logo


Pemerintah Fokus Penuhi Target Kebutuhan Nikel Dunia

Indonesia memiliki 32 titik proyek pemurnian dan pengolahan nikel yang tersebar di beberapa kawasan industri.

12 Mei 2017 00:00 WIB

Seorang pekerja sedang meratakan biji nikel di pertambangan milik Aneka Tambang di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
Seorang pekerja sedang meratakan biji nikel di pertambangan milik Aneka Tambang di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. REUTERS/Yusuf Ahmad

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Industri pertambangan yang ada di Indonesia saat ini, khususnya untuk pabrik pemurnian (smelter) terus dikembangkan agar dapat meningkatkan nilai tambah hasil tambang. Dalam hal ini, pemerintah akan fokus untuk pengembangan smelter berbasis biji nikel dan stainless steel di kawasan Indonesia Timur.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, sangat optimis Indonesia mampu memproduksi nikel sebanyak empat juga ton pada tahun 2020 mendatang. Terlebih, Indonesia memiliki 32 titik proyek pemurnian dan pengolahan nikel yang tersebar di beberapa kawasan industri.

"Angka ini mencerminkan kontribusi sebesar 10 persen untuk memenuhi kebutuhan dunia yang mencapai 40 juta ton per tahun. Kita punya 32 titik proyek pemurnian dan pengolahan nikel, jadi kami optimis," ujar Putu, di Jakarta, Kamis (11/5).


LIPI: Bijih Besi Nikel Laterit, Solusi Kebutuhan Baja Dalam Negeri

Dilanjutkan Putu, beberapa kawasan industri tersebut antara lain di Konawe, Kolaka, Pulau Obi, Halmahera dan Morowali. Untuk di Morowali, kawasan ini ditargetkan akan menarik investasi sebesar 6 miliar dolar as atau setara dengan Rp 78 triliun. Di lahan seluas 2.000 hektar ini mampu menyerap 20 ribu tenaga kerja langsung dan 80 ribu tenaga kerja tidak langsung.

Untuk di kawasan industri Konawe juga diprediksi akan mampu menarik investasi sebesar Rp 28 triliun dengan Virtue Dragon Nickel Industry sebagai investor yang mampu menarik 18 ribu tenaga kerja.

Sedangkan, untuk kawasan industri Bantaeng yang memiliki luas 3.000 hektare diperkirakan akan mampu menarik minat investasi sebesar USD 5 miliar atau setara dengan Rp 55 triliun, yang mana Harbour Group sebagai investornya.

Menurut Putu, selain mampu mendorong sektor perekonomian nasional, dengan berkembangnya industri smelter dalam negeri diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

"Untuk itu diperlukan kemitraan yang strategis diantara pemangku kepentingan untuk membawa kemajuan bersama. Interaksi ini mulai dari para pelaku industri, tenaga kerja, hingga pemerintah, terangnya.

Sebagai informasi, saat ini, pemasok terbanyak nikel untuk kebutuhan dunia adalah China yang juga sebagai pengimpor ore maupun bahan setengah jadi dari negara lain, termasuk Indonesia.

Progres Smelter Nikel 30%, Dirjen Minerba: Smelter Lain Lambat

Halaman: 
Penulis : Garry Talentedo Kesawa, Riana
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex