logo


Memasyarakatkan Penerapan Teknologi Budidaya Bioflok, KKP Kenalkan Lele Bioflok ke Lingkungan Pondok Pesantren

Pondok pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk pengembangan usaha

18 Mei 2017 18:25 WIB

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto. JITUNEWS/Latiko A.D

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Terkait dengan pengembangan lele bioflok ini, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya juga akan melirik lingkungan pondok pesantren sebagai sasaran pengembangan teknologi yaitu melalui program “Bioflok Masuk Pesantren”.

Slamet menyampaikan, pondok pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk  pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat, sebagaimana pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

“Kita punya tanggung jawab moral untuk membangun pesantren, bukan hanya secara ekonomi saja, namun juga bagaimana turut serta dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada. Dengan mulai memperkenalkan ikan sebagai sumber pangan bagi mereka,  kita ingin generasi muda di lingkungan pondok pesantren lebih cerdas dengan mulai membiasakan mengkonsumsi ikan”, demikian kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP), Slamet Soebjakto di Jakarta, Rabu(17/5).

Slamet menambahkan, tahun ini KKP akan mengalokasikan dukungan sebanyak 103 paket, dengan rincian 71 paket dari pusat dan 32 paket dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang akan diberikan terhadap 73 pondok pesantren, 12 kelompok pembudidaya dan 2 lembaga pendidikan yang tersebar di 16 Propinsi termasuk diantaranya adalah wilayah perbatasan yaitu Propinsi NTT(Kab. Belu), Propinsi Papua (Kab. Sarmi dan Wamena), Propinsi Kalimantan Utara (Kab. Nunukan).

Total dukungan tersebut Masing-masing dukungan tersebut terdiri dari 12 kolam dengan diameter 3 m, benih lele, pakan dan obat ikan, probiotik, dan sarana operasional. Dimana akhir bulan ini ditargetkan akan direalisasikan.

Khusus dukungan pada pondok pesantren, Slamet berharap akan dapat memberdayakan setidaknya sekitar 78.500 orang santri.

Salah satu pesantren yang telah menerapkan teknologi ini adalah pesantren Andalusia di Kabupaten Banjarnegara dan saat ini telah menjadi model rujukan bagi kalangan masyarakat di Banjarnegara maupun di daerah lain.

“Tentunya ini menjadi salah satu poin positif untuk memicu keberhasilan yang sama di daerah lain. Kedepan seiring berjalannya usaha ini, di setiap pondok pesantren diharapkan akan terfasilitasi pembentukan kelembagaan penunjang semisal koperasi, dengan begitu usaha akan berkesinambungan”, tambah Slamet.

Untuk itu, KKP juga akan menggandeng pihak lain seperti Perguruan Tinggi, LSM, maupun lembaga lain untuk turut serta melakukan pembinaan dan pendampingan teknologi, sehingga usaha akan berkesinambungan. KKP juga berencana untuk menggandeng organisasi kegamaan dalam hal ini PP Muhamadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), untuk bekerjasama dalam program pengembangan lele bioflok ini. “Dua organisisasi keagamaan terbesar di negeri ini diharapkan akan menjadi motor khususnya dalam penguatan kelembagaan dan manajemen usahanya”, Pungkas Slamet.

Viva Yoga: Pemerintah Harus Menjamin Pasokan Pangan Cukup Selama Bulan Ramadhan

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Marselinus Gunas