logo


Sukseskan Swasembada Gula 2019, Mentan Optimalkan Pemanfaatan Lahan Rawa

Pengembangan tebu di lahan rawa ini merupakan terobosan baru dan pertama kali dikembangkan di Indonesia.

22 Mei 2017 17:26 WIB

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman meninjau perkebunan tebu di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (22/5).
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman meninjau perkebunan tebu di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (22/5). dok. Kementan

SUMSEL, JITUNEWS.COM - Pemerintah saat ini menargetkan Indonesia akan swasembada gula hingga tahun 2019. Untuk menyukseskan program tersebut, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan), telah menerapkan sejumlah langkah strategis termasuk pamanfaatan lahan rawa.

Dalam kunjungan kerjanya di Sumatera Selatan, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, meninjau perkebunan tebu di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Senin (22/5/2017).

Dalam kunjungan ini, Mentan melakukan panen sekaligus peletakan batu pertama pembangunan pabrik gula pertama di Indonesia yang bangun di lahan rawa. Pabrik gula akan beroperasi di tahun 2019 guna meningkatkan produksi gula nasional.


Pengamat Sebut HET Gula Hanya Menguntungkan Pengusaha Besar

Amran mengatakan model pengembangan tebu di lahan rawa ini merupakan terobosan baru dan pertama kali dikembangkan di Indonesia. Dengan demikian, lahan rawa menjadi masa depan industri gula Indonesia yang ramah lingkungan.

"Sampaikan pada dunia, masa depan pergulaaan ada di lahan rawa dan ramah lingkungan," kata Amran di tengah kunjungannya.

Amran menjelaskan pengembangan tebu di lahan rawa memiliki potensi produksi yang tinggi dan biaya yang relatif rendah karena kebutuhan air mudah terpenuhi. Selain itu, pengangkutan tebu menggunakan transportasi sungai yang rendah biaya dan sedikit menghasilkan CO2 sehingga tidak merusak lingkungan.

"Total lahan rawa Indonesia mencapai 21 juta ha dan 8 hingga 10 juta ha yang sudah bisa digarap atau ditanami tebu. Indonesia dapat dioptimalkan 1 hingga 4 juta ha saja dapat terlepas dari impor bahkan melakukan ekspor," ungkapnya.

Amran mengungkapkan sampai saat ini terdapat 4 pabrik gula yang sudah berjalan dan 7 pabrik sedang dibangun sehingga totalnya terdapat 11 pabrik gula di Indonesia. Menurutnya, jika semua pabrik gula ini bergerak atau optimal produksi gula, maka di tahun 2019 untuk gula putih (white sugar) bisa swasembada. Sementara gula rafinasi paling lambat swasembada dapat diwujudkan 5 tahun ke depan dari sekarang.

"Kami fokus mendorong tebu. Kami dorong investasi di bidang gula. Sudah ada 4 pabrik gula yang jalan. Kalau ini bergerak semuanya, tidak ada lagi cerita impor," ungkapnya.

Amran menyebutkan Kebutuhan gula putih Indonesia mencapai 2,7 juta/tahun atau 225 ribu ton lebih/bulan. Kemudian kebutuhan gula rafinasi untuk industri 3 juta ton/tahun sehingga total kebutuhan mencapai 5,7 ton/tahun. Sementara itu, produksi nasional bergerak 2,2 sampai 2,6 juta/tahun.

"Untuk itu, dengan adanya pemanfaatan lahan rawa untuk tanam tebu, produksi gula dalam negeri akan meningkat dan impor semakin berkurang bahkan kita setop impor. Kita bisa lakukan ekspor," tegasnya.

Lebih lanjut, Amran menekankan pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan produksi melalui pengembangan pabrik gula. Akan tetapi, meningkatkan juga pendapatan petani dengan menjaga stabilitas harga jual tebu.

"Pabrik kita bangun, kami pun tetap jaga harga tebu petani sehingga pendapatan petani meningkat. Harga tebu petani telah diatur oleh Harga Patokan Perintah, sehingga pengembangan pabrik gula merupakan upaya untuk memotong rantai pasok agar harga gula di pasaran stabil," tukasnya.

Kementan Upayakan Peningkatan Harmonisasi Regulasi

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Nugrahenny Putri Untari