logo


Partai Pendukung Tak Solid Pilih Ahok

Manuver politik parpol yang selama ini hanya peduli atas asa berkuasa rupanya perlahan dimengerti oleh masyarakat yang dewasa ini melek politik.

23 April 2017 08:30 WIB

Eep Saefulloh.
Eep Saefulloh. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pendukung dari partai-partai politik pengusung pasangan Ahok-Djarot rupanya trennya bersikap terbalik dengan sikap parpol. Ini pulalah yang membuat pasangan nomor urut dua terkapar di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.

Sebagai contoh, konsultan politik Anies-Sandi, Eep Saefullah mengatakan, hanya sebesar 54 persen saja suara pendukung Partai NasDem yang memberikan suaranya untukAhok-Djarot. Sedangkan hal berbeda justru terlihat dari para pendukung PDIP yang tampak solid dengan menggunakna hak suaranya hingga 90 persen untuk pasangan petahana tersebut. Meskipun, 10 persen lainnya beralih ke Anies-Sandi.

"Nasdem yang jadi tulang punggung ternyata pemilihnya dibawah 60 persen, 54 persen yang didukung pemilihnya. Salah satu partai yang 90 persen
pendukungnya memilih Ahok hanya PDIP. sisanya pemilih mendukung Anies-Sandi," demikian sahut Eep di Cikin, Jakarta Pusat, Sabtu (24/4) dalam sebuah diskusi.


Eep Tegaskan, Anies-Sandi Menang Bukan Karena Isu Primordial

Dukungan PKB dan PPP menjelang masa pencoblosan juga demikian. Partai politik bernafaskan Islam itu tadinya diharapkan sanggup meraup suara kalangan muslim Jakarta. Tapi nyatanya 70 persen pendukung PKB dan PPP justru memilih Anies-Sandiaga.

"Ketika PKB dan PPP dengan label warna tertentu di putaran kedua mendukung Ahok, hukuman terbesar bukan dari presiden. Vonis terberat dari pemilih mereka sendiri, 70 persen pemilih mereka memilih paslon yang tidak didukung partainya," terangnya.

Kondisi ini dikarenakan karakter pemilih di Indonesia cenderung otonom dan tidak ingin terikat pada keputusan partai politik.

"Resko elektoral sangat serius, pemilih Indonesia semakin otonom, mereka tidak menganggap dirinya tidak terikat dengan partai, mereka senang hati
tidak terikat. 2017 momentum penting bagi semua pihak, termasuk partai, mereka berbasis kepada rakyat, bukan sebagai organisasi yang mengambang,"
ungkap Eep.

Sikap pemilih partai yang tak tunduk dengan sikap parpol dimaknai Eep sebagai ancaman serius bagi partai politik. Manuver politik parpol yang selama ini hanya peduli atas asa berkuasa rupanya perlahan dimengerti oleh masyarakat yang dewasa ini melek politik.

"Ini jadi alarm keras pengurus partai, political marketing bukan alat bertransaksi, tapi siasat, dan alat untuk bersiasat mengefektifkan semua perlengkapan, resoucrces. Kalau partai tidak memahami fenomena ini mereka tidak akan menang di Jakarta," pungkasnya.

Sembako Ahok Ternyata Jadi Rezeki Kemenangan Anies-Sandi

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah