logo


Trauma Masalembo

KMP Mutiara I yang terbakar Jumat (19/5) di Perairan Masalembo adalah peristiwa berulang yang pernah terjadi pada KMP Tampomas II di tahun 1981, dengan cerita sama menyayat.

23 Mei 2017 13:36 WIB

KM Tampomas II terbakar di tengah laut.
KM Tampomas II terbakar di tengah laut. Dok. Kompas

MASALEMBO, JITUNEWS.COM -  Usai Badan SAR Nasional menemukan seluruh korban sesuai data manifes penumpang KMP (Kapal Motor Penumpang) Mutiara Sentosa I yang terbakar di area Perairan Masalembo, Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang mana rata-rata korban mengalami tekanan psikologi, yaitu syok yang berat -- hal ini membangkitkan kembali trauma kecelakaan kapal penumpang Tampomas II yang total hangus terbakar dan kemudian tenggelam di perairan yang sama, Masalembo, hingga menelan 431 korban meninggal. 

Trauma Masalembo yang sempat menghilang, lalu terungkit lagi oleh kehadiran film kisah nyata box office ”Titanic” -- sebagai tragedi dari kepongahan kapal pesiar Inggris yang pernah menjadi terbesar di dunia yang terbakar lalu tenggelam. Para penyair dunia pun mengingatkan ; peristiwa tenggelamnya Titanic menjadi teguran bahwa di laut tersimpan banyak misteri, jangan lah menjadi pongah, takabur, semua ada ukurannya.  

Penyanyi balada, Iwan Fals pun mencetak hits lagu ”Tampomas II” yang fenomenal di masa yang tak berselang jauh dari terbakarnya Tampomas II. Iwan Fals bermaksud mengingatkan pada pihak yang berwenang agar jangan lengah mengawasi jaminan keselamatan pelayaran...Korupsi telah membuat Tampomas II yang semula kapal barang menjadi kapal penumpang adalah skandal. 


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Jelang Ramadhan 2017, tragedi Tampomas II di Masalembo terulang kembali. Banyak penumpang Mutiara Sentosa I yang tidak bisa berenang, tidak punya pengalaman terjun ke laut, bingung bagaimana menjaga keselamatan anak, berebut skoci, juga seketika bingung bagaimana menyelamatkan barang berharga. 

Bisa dibayangkan bagaimana drama kepanikan penumpang KMP Mutiara Sentosa I yang juga bisa diilustrasikan kejadiannya mirip dengan terbakar dan tenggelamnya Tampomas II. 

Dokumentasi kisah tenggelamnya Tampomas II tergambar dalam Buku ”Neraka di laut Jawa : Tampomas II” yang ditulis wartawan senior, Bondan Winarno berdasarkan hasil reportase dan kesaksian oleh jurnalis SK.Sinar Harapan dan Mutiara. 

Tampomas II milik PELNI bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981 pkl 09.55 WIB menuju Ujung Pandang (kini Makassar). Seharusnya kapal berangkat 23 Januari, karena ada kerusakan mesin, pelayaran ditunda satu hari. Tampomas II merupakan kapal bekas yang pembeliannya beraroma korupsi. 

Pelayaran Tampomas II menuju Makassar membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, 85 awak kapal, 191 mobil dan 200 sepeda motor. Itu data yang sesuai manifes. Namun secara kasat mata banyak saksi menyebut ada ratusan penumpang gelap, tanpa membeli tiket, bisa menumpang dengan menyogok petugas pintu masuk kapal. 

Satu hari kapal berlayar, tepatnya 25 Januari sekitar pkl 20.00 WITA mulai terjadi kebakaran di gladak bawah. Hal ini juga terjadi pada KMP Mutiara Sentosa I yang terbakar di gladak bawah tepatnya di car deck ada sebuah mobil truk mengeluarkan api yang disemprot dengan cairan pemadam justru apinya malah merambat. Sedangkan pada kejadian di Tampomas II, api menyambar tong minyak pelumas. Api berasal dari sebuah kendaraan terparkir. 

