logo


Pengembangan Limbah Pertanian untuk Energi Listrik Belum Bisa Dipraktikkan

Masih perlu adanya studi dan penelitian lebih lanjut terkait fotosintesis dan elektro katalisis.

29 Mei 2017 21:15 WIB

Menara saluran udara tegangan tinggi.
Menara saluran udara tegangan tinggi. Jitunews/Latiko A.D

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Limbah industri pertanian (minyak kelapa sawit dan singkong) saat ini bisa dimanfaatkan sebagai energi biogas dengan cara fermentasi anaerob.

Proses ini melibatkan bakteri methanogen untuk merombak bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah menjadi biogas serta lumpur sisa fermentasi yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk. Kegiatan dengan konsep nir limbah (zero waste) seperti ini lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Dari bioteknologi ke energi itu pengolahan limbah ya. Limbah untuk listrik. Limbah dari perkebunan dari singkong, kelapa sawit bisa jadi gas ya penggunaan biogas," kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Prof Eniya L Dewi, kepada Jitunews.com, di Jakarta Pusat, Senin (29/5/2017).


Berikut Ini Fakta Terkait Pohon Kedondong Penghasil Listrik

Meski demikian, kata Prof Eniya, limbah industri pertanian untuk listrik ini belum dapat dipakai oleh masyarakat dalam kesehariannya. Hal itu disebabkan masih diperlukannya uji coba dan penelitian lebih lanjut.

"Ini belum bisa dilakukan di lapangan ya. Masih ada studi lagi kayak fotosintesis, elektro katalisis gitu ya. Kalau teknologinya baru," ujarnya lagi.

Tak hanya limbah pertanian, ke depan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ingin menciptakan tenaga listrik terbaharukan yang lebih besar lagi. BPPT berencana akan mengembangkan baterai Nickel atau Metal Hydrid.

"Kalau yang material yang baru itu sekarang dikerjakan di pusat material untuk Metal Baterai dan Nickel Hydrid gunakan material yang baru. Jadi kalau dipakai di mobil listrik kita tidak perlu me-charge selama 20 jam atau semalam baru hidup. Jadi itu bisa diperpendek dengan perubahan material lantanum dan sebagainya," tambahnya.

Selain itu, yang terpenting, lanjut Prof Eniya, pengembangan energi listrik ini bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, khususnya di wilayah terpencil.

"Alternatif rekomendasi yang kita lakukan tadi ada masukkan dari Pertamina, juga pemanfaatannya lebih tepat guna. Untuk daerah yang sulit seperti itu memang tangan pemerintah yang harus bantu. Untuk pengganti genset tadi atau solar cell ya," tutupnya.

Prof Eniya Ungkap Pengembangan Bahan Bakar Hidrogen di Indonesia

Halaman: 
Penulis : Ferro Maulana, Nugrahenny Putri Untari