logo


Merebut Kembali Kejayaan Rempah Indonesia

Presiden Jokowi prihatin soal komoditi rempah Indonesia yang tadinya luar biasa seperti kakao dan kopi, tetapi kini produksinya masih sedikit.

24 Mei 2017 12:17 WIB

Ilustrasi rempah - rempah.
Ilustrasi rempah - rempah. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Presiden Jokowi mempersoalkan kakao dan kopi sebagai komoditas yang harganya terus naik namun Indonesia masih kurang produksi, padahal kebun dan pabriknya ada. 

Saat ini kebutuhan akan rempah terus meningkat, termasuk kacang methe, minyak asiri dan rempah-rempah lainnya.

Direktur Badan Pelaksana Dewan Rempah Indonesia (DRI), Suhiman Mulyodiharjo, mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan rempah luar biasa yang membuat bangsa-bangsa lain berdatangan jauh sebelum zaman Majapahit. Cengkeh, pala, lada, vanila dan kina adalah komoditas rempah andalan yang sayangnya kini mengalami penurunan. 


Mentan Pastikan Harga Bahan Pangan Menjelang Ramadhan Stabil

”Lada Indonesia dulu nomor satu di dunia, kini kita kalah dibandingkan Vietnam. Padahal mereka belajar menanam lada dari kita,” gugah Suhirman Mulyodiharjo.

Rempah merupakan kelompok tumbuhan yang mempunyai rasa dan aroma yang sangat kuat dan juga baik untuk pengobatan. Sebelumnya rempah juga merupakan komoditas ekspor terbesar setelah udang, ikan dan kopi. Indonesia dijajah Belanda selama 3,5 abad karena daya tarik rempah di bumi Nusantara. Jumlah komoditas rempah dan herbal di Indonesia diperkirakan sekurang-kurangnya ada 7.000 jenis dan sebagian besar belum dibudidayakan, hanya tumbuh liar di alam bebas.  

”Yang sudah dibudidayakan baru sekitar 200-an jenis atau kurang dari empat persen dari seluruh kekayaan rempah Indonesia,” tambah Suhirman.

Usulan membuat ‘Hari Rempah Indonesia’ dalam rangka merancang dan menyusun rencana untuk revitalisasi pasar rempah Indonesia dan mengembalikan kejayaan rempah -- Kantor Staf Presiden telah menggelar rapat koordinasi lintas sektor yang antara lain dihadiri oleh Dewan Rempah Indonesia, Kementerian  Perkebunan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pemerintahan Provinsi Lampung pada tanggal 17 Mei 2017 lalu. 

Pokok bahasan pada rapat koordinasi tersebut antara lain rencana penyelenggaraan perayaan merebut kembali kejayaan rempah Indonesia pada bulan Agustus 2017. Acara rencananya diselenggarakan di Lampung. 

Gamal Natsir, Ketua Dewan Rempah Indonesia, mengusulkan adanya perayaan Hari Rempah Indonesia. Indonesia pasti mampu dan memiliki potensi besar untuk bersaing dengan Vietnam. Bahkan produksi lada di Indonesia mampu melebihi Vietnam. 

Saat ini produksi lada baru mencapai 0,8 ton/ha. Produksi lada Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Seperti ditegaskan Presiden Jokowi pada acara Pekan Nasional Kontak Tani dan Nelayan (KTNA) di Banda Aceh, awal Mei lalu, bahwa banyak sekali produk rempah yang bisa ditingkatkan.

Perayaan Hari Rempah Indonesia tentu harus dirancang bukan hanya sebagai acara seremonial belaka, namun juga merupakan ajang koordinasi lintas sektor. Termasuk dengan Kemendikbud yang sangat penting peranannya untuk mendaftarkan rempah UNESCO sebagai the Unique Selling Proposition (USP). 

Sonny Wibisono, perwakilan dari Arkeolog Kemendikbud menyambut baik koordinasi yang diinisiasi Kantor Staf Presiden. 

”Kami sudah melakukan penelitian mengenai jalur rempah Indonesia. Secara historis hal ini sejalan dengan ide poros maritim ketika rempah pada zaman kolonialisme menjadi sumber komoditas utama,” jelas Sonny.

Dalam upaya merebut kembali kejayaan rempah Indonesia, DRI akan mengambil peran sesuai maksud dan tujuan pendiriannya, yaitu mensinergikan pengembangan agribisnis rempah Indonesia yang berdaya saing, berkerakyatan dan berkelanjutan agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Dengan memajukan bisnis komoditas rempah yang di masa lalu mampu menarik bangsa-bangsa lain untuk datang ke Indonesia, langkah pemerintah untuk mewujudkan kehidupan perekonomian nasional yang lebih baik dan sejahtera pun akan lebih lengkap. 

Di sisi lain, harapan untuk mewujudkan kesejahteraan petani dan pekerja rempah menjadi lebih jelas seiring kemajuan dan keunggulan agribisnis serta industri rempah Indonesia. 
Rencana mengembalikan kejayaan rempah Indonesia juga terkait dengan arahan Presiden Jokowi dalam rapat terbatas yang diselenggarakan pada tanggal 3 Februari 2017 mengenai empat jurus nation brand. Artinya, rempah Indonesia bisa menjadi salah satu unsur penting dalam mem-brand  Indonesia.

Pada ratas tersebut, Presiden menekankan bahwa Brand power Indonesia masih lemah, baik untuk perdagangan, investasi, maupun pariwisata dibandingkan negara-negara lain. Dari data yang saya peroleh di bidang perdagangan dan investasi, brand power Indonesia berada pada posisi 6,4 persen. Kalah dengan Singapura yang hampir mencapai 10 persen dan Thailand yang sedikit di atas Indonesia.” 

Dan untuk mencapai brand power, Presiden Jokowi juga menekankan perlunya dilakukan konsolidasi pada ajang-ajang promosi dan pameran di luar negeri. Sehingga lebih masif, lebih terintegrasi, dan juga memiliki dampak yang konkret, dampak yang nyata, dan betul-betul mampu bersaing dengan negara-negara lain, terutama di bidang investasi, perdagangan, dan pariwisata. 

Saifullah Yusuf Pastikan Stok Pangan untuk Jatim Aman

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,Yusran Edo Fauzi