Di anjungan kapal, Kapten Abdul Rivai, sang nahkoda Tampomas II melihat ke arah buritan yang sudah terbakar. Rivai bilang kepada awak kapal bahwa ia ingat pada Juli 1980 bagian dapur Tampomas II juga terbakar di Parairan Ujung Pandang. Rivai sebagai sangat paham kebakaran di car deck (tempat parkir mobil dan motor) sangat berbahaya karena dekat dengan kamar mesin.  

Mesin kapal bisa meledak. 

Mesin lalu dimatikan, akibatnya selang penyemprot air pemadam tidak berfungsi. Api kian ganas menyebar ke ruangan lain, bahkan sudah memakan korban sejumlah penumpang. Rivai lalu memerintahkan menyalahkan mesin kembali, agar kapal bisa berjalan menuju pulau terdekat. Tapi naas, mesin tidak berhasil menggerakkan baling-baling, karena suhu panas telah melumpuhkan fungsi mesin. Radio pun mati. Tidak bisa mengirimkan S.O.S. Kemudian alat flares yang dilontarkan ke udara tidak menyala (untuk memberi isyarat cahaya sebagai tanda bahaya, minta pertolongan) 

Api terus membesar dan menjalar ke berbagai sudut, banyak manusia terpanggang. Lalu sejumlah awak kapal dan penumpang bergotongroyong menurunkan skoci ke laut. Penumpang terjun ke laut, berebutan untuk mendapatkan tempat di skoci.   

Kebakaran itu membuat lambung kapal bocor. Air laut mulai masuk. Tampomas II berangsur-angsur miring. Akhirnya mulai tenggelam. Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan KM Tampomas II. Awak kapal, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Kapten Rivai bilang, ”Sebaiknya kita turun saja, Kep,” Kapten Rivai menjawab, ”Buat apa kita turun kalau belum semua penumpang selamat ?” 

Rivai tetap di kapal sambil memerintahkan penumpang lain untuk terjun ke laut, karena buat apa bertahan di kapal yang segera tenggelam, pasti lebih fatal. Setelah yakin semua penumpang terjun ke laut termasuk anak-anak dan bayi, baru Rivai terjun ke laut. 

Keesok harinya ketika matahari bersinar terang baru lah beberapa kapal melihat sisa Tampomas II di permukaan laut, memberikan pertolongan pada mereka yang masih bertahan berenang dan berada di skoci. Pertolongan tak bisa maksimal, karena gelombang laut yang kuat. 

Sampai akhirnya pada Selasa 27 Januari 1981 terjadi ledakan kuat dari ruang mesin. Tepat pkl 12.45 WIB atau 13.45 WITA Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya bersama 288 korban yang terjebak di dek bawah. 

Penumpang yang terdaftar 1.054 orang ditambah 82 awak kapal. Namun diperkirakan total penumpang mencapai 1.442 orang, karena mengangkut penumpang gelap. Tim SAR menemukan ada 431 orang meninggal dunia. Sedangkan yang ditemukan selamat 753 orang. 

Mahkamah Pelayaran pun digelar. Sejumlah awak kapal dijatuhi hukuman, karena dianggap lalai menjaga keselamatan sebelum keberangkatan maupun selama pelayaran. 

Menteri Perubungan saat itu, Roesmin Nurjadin dalam penjelasan pers di Departemen Perhubungan, bahwa tidak terjadi hal abnormal di ruang mesin. Sumber masalah terjadi di car deck. 

Pemerintah juga membentuk Tim Penyelidikan yang dipimpin Jaksa Bob R.E. Nasution. Hasilnya, bahwa ada tindak korupsi pidana dalam pembelian Tampomas II yang merupakan kapal bekas dari negara maju, di antaranya dalam perjanjian ditulis sebagai kapal penumpang, sebenarnya Tampomas II adalah kapal barang. 

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,Yusran Edo Fauzi