logo


Kata Fahri Hamzah Soal Teori ‘Jendela Pecah’

Dikatakan Fahri, serangkaian teror tersebut bisa saja dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab untuk memancing kekacauan di negeri in

5 Mei 2017 02:30 WIB

Fahri Hamzah.
Fahri Hamzah. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, mendesak Polri untuk mengusut tuntas aksi teror yang belakangan ini terjadi di Tanah Air. Yang terbaru, sebagaimana kita ketahui, teror menimpa politisi PKS, Jazuli Juwaini, rumah kediamannya di kawasan Ciputat Tangerang Selatan, Banten, ditembak orang tidak dikenal.

Dikatakan Fahri, serangkaian teror tersebut bisa saja dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab untuk memancing kekacauan di negeri ini. Kata Fahri, jika teror dibiarkan tanpa terungkap pelakunya maka akan terjadi gejala seperti yang dikenal dalam broken window theory atau teori jendela pecah.

"Mungkin ada pihak yang ingin mengadu domba kita. Itu yang saya bilang kepada polisi, ini namanya teori the broken window," kata Fahri di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/5).


Fahri Hamzah Ngetweet Soal Hak Angket KPK, Warganet : Situ Takut KPK

Sebagai informasi, teori jendela pecah ini diperkenalkan pertama kali oleh ilmuwan sosial James Q. Wilson dan George L. Kelling pada bulan Maret 1982 melalui artikel di majalah The Atlantic Monthly. Teori ini mengasumsikan, apabila kejahatan ataupun ketidakteraturan dalam skala kecil dibiarkan tanpa ditindaklanjuti, maka akan lebih banyak orang melakukan hal yang sama dan bahkan menyebabkan terjadinya kejahatan dalam skala yang lebih besar.

Lebih jauh, Fahri meminta keseriusan Kepolisian untuk mengusut kasus-kasus teror seperti ini dengan menemukan siapa pelakunya. Ia berharap akan timbul efek jera sehingga tidak terulang lagi peristiwa yang sama.

"Polisi harus menunjukkan wibawanya. Bahwa Anda bocorkan jendela orang pun Anda saya kejar, Anda akan saya bawa ke proses hukum. Itu akan membuat sinyal pada yang lain, di negara ini tidak boleh ada kejahatan," tegas politisi PKS ini.

Fahri Hamzah Dilaporkan ke KPK Lantaran Dianggap Menghalangi Tugas KPK

Halaman: 
Penulis : Riana