logo


Jajal Pasar Offline, Gebrakan Baru Berrybenka di Tahun 2017

Toko offline Berrybenka memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi ruangan, pengalaman hingga layanan.

30 April 2017 19:53 WIB

Jitunews/Riana

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Industri e-commerce di Indonesia kini sedang booming. Tak pelak, iklim persaingan di industri ini pun sangat sengit. Di satu sisi banyak pendatang baru yang bermunculan, dan di sisi lain tidak sedikit start up teknologi ini yang tumbang.

Khusus di kategori e-commerce fesyen, selain menjadi pioner, nama Berrybenka menjadi satu e-commerce  fesyen yang tetap bertahan hingga sekarang. Dan, tak hanya ingin sekedar bertahan, perusahaan besutan Jason Lamuda ini ternyata hadir dengan gebrakan baru. Apa?

"Sebagai bentuk komitmen kami untuk terus memuaskan pelanggan, mulai 2016 lalu, Berrybenka menjalankan strategi dari online ke offline atau O2O. Strategi O2O ini digarap melalui beberapa lini yaitu aktivasi offline seperti Pop Up Store (toko offline Berrybenka), memaksimalkan potensi mobile commerce, hingga seperti sekarang ini yakni membuka permanent store di mal,” ungkap Jason saat meresmikan permanent store Berrybenka di Pondok Indah Mal, North Skywalk Lantai 1 unit N104, Jakarta Selatan, Sabtu (29/4) kemarin.


Rayakan Ulang Tahun, Berrybenka Luncurkan 'The Triple A Series'

Jason Lamuda, CEO Berrybenka (Foto: Jitunews/Riana)

Di hadapan awak media Jason mengatakan, dengan dibukanya gerai Berrybenka permanen pertamanya di Pulau Jawa ini, pihaknya berharap kombinasi antara penjualan online dan penjualan offline perusahaannya pun akan lebih meningkat.

“Dengan dibukanya toko permanen ini tentunya diharapkan bisa menarik lebih banyak pengguna baru Berrybenka,” tukas Jason.

Menyoal istimewaan permanent store-nya sendiri, Jason berujar bahwa toko offline Berrybenka ini memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi ruangan, pengalaman hingga layanan.

Dikatakan Jason, toko offline Berrybenka ini menerapkan beberapa fitur guna memberikan pengalaman belanja pada pelanggannya. Fitur tersebut antara lain adalah ‘Retur di Toko’, dimana pelanggan dapat mengembalikan barang yang telah dibeli secara online dengan hanya membawanya ke Pop Up Store dan juga ‘COD di Toko’ yang memungkinkan pelanggan untuk memilih produk-produk yang diinginkan melalui website berrybenka.com dan mengirimkannya ke Pop-Up Store tanpa harus membayar terlebih dahulu.

“Di toko ini, pembeli bisa mencoba langsung produk yang diinginkannya hingga jika pembeli ingin melakukan penukaran barang pun dia bisa langsung datang dan menitipkan barangnya. Demikian juga jika pembeli yang datang langsung kesulitan menemukan produk yang diinginkan di situs kami, dia bisa mengambil langsung produknya setelah staf kami mengambilnya dari warehouse Berrybenka,” tukas Jason.

Selain itu, Jason juga menjelaskan alasan mengapa Berrybenka cukup gencar untuk membuka banyak gerai offline sepanjang tahun 2017 ini.

“Menurut data penjualan kami, pembukaan Pop Up Store Berrybenka di suatu kota akan meningkatkan penjualan dan jumlah pelanggan kami baik di ranah offline maupun online di kota tersebut. Secara rata-rata, setelah 6 bulan dibukanya Pop Up Store, penjualan online kami kan meningkat hampir 2 kali lipat,” beber Jason.

Sementara itu, lanjut Jason, salah satu faktor yang ia pertimbangkan ketika hendak membuka toko offline ini tentunya adalah berkaitan dengan ‘level’ dari mal itu sendiri dan ramai tidaknya pengunjung ke mal tersebut.

Straight to point, ketika kita hendak membuka toko offline, yang pertama kita lihat itu mal-mal yang segmented, rame apa gak pengunjung yang datang, dari situ kita juga melihat toko-toko ‘saingan’ kita atau toko yang mirip dengan kita itu ada di mall mana,” beber Jason.

Kemudian, saat disinggung mengenai target Berrybenka di tahun 2017 ini, Jason pun menjawab, “Di tahun 2017 ini, tentunya kita akan targetkan membuka 10-15 Pop Up Store dan 8-10 permanent store. Kita juga akan menguatkan pelayanan dari menghadirkan personal shoper, yang tentunya tidak semua e-commerce maen di sini. Tak hanya itu, kita juga akan lebih terus menambah varian produk, dan terus memperkuat omni channel. Karena seperti kita tahu sendiri, ‘kue’ di dunia offline ini masih besar, sekitar 97% market offline jauh lebih besar, nilai transaksinya juga lebih besar,” tutur Jason.

Ditambahkan Jason, secara keseluruhan tahun 2016 kemarin merupakan tahun dimana Berrybenka melakukan uji coba untuk beberapa inovasi. Mulai dari Pop up Store hingga private label. Untuk private label sendiri tahun 2017 ini akan semakin dikembangkan melihat pertumbuhan sebelumnya, kata dia, mencapai di atas 50% dari total penjualan private label Berrybenka.

“Dari sisi traffic mobile web dan aplikasi menjadi penyumbang terbesar untuk Berrybenka, dengan 65% traffic yang datang dari mobile web dan aplikasi serta menyumbang sekitar 50% untuk penjualan. Kami optimis tahun 2017 ini dengan beragam layanan dan inovasi yang ada bakal meningkat jumlahnya,” tutup Jason.

 

 

 

Berrybenka, Ritel Fesyen Terbesar di Indonesia Buka Permanent Store di PIM Jakarta

Halaman: 
Penulis : Riana