, Tentang Ende dan Soekarno

Di Ende, sejumlah hal besar dilahirkannya bagi bangsa ini. Selama di Ende, Soekarno banyak merenung tentang kehidupan kebangsaan dan keagamaan di Indonesia.

1 Juni 2017 07:00 WIB

Tempat Pengasingan Soekarno di Ende, Flores
Tempat Pengasingan Soekarno di Ende, Flores Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM -Tahun 1943, Belanda melempar Soekarno ke Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur agar ia jauh dari hingar bingar kegiatan politik bersama kawan-kawan seperjuangannya. Kolonialisme Belanda kerap terancam dengan gerakan Soekarno pada masa itu. Ia pun diceraikan dari berbagai gerakan politiknya yang kala itu digerakkan melalui Partai Nasional Indonesia (PNI).

Tapi, pengekangan fisik itu tak lantas menguburkan semangat perjuangan dan pergerakan Soekarno untuk memerdekakan Indonesia.

Di Ende, sejumlah hal besar dilahirkannya bagi bangsa ini. Selama di Ende, Soekarno banyak merenung tentang kehidupan kebangsaan dan keagamaan di Indonesia. Soekarno mendalami keislamannya dan menggelar sejumlah drama (toneel). Salah satu drama yang terkenal yang pernah digelarnya adalah “Kelimoetoe” (telaga tiga warna).


Pembentukan Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila

Selama di Ende, Soekarno juga bertemu dengan para misionaris, Imam Katolik yang berasal dari luar negeri. Penduduk Ende tak sebanyak saat ini. Jumlahnya masih 5000-an jiwa, dan sebagianya memeluk agama Islam.

Tentang keislaman Soekarno yang ia tekuni di Ende, terlihat jelas dalam ‘Surat-Surat Islam dari Ende’ sebagaimana yang ditulis di dalam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’. ‘Surat-Surat Islam dari Ende’ adalah kumpulan surat Soekarno kepada seorang ulama yang bernama A. Hasan di Bandung. Hasan merupakan Ketua Persatuan Islam kala itu.

Darmawan dalam bukunya, Soekarno, Bapak Bangsa Indonesia (2005) menulis, surat-surat tersebut dikirimkan beberapa kali, yaitu; pertama Desember 1934, kedua 25 Januari 1935, ketiga pertengahan Desember 1935, keempat 22 Februari 1936, kelima 22 April 1936, keenam 18 Agustus 1936, ketujuh 17 Oktober 1936.

Isi surat itu tidak terlepas dari kritik dan pandangan Soekarno tentang kehidupan Islam serta umatnya, tentang masalah-masalah sosial, pendidikan Islam, politik kenegaraan dan Islam. Kupasan tentang surat itu juga disinggung dalam buku Soekarno : membongkar sisi-sisi hidup Putra Sang Fajar karya sosiolog Daniel Dhakidae, 2013.

Rahim Pancasila

Karya- karya yang dilahirkan Soekarno selama di Ende adalah wajah kepribadian Soekarno yang sangat nasionalis, gigih, dan revolusioner. Karya-karya itu abadi, tak akan pernah usang termakan usia dan waktu di tiap peradaban.

Ende merupakan sebuah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sebelah selatan, kota itu langsung berbatasan dengan Laut Sawu dan di utara ia dibatasi Laut Flores.

Daya tarik wisata alam Ende tak kalah kuat. Ada Gunung Iya dan Danau Kelimutu di sana. Pantai Batu Biru yang membentang di bagian selatan kota itu juga tak kalah dahsyat memanjakan mata.

“Endeh, sebuah kampung nelajan telah dipilih sebagai pendjara terbuka untukku jang ditentukan oleh Gubernur Djendral sebagai tempat dimana aku akan menghabiskan sisa umurku. Kampung ini mempunjai penduduk sebanjak 5.000 kepala. Keadaannja masih terbelakang. Mereka djadi nelajan. Petani kelapa. Petani biasa” Soekarno dalam buku ‘Soekarno: Penyambung Lidah Rakyat’ karya Cindy Adams (1965).

Tetapi, sejak dulu, Ende kerap muncul bukan dengan alasan ornamen-ornamen alam yang menakjubkan itu. Ende dikenal, sebab ia menyimpan histori, kisah, yang tidak pernah selesai untuk diurai dan ditutur kembali. Yang paling mutlak berkaitan adalah sejarah lahirnya Pancasila dan sepak terjang kehidupan Soekarno.

Dalam rentang waktu 1943-1948, Soekarno diasingkan ke Ende. Di sanalah awal kisah lahirnya Pancasila yang kini menjadi asas kehidupan berbangsa. Mahakarya itu ditelurkannya dari permenungan yang panjang, dari pergulatan sosialnya dengan kehidupan rakyat setempat, dengan perjumpaannya dengan berbagai kalangan masyarakat selama pengasingan. Mahakarya itu tak lahir begitu saja.

Maka, pembicaraan tentang Pancasila sebagai sebuah paham kehidupan berbangsa kini tak bisa melepaskan Ende secara sepihak. Ende telah terintegrasi dalam keseluruhan kisah tentang Pancasila, melekat dalam setiap bait historisitas kelahiran Pancasila.

Selain sebagai fakta sejarah, Ende juga telah menampilkan wajah keindonesiaan yang cukup berkesan. Di kota itu, hidup berdampingan masyarakat dari berbagai belahan suku, agama dan ras. Soekarno, di masa pengasingannya telah menyaksikannya dari dekat. Selama di Ende, Soekarno tak hanya berjumpa dengan masyarakat Islam. Tetapi juga dengan umat Katolik.

Ia bahkan memiliki hubungan yang sangat baik dengan para pastor, imam misionaris Katolik di Ende kala itu. Ia berdialog dengan mereka, bertukar gagasan tentang model kehidupan kebangsaan.

Dari pergulatannya itulah, Soekarno memikirkan Indonesia di masa setelahnya, di masa yang kini tengah kita lewati.

“Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila,” demikian kutipan kalimat Soekarno tentang mahakaryanya, Pancasila itu.

Ende telah menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan bangsa ini. Ia berkelindan pada setiap sejarah kebangsaan yang akan ditulis, bahkan pada kehidupan berbagai generasi setelah abad ini.

Cak Imin Senang Presiden Jokowi Bentuk Unit Khusus Pembina Ideologi Pancasila

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas