logo


Orang Moeda Recycle Tawarkan Pengelolaan Sampah Berkonsep ‘Green Jakarta’

Peningkatan jumlah sampah di Jakarta tak terlepas dari masih minimnya kesadaran masyarakat untuk mewujudkan kebersihan lingkungan sekitar.

30 April 2017 04:00 WIB

Sejumlah sampah botol plastik yang telah didaur di Gudang Orang Moeda Recycle, Jakarta
Sejumlah sampah botol plastik yang telah didaur di Gudang Orang Moeda Recycle, Jakarta Dok. Orang Moeda Recycle

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Penyebaran sampah di wilayah DKI Jakarta tak terhindarkan. Produksi sampah per hari di Jakarta terus meningkat, baik sampah yang bersumber dari rumah tangga, pabrik atau perusahaan, dan sampah alam. Per hari, Jakarta menghasilkan 6.500 -7.000 ton sampah. Setiap tahun, jumlah sampah di Jakarta terus meningkat.

Peningkatan jumlah sampah di Jakarta tak terlepas dari masih minimnya kesadaran masyarakat untuk mewujudkan kebersihan lingkungan sekitar. Selain itu, aktivitas berbagai jenis usaha yang tak mengindahkan kepentingan lingkungan juga menjadi salah satu faktor yang turut memicu.

Di tengah situasi itu, konsep pengelolaan sampah melalui Bank Sampah hadir untuk meredam penyebaran sampah sekaligus mengolah sampah menjadi material baru yang bermanfaat. Lebih jauh, konsep Bank Sampah juga menjadi salah satu solusi perwujudan lingkungan yang hijau, bebas sampah, dan asri.


Juarai Trofeo Bhayangkara 2017, Arema : Pertandingan Sesuai Dengan Harapan

Cikal bakal lahirnya bank sampah didorong oleh konsep Material Recovery Facility (MRF). Di Jakarta, konsep itu terlihat dalam pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), yang kebanyakan dikelola oleh pemerintah. MRF memungkinkan adanya pemulihan sampah yang telah dipilah di sumbernya, pemisahan dan pengolahan langsung komponen sampah dan peningkatan mutu produk recovery.

Orang Moeda Recycle (OMR) Jakarta Timur lahir dari semangat itu. Perusahaan pengolahan sampah plastik yang berlokasi di Radjiman, Pulo Gadung, Jakarta Timur itu adalah sebuah model penerapan konsep usaha pemulihan (recovery) material sampah botol plastik yang ramah lingkungan.

OMR berdiri pada Desember 2015. Komisaris Utama PT Orang Moeda Recylce, Ricardo, menuturkan perusahaan itu awalnya bergerak sebagai pengepul sampah botol plastik di Jakarta Timur. Selain mengepul botol plastik, perusahaan itu juga melakukan penyortiran terhadap jenis sampah botol plastik yang ada di wilayah Jakarta Timur, baik yang berasal dari sampah rumah tangga maupun dari unit usaha tertentu.

Semangat itu lahir dari keprihatinan Ricardo dan seorang temannya, Hasan Suroko, terhadap fenomena penanganan sampah di sekitar wilayah DKI Jakarta, khususnya Jakarta Timur yang dinilainya masih belum optimal dan profesional.

"Visi sebenarnya itu saya mau menciptakan fasilitas MRF (Material Recovery Facility) khususnya di Jakarta Timur," ucap Ricardo di Kantornya di sekitar Kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, pekan lalu.

Ricardo pernah bekerja di luar negeri, di sebuah perusahaan multinasional. Menurutnya, banyak negara maju yang sukses dalam pengelolaan sampah karena menggunakan konsep MRF.

"Waktu saya di Jepang dulu, sampah-sampah dari rumah tangga itu memang sudah dipilah-pilah, memang sudah disortir (oleh MRF). Awalnya sama seperti kita. Sortirnya juga manual. Setelah disortir di situ, baru ke tempat penampungan akhir," terang Ricardo.

"Kata kuncinya recovery," tambahnya.

Konsep itu menurutnya ideal. MRF membantu mencegah dampak negatif sampah rumah tangga, termasuk dari unit usaha tertentu, terhadap lingkungan. Ia pun berkeinginan untuk menerapkan konsep pengelolaan berbasis MRF di Jakarta, khususnya di Jakarta Timur, tempat kelahirannya. Namun, menurutnya sejumlah kendala silih berganti dihadapinya.

"Saya mau membuat MRF. Namun ada banyak kendala yang saya hadapi. Salah satunya dibutuhkannya suatu lahan yang luas. Di samping itu, saat ini pemerintah Jakarta juga sudah menetapkan peruntukan lahan untuk setiap daerah. Misalnya, zona perumahan tidak boleh dijadikan untuk lahan pergudangan. Jadi, untuk saat ini kita akan memanfaatkan lahan pribadi kami yang ada terlebih dahulu, tetapi tentu dengan visi MRF sebagai visi utamanya," lanjut Ricardo

Sejumlah kendala yang dihadapinya juga membuat Ricardo dan Hasan membatasi ruang gerak bisnisnya. Misi menjadi MRF bagi semua jenis sampah plastik, diubah menjadi mini MRF sampah botol plastik. 

"Untuk tahun ini kami akan lebih fokus untuk MRF khusus botol plastik. Alasan mengapa kita fokuskan ke botol plastik terlebih dahulu adalah karena botol plastik secara kuantiti lebih banyak dibandingkan dengan jenis sampah yang lain. Botol plastik juga merupakan penyumbang limbah kedua terbesar setelah kantong kresek," ungkapnya menambahkan.

Setelah beroperasi, Ricardo mengaku mendapat sambutan yang positif dari masyarakat Jakarta, khususnya Jakarta Timur. Hal itu terbukti dari jumlah sampah botol plastik yang diterimanya dari area Jakarta Timur yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Selain itu, para pengepul yang ada di sekitar wilayah Jakarta juga tertarik untuk menjadi penyuplai sampah botol plastik kepada OMR. Ricardo menilai, hal itu lebih disebabkan oleh pelayanan (service) dan manajemen penerimaan material dari tangan pengepul.

Tak hanya para pengepul. Beberapa bank sampah yang telah lama beroperasi di Jakarta juga mengapresiasi konsep pengelolaan sampah botol plastik yang diterapkan OMR. Lebih dari 20 bank sampah di Jakarta telah menjalin kerja sama dengan OMR. Kerja antara OMR dan puluhan bank sampah itu, kata Ricardo, tak hanya berkaitan dengan urusan penyuplaian material sampah. Tetapi juga berkaitan erat dengan visi penciptaan kesadaran Jakarta bebas sampah.

"Green Jakarta oriented," ucap Ricardo.

"Ada beberapa tahap atau proses yang kita lakukan di MRF kami. Singkatnya, dari material yang dikirim oleh para supplier ke gudang kami, akan ditimbang kemudian disortir berdasarkan standard kami, kemudian di press, di pack dan dikirim ke pelanggan kita yaitu pabrik-pabrik pengolahan sampah plastik," terang Ricardo.

Penyortiran sampah botol plastik dilakukan selama tiga hari. Hal itu, menurut Ricardo adalah waktu yang maksimal bagi perusahaannya melakukan tahapan recovery sebelum pengiriman.

Fokus OMR kini adalah menjadi satu-satunya MRF profesional dan peduli lingkungan. OMR, menurut Ricardo, selalu berupaya menjalankan cara kerja yang tak hanya dapat menjawab tuntutan pengolahan sampah yang ideal, tetapi juga dapat berkontribusi bagi penciptaan lingkungan, baik Jakarta Timur, maupun DKI Jakarta pada umumnya.

"Lingkungan harus tetap asri dan bebas sampah. Itu komitmen kami. Jakarta harus bebas sampah, khususnya sampah botol plastik," ujarnya.

Konsistensi terhadap visi mewujudkan Jakarta bebas sampah, lanjut Ricardo, terwujud melalui kebijakan OMR terhadap komunitas peduli lingkungan di Jakarta. Kebijakan itu berupa modal yang disiapkan OMR bagi komunitas-komunitas penyuplai material yang mengalami kendala modal dalam usaha pengepulan material.

"Sistemnya memang demikian. Kami komit dengan sistem itu," kata Ricardo.

Bagi karyawan, lanjut Ricardo, OMR juga memberlakukan standar operasional MRF yang profesional. Karyawan OMR dilengkapi dengan fasilitas masker dan sarung tangan serta safety shoe.

Ditambah dengan memberikan edukasi kepada para karyawan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengolahan sampah untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Dengan harapan para karyawan bisa mempraktekkannya mulai dari lingkungan rumah mereka sendiri.

"Menciptakan Jakarta yang lebih bersih dan nyaman merupakan tujuan saya. Mudah-mudahan semakin banyak orang yang lebih sadar lingkungan dan akan pentingnya pengolahaan sampah. Mari kita mulai dari diri kita sendiri," tutupnya.

Yuk, Ikutan Kuis Silver Queen Share Your Love!

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah,Marselinus Gunas