logo


Cak Nun: Manusia Indonesia Hari Ini Bertengkar karena Kebenaran

Sebagai seorang budayawan, Cak Nun memaknai, seharusnya yang muncul dalam diri manusia kebaikan, keindahan, kemuliaan serta upaya-upaya yang agar sesama manusia Indonesia bisa saling menciptakan kenyamanan.

24 Mei 2017 03:45 WIB

Emha Ainun Nadjib bersama Kiai Kanjeng, grup musik andalannya dalam berdakwah, datang ke Gontor menghibur para santri, guru-guru, dan masyarakat, Rabu (31/8) malam
Emha Ainun Nadjib bersama Kiai Kanjeng, grup musik andalannya dalam berdakwah, datang ke Gontor menghibur para santri, guru-guru, dan masyarakat, Rabu (31/8) malam Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Bangsa Indonesia belakangan ini sedang terkena wabah saling memusuhi antar sesama. Hal itu kian kentara sepanjang gelaran Pilkada DKI Jakarta bahkan hingga selesai. Seorang budayawan sekaligus tokoh intelektual muslim Muhammad Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) memiliki pandangan tersendiri atas wabah tersebut.

Setelah lama tak tayang, Selasa, 23 Mei 2017, Indonesia Lawyer Club (ILC) kembali siar dengan mengangkat tema saatnya damai bersenandung. Dalam kesempatan tersebut, Bang Karni selaku moderator dan tim rupanya telah mewawancarai Cak Nun. Video rekaman tersebut pun diputar mewakili Cak Nun yang tak datang langsung.

Cak Nun sendiri sudah hampir tak terlihat wujudnya di sejumlah televisi nasional yang ada. Dalam ILC edisi kali ini, Cak Nun dalam opini menyampaikan bahwa bangsa Indonesia sedang terjangkit wabah pertengkaran karena 'kebenaran'. Apa maksudnya?


Emha Ainun Nadjib: Gontor Akan Menjadi Kiblat Sejati Peradaban Masa Depan

Cak Nun menjelaskan bahwa pertikaian antar kelompok yang belakangan terjadi didasari pada keegoisan masing-masing pihak yang mengklaim dirinya lah yang paling benar. Saking memprihatinkannya, kebenaran yang bermakna positif justru menjadi pemicu benturan.

Unggah Foto Veronica Tan, Djarot Kebanjiran Dukungan

"Sampailah kita pada keadaan sejarah yang mana orang benar bermusuhan dengan orang benar. Orang mempertahankan kebenarannya berbenturan dengan orang yang juga mempertahankan kebenarannya," demikian ungkap Cak Nun di awal rekaman videonya yang ditanya mengenai pandangannya melihat kondisi bangsa belakangan ini.

Acara Peluncuran Buku ‘Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok’ Dibanjiri Banyak Tokoh, Siapa Saja?

Selanjutnya, pimpinan Kiai Kanjeng itu menjelaskan kata orang yang dimaksudnya yang belakangan kerap bertikai bisa bermakna orang, partai politik, ormas dan lain sebagainya.

"Orang ini bisa orang, parpol bisa front dan lain sebagainya," ucapnya menjelaskan.

DPR Imbau Rakyat Kepung KPK untuk Ungkap Banyaknya Kasus Ahok

Untuk bisa mencapai kondisi yang sedemikian, Cak Nun menjelaskan bahwa syaratnya adalah kebijaksanaan dan kearifan terhadap lingkungan sekitar.

Waketum Gerindra: Ahok Tidak Miliki Sifat Negarawan

"Saya menemukan, mungkin saya salah, kebenaran itu tidak untuk dibawa keluar dari diri kita. Tetapi begitu yang keluar dari diri kita, yang kita bawa bukan kebenaran. Yang kita bawa adalah kebaikan, keindahan, kemuliaan dan upaya-upaya agar nyaman satu sama lain, kita dengan semua orang di sekitar kita. Jadi kebijaksanaan dan kearifan, bukan kebenaran yang kita bawa keluar," ungkapnya.

Gerindra: Jokowi Harus Insyaf dan Nyatakan Indonesia Bangkrut

"Ibarat gampangnya warung lah. Kebenaran letaknya di dapur warung itu. Nah, sekarang dapur-dapur warung itu dijadikan display utama dan masing-masing merasa benar," ucap Cak Nun melanjutkan.

Ahok Cabut Permohonan Banding, Amien Rais Nyinyir Begini…

Sebelumnya, Cak Nun seperti tidak percaya bahwa ribut-ribut antar golongan yang terjadi kali ini disebabkan akan keyakinan tentang kebenaran. Manusia yang satu dengan manusia yang lainnya saling 'gelut' atau dibenturkan karena kebenaran.

Budayawan: Ahok Lebih Berbudi Ketimbang Musuh-musuhnya

Wah, Tim Kuasa Hukum Habib Rizieq Berisi 700 Advokat

"Pertentangan antara orang yang sama-sama yakin terhadap kebenarannya, ini yang harus kita pelajari. Kok kebenaran bisa mempertengkarkan manusia," ucapnya.

Kata Budayawan NU, Kelompok Radikal Jadikan Kasus Ahok Sebagai ‘Tameng’ untuk Ini…

Halaman: 
Penulis : Riana,Syukron Fadillah