logo


EOR Butuh Implementasi

Pemerintah terus mendukung semua pihak dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi minyak dan gas bumi di Indonesia. Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dinilai sebagai jawaban guna menempuh langkah tersebut.

13 Mei 2017 17:30 WIB

Archandra Tahar usai memberikan ceramah di Masjid Agung Al Azhar, Selasa (16/8)
Archandra Tahar usai memberikan ceramah di Masjid Agung Al Azhar, Selasa (16/8) suara.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah terus mendukung semua pihak dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi minyak dan gas bumi di Indonesia. Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dinilai sebagai jawaban guna menempuh langkah tersebut.

"Teknologi EOR sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980an", demikian disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar saat mengisi seminar tentang EOR di SKK Migas, Rabu (10/5). Namun, masih banyak Kontraktor Kerja Sama (KKKS) yang belum menerapkan teknologi EOR dalam mengeksplorasi lapangan minyaknya.

"Padahal, kita punya potensi minyak yang cukup besar 4,6 miliar barel", jelas Arcandra seperti dikutip dari situs Kementerian ESDM. Pemerintah pun terus mendorong semua pihak untuk terus meningkatkan produksi minyak, salah satunya melalui EOR.


IPA: Investasi Hulu Migas Menurun Tajam, Karena....

Arcandra menambahkan, terkait potensi minyak yang besar tersebut, harus dibuat roadmap EOR yang detail. Untuk itu, kita boleh saja mengundang ahli-ahli EOR dr luar negeri.

Saat ini ada tiga lapangan minyak dengan teknologi EOR, yaitu: Kaji Semoga (Medco), Minas (Chevron), dan Pertamina EP. Arcandra menyampaikan harapannya agar EOR menjadi pertimbangan bagi KKKS untuk meningkatkan produksi minyak.

"EOR jangan berhenti di paper saja. Jangan diteliti terus, tapi juga diimplementasikan," tutup Arcandra.

Urus Izin Hulu Migas, DPR Minta KLHK-ESDM Bersinergi

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan